Daerah

Dayah Ribathul Fuad Al-Aziziyah Aceh Besar Kembangkan Kemandirian Santri dengan Agrobisnis

Ahad, 14 Juni 2026 | 10:00 WIB

Dayah Ribathul Fuad Al-Aziziyah Aceh Besar Kembangkan Kemandirian Santri dengan Agrobisnis

Dayah Ribathul Fuad Al-Aziziyah di Pegunungan Seulawah Agam, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar (Foto; istimewa)

Aceh Besar, NU Online 
Kawasan di lereng Pegunungan Seulawah Agam, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, di hiasi jalan tol Padang Tiji -Banda Aceh lahir sebuah dayah kecil namun sarat semangat terus berkembang. Dayah Ribathul Fuad Al-Aziziyah, yang berdiri sejak akhir 2022, hadir bukan sekadar sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai laboratorium kemandirian melalui agrobisnis, persawahan, dan perikanan.

 

Terletak di wilayah Gampong Lamtamot, Lon Baroh, dan Paya Keureuleuh, dayah ini memanfaatkan 23 hektare lahan yang tersebar antara kompleks pendidikan, perkebunan, persawahan, dan kolam perikanan. Meskipun fasilitas fisik masih dalam tahap pembangunan, semangat membina santri mandiri dan berakhlak mulia menjadi prioritas utama.

 

“Bangunan memang belum lengkap, tetapi pendidikan tetap berjalan. Santri tetap belajar, beribadah, dan terlibat dalam kegiatan produktif,” ujar Tgk Nazar Fuadi, pengelola dayah yang juga pendiri lembaga ini kepada NU Online, Kamis (11/6/2026) 

 

Dari kaki Pegunungan Seulawah Agam hingga ke aliran sungai yang berhulu dari gunung tersebut, dayah ini menjadi titik pusat pembinaan agama dan pengembangan potensi ekonomi umat. Kehadiran dayah ini pun mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar, yang melihatnya bukan hanya sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi juga sebagai pusat pengembangan karakter dan ekonomi lokal.

 

Menapaki Jejak Ilmu dari Samalanga hingga Tarim
Perjalanan pendiri dayah merupakan kisah panjang menuntut ilmu dan mengabdi. Sejak 2008 hingga 2018, ia belajar di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Aceh. Di sana ia mendalami berbagai disiplin ilmu agama, termasuk kitab-kitab klasik, fiqh, tafsir, dan akhlak, sekaligus dibekali adab keilmuan yang kuat.

 

“Di Mudi, saya belajar bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga kesabaran, disiplin, dan bagaimana mengabdi kepada masyarakat,” kenang sosok yang akrab disapa Abi Fuadi. 

 

Selama satu dekade itu, ia terbiasa hidup sederhana, menjalani keseharian yang penuh pengajaran agama, sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab sosial kepada para santri.

 

Perjalanan ilmu berlanjut ke Pondok Pesantren Ma’had An-Nur Sukabumi, Jawa Barat (2019–2020). Di pondok ini, ia memperoleh wawasan baru mengenai manajemen lembaga pendidikan, sistem pesantren modern, dan pentingnya membangun jaringan dakwah yang luas. Pengalaman di luar Aceh membuka perspektifnya bahwa lembaga pendidikan Islam bisa menggabungkan tradisi dan inovasi untuk menjawab tantangan zaman.

 

Puncak perjalanan intelektual terjadi di Ribat Tarim, Hadramaut, Yaman (2021–2022). Tarim dikenal sebagai kota para ulama yang legendaris, tempat lahir dan berkembangnya banyak tokoh besar dunia Islam. Di sana, ia menyaksikan bagaimana ilmu, akhlak, dan dakwah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

“Ilmu itu harus melahirkan manfaat nyata. Pendidikan tidak berhenti pada hafalan kitab, tetapi juga membentuk karakter, kepedulian sosial, dan kemandirian,” tegasnya.

 

Setelah menimba ilmu di Aceh, Jawa, dan Yaman, muncul tekad untuk membangun dayah yang memadukan tradisi keilmuan Aceh, pengalaman pesantren modern, dan metode tarbiyah Hadramaut. Tekad ini akhirnya diwujudkan di Lembah Seulawah.

