Cerpen

Bacaan Al-Fatihah Si Tolhah

Ahad, 19 April 2026 | 18:00 WIB

Bacaan Al-Fatihah Si Tolhah

Ilustrasi (Meta AI)

Tolhah sudah mondok di Pesantren Mafatihul Ghayb hampir empat bulan. Jauh panggang dari api, harapannya bisa terbang sebagaimana Kiai Munif sejauh ini hanya ilusi. Jangankan terbang, bocah itu bahkan belum lulus ujian membaca Surat Al-Fatihah.  Ia hampir putus asa untuk memenuhi standar kefasihan Kiai Amin.


Tokek penghuni atap masjid pondok tentu terkekeh ketika menyaksikan momen pertama kali Tolhah mengaji pada Kiai Amin. Pada suatu bakda Maghrib, Tolhah bahkan sudah salah ketika ia merapal huruf kedua lafaz ta’awuz, ‘ain. Sebagaimana orang daerahnya kebanyakan, Tolhah merapal huruf ‘ain dengan bunyi ‘Nga,’ sama persis bunyi “-nga” pada penyebutan “singa.”


"aNGU…" rapal Tolhah keras-keras.


Bacaan Tolhah yang baru sampai di huruf kedua disambut ayunan tongkat yang mendarat telak di paha bocah berambut keriting itu. Tolhah mengulanginya. Masih berbunyi “nga." Ia mencoba lagi sekali, hasilnya sama. Dua kali mencoba, hasilnya sama. Tiga kali, sama saja. Empat dan seterusnya, masih sama. Tolhah baru bisa menyebut ‘ain dengan standar Kiai Amin pada pertemuan keenam.


Ia kembali tersendat kala mengucapkan huruf dzal, huruf ketiga bacaan ta’awudz. Ia terus mengucapkan dzal berharakat dlommah dengan ‘ndlu.’ Pada huruf ketiga ta’awudz ini, ia bisa melafalkannya dengan standar Kiai Amin pada pertemuan kelima. Tolhah sampai ke level malas mengaji karena perkembangan bacaan Al-Fatihah-nya yang lambat. Bahkan, ia sering kali bolos ngaji karena masalah ini. 


Namun di pertemuan petang itu, Tolhah berubah. Ia gasang di posisi pertama. Raut wajahnya menyiratkan optimisme. Ia tak berhenti tersenyum kala teman-teman sepengajiannya merapal doa sebelum belajar. Pemandangan ini mencuri perhatian Kiai Amin.


“Tumben, Kok gasang di posisi pertama. Sudah bisa baca Al-Fatihah dengan benar?” tanya Kiai Amin.


“Alhamdulillah, Kiai. Bahkan, inyong melakukan dengan jauh lebih baik," jawab Tolhah dengan diksi yang sebenarnya kurang sopan. Ia begitu antusias hingga lupa tata krama ketika mengobrol dengan orang yang lebih tua.


**

 

Para santri Mafatihul Ghayb tak pernah dimintai bayaran sepeser pun. Untuk makan, mereka mengandalkan kiriman dari orang tua dan pemberian dari Kiai Amin.


Sebagai ucapan terima kasih, ada tradisi membantu keluarga Kiai Amin dalam mengurus sawah dan memproses nira pohon kelapa secara sukarela. 


Tolhah dan adiknya, meski masih bocah dan tak pernah diminta bekerja, tak mau berpangku tangan. Mereka sebisa mungkin menjadikan diri mereka punya daya guna. Kedua bocah itu memposikan diri sebagai pembantu umum. Artinya, mereka akan melakukan apa pun pekerjaan yang ada selagi mereka mampu dan tidak dilarang Kiai Amin.


Matari sebentar lagi di atas ubun-ubun kala Tolhah dan adiknya diminta Bu Nyai Marpungah, istri Kiai Amin, untuk mengantarkan rantang berisi makanan untuk kakang-kakang santri yang tengah mengurus sawah Kiai Amin. Kakak beradik itu langsung bertolak ke sawah kendati cuaca sedang panas-panasnya.


Tolhah dan adiknya berjalan menyusuri jalanan yang kanan kirinya adalah kebun. Sesekali,, mereka mendapati rumah warga di antara rimbunnya kebun. Saat Tolhah dan adiknya melewati sebuah rumah kayu bercat cokelat, mereka dikagetkan oleh suara teriakan seorang perempuan.


Mereka pun menoleh ke rumah yang baru saja mereka lewati. Belum terjawab keheranan mereka setelah mendengar teriakan seorang perempuan, tiba-tiba muncul seorang lelaki paruh baya yang bertelanjang dada. Ia mencondongkan badan ke arah depan. Ia seperti sedang menirukan tingkah laku banteng dalam pertunjukkan matador.


