Akademisi Tiga Negara Ulas Digitalisasi dan Ekonomi Islam di IAID Martapura
Jumat, 22 Mei 2026 | 21:00 WIB
Seminar The 2nd Darussalam International Conference on Islamic Economic and Finance pada Kamis (21/5/2026). (Foto: Ahmad Mursyidi)
Banjar, NU Online
Seminar internasional bertajuk The 2nd Darussalam International Conference on Islamic Economic and Finance pada Kamis (21/5/2026) diisi para pembicara dan akademisi dari berbagai kampus baik di dalam negeri maupun luar negeri..
Dalam seminar ini, Prof.Madya Mohamad Yazis Bin Ali Basah, pensyarah dari Universiti Sains Islam Malaysia menjelaskan tentang pentingnya manajemen resiko dalam keuangan syariah dan perbankan supaya mampu menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika global secara profesional.
"Agenda kita hari ini membicarakan tentang konsep pengurusan resiko, kemudian kita melihat pengurusan resiko dalam keuangan Islam," ungkapnya dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium KH. Bahruddin, Rektorat Lantai 3 Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Darussalam Martapura.
Dia juga menjelaskan apakah garis panduan dalam pengurusan resiko, tata kelola pengurusan resiko, kaidah yang digunakan dalam pengurusan dalam sektor perbankan dan keuangan Islam.
"Saya akan merangkumkan bagaimana pengurusan resiko dan tata kelolanya yang ada hari ini perlu kita masukan bersama dengan isu yang kita hadapi sekarang ini seperti AI dan digitalisasi," ujarnya
Sementara itu, Muhammad Fuad bin Matahir dari Brunei Darussalam menjelaskan bahwa digitalisasi zakat itu dapat meningkatkan efektivitas serta stabilitas sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
"Saya akan mempresentasikan kepentingan zakat, studi kasus Brunei Darussalam, transformasi digital, transformasi digital pengelolaan zakat di Brunei: Sebuah Tinjauan, dan Conclusion," katanya
M. Fahmi Al Amruzi dalam paparannya menjelaskan perkembangan industri halal di era transformasi digital memerlukan inovasi, strategi dan juga regulasi serta juga kolaborasi agar mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam
"Memasuki pertengahan dekade 2020-an dampak transformasi digital terasa semakin mendalam, mendorong negara-negara dan korporasi untuk beradaptasi, berinvestasi, dan berinovasi demi tetap relevan di panggung ekonomi global.
Menurutnya, laju inovasi teknologi yang eksponensial telah menciptakan ekosistem global yang lebih terhubung, efisien, namun juga kompleks dan penuh tantangan.
"Semakin ke sini di tahun 2026, semakin dirasakan bahwa hidup di era ini sangat didominasi oleh transformasi digital. Fenomena ini tidak lagi hanya sekadar tren, melainkan fondasi baru yang membentuk ulang setiap aspek kehidupan manusia, dari cara bekerja, berinteraksi, hingga meningkatkan pelayanan," terangnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan penjelasannya bahwa menurut salah satu teori dari teori perubahan sosial yaitu teori modernisasi yang menyatakan bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan adalah pendorong utama perubahan sosial dalam masyarakat.
"Perkembangan digitalisasi teknologi memberikan banyak dampak bagi pengguna teknologi, baik itu positif maupun negatif terhadap aspek perekonomian, pendidikan, sosial, budaya, politik, maupun pemerintahan," jelasnya
Dampak lainnya juga terjadi pada seluruh aktivitas kehidupan manusia; mulai dari gaya bertransaksi, administrasi hingga komunikasi.
"Digitalisasi sebagai proses konversi media tradisional menjadi bentuk digital, pengelolaan dokumen dalam format elektronik, dan pemanfaatan data digital menghasilkan dampak dalam konteks sosial dan teknologi saat ini," lanjutnya.
Transformasi digital berkaitan dengan penerapan teknologi komunikasi dan informasi yang canggih serta adanya perubahan fundamental dalam proses bisnis dan cara kerja.
"Transformasi digital mempunyai potensi dalam merubah sistem kerja serta meningkatkan pelayanan publik," katanya dalam seminar yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Martapura.
Kegiatan yang mengusung tema Digital Transformation and Strategic Management in Islamic Business: Diving, Innovation, Sustainability, and Global Competitiveness Adapun IAID merupakan kampus di bawah yayasan Pondok Pesantren Darussalam yang dipimpin oleh KH Kasyful Anwar dan KH. Abdul Qadir Hasan (Guru Tuha), pembawa NU pertama di luar Jawa.
Dengan seminar tersebut diharapkan generasi muda Nahdlatul Ulama mampu meningkatkan wawasan, kapasitas, serta kesiapan dalam menghadapi era transformasi digital, khususnya dalam pengembangan ekonomi dan bisnis Islam yang inovatif, berdaya saing global, namun tetap berlandaskan nilai-nilai syariah dan tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah.