40 Hari Pascabanjir Bandang, Pengajian Dayah Kembali Hidup di Pidie Jaya
Selasa, 6 Januari 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi: Dayah MUDI Samalanga sedang dibersihkan dari lumpur imbas banjir bandang. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Pidie Jaya, NU Online
Empat puluh hari pascabanjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, denyut kehidupan keagamaan masyarakat perlahan kembali bangkit. Di tengah sisa lumpur dan bangunan yang belum sepenuhnya pulih, santri dan ulama dayah mulai menghidupkan kembali pengajian, baik di lokasi pengungsian maupun di gampong-gampong terdampak bencana.
Pengajian yang sempat terhenti akibat banjir bandang pada akhir November 2025 kini digelar kembali secara sederhana. Balai pengajian, meunasah, hingga tenda-tenda pengungsian dimanfaatkan sebagai ruang belajar darurat. Anak-anak kembali duduk bersila memegang mushaf dan kitab kecil, sementara para teungku dayah dengan sabar membimbing mereka.
Pantauan NU Online di sejumlah desa terdampak menunjukkan kegiatan mengaji Al-Qur’an, pengajian dasar fikih, serta pembinaan akhlak kembali berlangsung secara rutin. Meski fasilitas terbatas dan sebagian lokasi masih lembap oleh sisa lumpur, semangat belajar santri tidak surut.
Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Kabupaten Pidie Jaya, Abi Zulfikar, mengatakan bahwa pengajian merupakan kebutuhan mendasar masyarakat Aceh, terutama setelah dilanda musibah besar.
“Banjir bandang bukan hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus aktivitas pengajian. Setelah 40 hari, kami berikhtiar agar pengajian kembali hidup, baik di pengungsian maupun di gampong,” ujarnya kepada NU Online, Selasa (5/1/2026).
Menurut Abi Zulfikar, santri dan ulama dayah memiliki peran strategis dalam pemulihan psikososial masyarakat, khususnya anak-anak. Rutinitas mengaji dinilai mampu memberikan ketenangan batin sekaligus membantu mengurangi trauma pascabencana.
Dukungan terhadap kebangkitan pengajian juga datang dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pidie Jaya. Ketua Karateker PCNU Pidie Jaya, Tgk. H. Asnawi M. Amin, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap ikhtiar para ulama dan santri.
“PCNU Pidie Jaya sangat mendukung upaya menghidupkan kembali pengajian. Ini bagian dari pemulihan umat, bukan hanya fisik, tetapi juga ruhani,” kata Tgk. Asnawi.
Ia menambahkan, kader-kader NU di Pidie Jaya turut terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pascabencana, mulai dari pembersihan dayah dan meunasah, penyaluran bantuan kemanusiaan, hingga pendampingan pengajian di desa-desa terdampak.
“Banyak kader NU turun langsung ke lapangan. Ini wujud khidmah Nahdlatul Ulama kepada umat dan daerah yang sedang diuji,” ujarnya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pidie Jaya, Tgk. H. Muniruddin, M.Diah, menegaskan bahwa kembalinya aktivitas pengajian merupakan bagian penting dari pemulihan sosial dan spiritual masyarakat.
“Anak-anak tidak boleh terlalu lama kehilangan ruang belajar agama. Pengajian adalah benteng akhlak dan sumber ketenangan bagi mereka,” katanya.
Warga menyambut baik kembalinya aktivitas pengajian di wilayah terdampak. Bagi masyarakat, lantunan ayat suci yang kembali terdengar menjadi penanda bahwa kehidupan perlahan bangkit. Di tengah keterbatasan pascabencana, pengajian menjadi simbol keteguhan iman dan harapan masyarakat Pidie Jaya.