Si pria itu menoleh ke arah Tolhah dan adiknya. Ia sejenak mendengus sebelum kemudian berlari ke arah mereka. Ia berlari menuju arah Tolhah dan adiknya. Beruntung, Tolhah dan adiknya berhasil menghindar. Si lelaki aneh itu menanduk angin. Ia terus berlari ke arah yang akan Tolhah dan adiknya tuju.


Tolhah dan adiknya diliputi kebingungan tentang apa yang terjadi. Keduanya bergeming hingga datang seorang perempuan yang kira-kira seumuran lelaki ‘banteng’ tadi. Perempuan itu memakai daster lengan pendek dan berkerudung. Ia membawa gelas berisi air putih.


"Kalian pasti santri-santrinya Kiai Amin. Inyong sering melihat kalian di pengajian Rebo-wagean,” ucap perempuan itu tiba-tiba merujuk pada pengajian bulanan untuk ibu-ibu di pondok Kiai Amin.


Tolhah dan adiknya hanya diam. Mereka masih bingung. Perempuan itu sepertinya mafhum dengan kebingungan Tolhah.


“Pria yang tadi berusaha menyeruduk kalian adalah suamiku. Ia baru saja membantu panen buah manggis di kebun bosnya. Ketika sedang masak, saya mendengar suara tabag rumah seperti ditabrak oleh sesuatu. Setelah kucek, ternyata dialah yang menyeruduknya. Ia kabur setelah saya pergoki,” jelas perempuan itu.


Ia terlihat gugup dalam menjelaskan duduk perkara kejadian aneh yang menimpa suaminya. Tangannya terlihat bergetar saat menjelaskan.


“Sepertinya, suamiku kesurupan. Kebun tempat dia panen manggis terkenal angker. Tadi pagi, aku sempat melarangnya pergi ke sana,” tambah si perempuan dengan ekspresi yang lebih tenang.


"Kalian kan santrinya Kiai Amin. Aku mohon doakan air ini. Siapa tahu ia akan sembuh kala meminumnya. Guru kalian kan ahli beginian. Pasti, kalian juga sudah mewarisi kebolehannya itu,” tutup si perempuan dengan permintaan.


Tolhah dan adiknya bertukar tatapan. Bagaimana bisa Tolhah yang belum lolos ujian membaca Surah Al-Fatihah dan adiknya yang bahkan baru belajar Iqro’ III disuruh menyembuhkan orang yang sedang kesurupan. Ilmu mereka ‘belum sampai,’ begitu pikir mereka berdua.


"Tapi…” jawab Tolhah ragu. 


​​​​​​​Dia gengsi untuk menjawab bahwa ia belum lolos ujian membaca Al-Fatihah. Ia juga tak mau nama gurunya tercemar jika ia menolak permohonan ini. Di sisi lain, ia tak tahu doa apa yang harus ia rapal. 


"Mana bisa bacaan Surat Al-Fatihah-ku yang masih amburadul menyembuhkan orang kesurupan? Ditertawakan dedemit yang bersarang di tubuh pria tadi, iya!” gumamnya dalam hati.


"Ayolah, tolong. Saya mohon air ini dibacakan doa apa pun terserah kalian. Saya sendiri cuma hafal doa sebelum makan saja,” pinta perempuan itu lagi. Pintanya memecah keheningan.


​​​​​​​Tolhah hanya menggeleng dan kemudian tertegun. Ia bergeming. Melihat sikap Tolhah yang meragukan, si perempuan tak menyerah. Ia menyodorkan gelas yang sejak tadi ia bawa. Akhirnya, Tolhah luluh. Ia mengambil gelas yang disodorkan padanya. 


Ia memutuskan untuk membaca hadlarah sebagaimana ia kerap mendengarkannya ketika mengikuti tahlilan di pondok. Ia membaca dua kali hadlarah. Yang pertama ia membacanya untuk kepada Nabi Muhammad Saw. dan Kiai Munif. Ia terlihat begitu khusyuk dalam merapalkannya. Terlihat raut keyakinan di wajahnya.


​​​​​​​Raut wajahnya sedikit berubah saat akan merapal Surat Al-Fatihah. Ia sadar bahwa bacaannya belum lolos kualifikasi Kiai Amin.


“aNGUNDLUbillahi minasysyaithainirrajim…” ucapnya lirih dengan segala kekurangan dan keyakinanannya.


Si perempuan begitu khidmat melihat Tolhah merapal doa yang tak diketahuinya. Ia menunduk. Sementara adik Tolhah justru menahan tawa mengingat betapa jenakanya bacaan Al-Fatihah kakaknya ketika mengaji ke Kiai Amin.


