Daerah

Bendung Radikalisme dengan Perkuat Tradisi Kultural

Jumat, 2 Maret 2012 | 06:44 WIB

Jepara, NU Online
Untuk membendung aliran-aliran radikal yang semakin marak bisa ditempuh dengan memperkuat tradisi kultural yang sudah ditorehkan Ulama-ulama terdahulu. Demikian diutarakan KH Muchlisul Hadi, Syuriah MWC NU Kalinyamatan saat memberikan tausiyah kepada Jamiyyah Tiryaqul Mujarrab Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan, Kamis (1/3) kemarin.
<>
Menurut pengasuh Pesantren Roudlotul Huda, paham radikal saat ini sudah masuk ke kampung-kampung. Mereka tanpa tedeng aling-aling ingin memberangus tradisi-tradisi yang sudah dilanggengkan oleh Nahdlatul Ulama. “Kita mesti waspada kepada aliran yang menentang tradisi kultural kita,” ungkapnya.

Untuk mewaspadainya, langkah yang ditempuh katanya adalah dengan memperkuat tradisi kultural yang ada. “Jika kita sudah melanggengkan tahlilan, manaqiban, berzanjenan, ziarah kubur maka perlu dipegang teguh hingga akhir hayat,” pesannya.

Ia menjelaskan tradisi yang sudah dipegang dengan teguh tidak akan mudah direnggut. Sebaliknya, jika tidak ada upaya untuk melestarikannya niscaya akan mudah diberangus. “Untuk itu dengan melestarikan tradisi yang ada maka mereka akan kelimpungan memperdaya kita,” jelasnya.

Kiai Muchlis yakin jika mau melestarikan tradisi niscaya mereka tidak betah untuk mengganggu. “Sekali dua kali mereka akan mengganggu kita. Jika kita masih kuat mereka segera pergi ke tempat lain,” paparnya.

Sebagai Syuriyah MWC NU Kalinyamatan bersamaan dengan proses pembangunan gedung MWC NU ia memohon kepada semua pihak untuk turut membantu demi suksesnya bangunan yang nantinya akan ditempati semua Banom di lingkungan NU Kalinyamatan. “Gedung tersebut nantinya dimanfaatkan untuk memperkuat tradisi kita sehingga kita tidak mudah direnggut aliran lain,” harapnya.



Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Syaiful Mustaqim        


Terkait