 

Membangun Dayah di Pelukan Pegunungan
Dayah Ribatul Fuad Al-Aziziyah berdiri di kawasan berbukit, dekat sungai yang berhulu dari Seulawah Agam. Kondisi geografis ini memberi keuntungan sekaligus tantangan. Udara sejuk dan lingkungan tenang mendukung pembelajaran, tetapi pembangunan fasilitas memerlukan kerja keras ekstra.

 

Saat ini, beberapa bangunan telah digunakan sebagai ruang belajar, asrama, dan masjid, sementara fasilitas lain masih dalam tahap pembangunan bertahap. Kompleks dayah dirancang agar harmonis dengan alam sekitar, serta menyediakan ruang terbuka bagi pengembangan pertanian, perkebunan, dan perikanan.​​​​​​Para santri juga dilibatkan aktif dalam kegiatan produktif. Mereka menanam padi, merawat kebun, dan mengelola kolam ikan. Aktivitas ini menjadi pendidikan praktik sekaligus menanamkan nilai kerja keras, tanggung jawab, dan kemandirian.

 

“Lingkungan ini mengajarkan santri untuk menghargai alam, bekerja keras, dan memahami keseimbangan antara ilmu dan praktik,” jelas Ustadzah Siti Aminah, salah satu pengajar dayah.

 

Selain itu, dayah juga membentuk santri agar memiliki kepedulian sosial. Mereka diajarkan untuk membantu masyarakat sekitar, mulai dari membersihkan lingkungan, membantu panen, hingga mendampingi kegiatan keagamaan warga. Nilai-nilai ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan sehari-hari.

 

Mengintegrasikan Kemandirian Ekonomi dengan Pendidikan
Keunikan lain dari dayah ini adalah pengembangan kemandirian ekonomi berbasis lahan yang dimiliki. Dari total 23 hektare, sebagian lahan diperuntukkan bagi kompleks dayah, sementara sisanya digunakan sebagai perkebunan kelapa sawit, persawahan, dan kolam perikanan.

 

Langkah ini dirancang agar dayah mandiri secara ekonomi dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal. Hasil pertanian dan budidaya ikan digunakan untuk menunjang operasional dayah sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi santri.

 

“Santri belajar bahwa menguasai ilmu agama harus dibarengi dengan kemampuan produktif dan kemandirian. Mereka memahami bagaimana kerja keras, pengelolaan sumber daya, dan produktivitas menjadi bagian dari ajaran Islam,” tambah Tgk. Fuad.

 

Model pendidikan seperti ini menjadi relevan di tengah tantangan zaman. Santri tidak hanya memperoleh bekal ilmu agama, tetapi juga memahami pentingnya kemandirian ekonomi, kewirausahaan, dan pengelolaan sumber daya. Konsep ini menumbuhkan generasi yang siap mengabdi sekaligus produktif.

 

Harapan dari Lereng Seulawah
Meski dayah masih muda dan fasilitas fisik sebagian besar masih dibangun, semangat untuk melahirkan generasi berakhlak mulia dan mandiri terus menyala. Dari kaki Pegunungan Seulawah Agam, dayah ini menjadi contoh bagaimana pendidikan Islam dapat berpadu dengan pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

 

Masyarakat sekitar menyambut baik keberadaan dayah. Mereka menilai dayah bukan hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter dan pengembangan ekonomi lokal.

 

“Kami berharap dayah ini terus berkembang. Anak-anak kami bisa belajar agama, sekaligus belajar mandiri dan produktif,” kata seorang warga Gampong Lamtamot.

 

Kini, dari Lembah Seulawah, Dayah Ribatul Fuad Al-Aziziyah menulis kisahnya sendiri. Kisah tentang perjuangan membangun pendidikan dari nol, tentang mengintegrasikan ilmu dan praktik, dan tentang menyiapkan generasi penerus yang siap mengabdi kepada umat, bangsa, dan agama.

 

Di tengah hamparan perkebunan, persawahan, dan sungai yang mengalir dari Seulawah Agam, dayah ini perlahan meneguhkan dirinya sebagai pusat pendidikan Islam yang menekankan akidah, akhlak, dan kemandirian ekonomi. Dari sini diharapkan akan lahir santri yang cerdas, mandiri, dan siap menjadi pelopor perubahan positif bagi masyarakat.