​​​​​​​Tiba-tiba lelaki yang tadi akan menanduk Tolhah dan adiknya kembali. Ia berlari kencang ke arah mereka berdiri. Perempuan itu dan adik Tolhah lari menyelamatkan diri.


​​​​​​​Adik Tolhah memanjat pohon jambu biji di depan rumah si lelaki, sementara si perempuan berusaha memanjat pohon rambutan. Tolhah sendiri bergeming. Ia ingin lari, namun gengsi. Kakinya bergetar hebat. Namun, ia terlanjur ‘berperan’ sebagai seseorang yang linuwih.


​​​​​​​Ketika jaraknya dengan lelaki itu sudah dekat, ia menyiramkan air yang telah ia rapalkan doa ke muka lelaki tersebut. Lelaki itu terjatuh dan kejang-kejang. Ajaib!


​​​​​​​Beberapa detik kemudian, ia bangun dalam keadaan waras. Ia kebingungan mengapa ia berada di sana dengan kondisi pakaian semrawut, badan berkeringat, dan muka basah. 


​​​​​​​Tolhah dan adiknya melanjutkan perjalanan mengantar makan siang untuk kakang-kakang di sawah. Mereka sempat dimarahi karena sayur terong yang mereka bawa terjatuh saat mereka menghindar dari serudukan lelaki kesurupan tadi. Namun, amarah kakang-kakang padam karena hari ini mereka punya cuci mulut spesial, manggis pemberian sepasang pasutri tadi.


**

Mendengar cerita Tolhah, Kiai Amin hanya terkekeh. Ia tersenyum kala Tolhah minta diluluskan bacaan Al-Fatihah-nya karena bacaannya telah mampu mengobati orang kesurupan. Kiai Amin menghentikan pengajian Al-Qur’an yang baru saja dimulai. Para santri yang mengaji secara berkelompok diminta berkumpul.


​​​​​​​Kiai Amin duduk di depan santri-santrinya yang tak seberapa. Ia duduk di hadapan satir atau tirai yang memisahkan barisan santri puteri dan putera. Jika sudah meniadakan pengajian Al-Qur’an dan meminta santri-santrinya berkumpul seperti ini, artinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


​​​​​​​Lelaki yang sudah berumur itu menceritakan biografi singkat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Mulai dari asal-usul, guru, ajaran, dan karamahnya. 

 

"Syekh Abdul Qadir ini selain ‘alim ilmu agama, juga punya banyak karamah. Ia bisa tahu bahwa seseorang junub hanya dengan melihat wajahnya. Dengan seizin Gusti Allah, ia juga sanggup berjalan di udara dan menghidupkan ayam yang sudah tinggal tulang-belulang,” jelas Kiai Amin.


“Tapi. Ini yang harus diperhatikan. Sesakti-saktinya beliau, beliau tidak pernah meninggalkan syariat. Kendati bisa terbang, ia tetap menjalankan shalat lima waktu, zakat, puasa, haji, dan seterusnya,” tegas Kiai Amin.


“Diriwayatkan bahwa kala Syaikh Abdul Qadir tengah bermunajat, tiba-tiba muncul cahaya yang sangat terang. Dari cahaya tersebut muncul suara yang mengatakan bahwa dia adalah Allah. Ia datang bermaksud mengatakan bahwa segala yang diharamkan syariat, sekarang halal bagi Syaikh Abdul Qadir. Lantas, apakah beliau percaya? Beliau tak percaya. Bahkan, beliau memaki suara yang mendaku sebagai Allah, ‘Keparat Kau, Setan! Enyahlah dari hadapanku!’   


​​​​​​​Tolhah dan adiknya menyimak dengan seksama apa yang disampaikan Kiai Amin kendati mereka tak begitu paham.


“Jadi, misalnya, ada orang yang bacaan Surat Al-Fatihahnya masih semrawut. Namun, bacaannya itu sudah ia anggap punya keramat karena bisa menyembuhkan orang kesurupan, orang tersebut harus tetap belajar untuk menyempurnakan Al-Fatihah-nya. Al-Fatihah adalah rukun shalat yang wajib dipenuhi. Sementara shalat wajib adalah bagian dari syariat,” jelas Kiai Amin sambil sesekali melirik ke arah Tolhah.


​​​​​​​Tolhah salah tingkah. Ia menggaruk rambutnya yang tak gatal. Adiknya menahan tawa karena paham siapa yang Kiai Amin maksud.


Rifqi Iman Salafi adalah alumnus Sastra Inggris UIN Jakarta. Ia pernah mondok di Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Brebes dan Pesantren Darus-Sunnah Ciputat. Selain sedang menahkodai Panduan Institute, ia juga aktif menulis artikel seputar sastra, budaya pop, dan sejarah Islam di beberapa media daring. Ia bisa disapa di akun Instagram @rifqiimans atau akun X @rifqi_salafi