Hadir di Bireuen, Gus Ajir Langgongsari Dorong Santri Kembangkan Dakwah Digital Berlandaskan Aswaja
Jumat, 30 Oktober 2026 | 06:00 WIB
Tangkapan layar Pengasuh Pesantren Nurul Huda Langgongsari, Banyumas, Jateng, Muhammad Ajir Ubaidillah saat Daurah Ilmiyah di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen, Aceh, Rabu (28/10/2026).
Bireuen, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Langgongsari, Banyumas, Jawa Tengah, Gus Muhammad Ajir Ubaidillah mengisi Daurah Ilmiyah bertema Nalar Aswaja di Abad Digital di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, Rabu (28/10/2026).
Pada kesempatan tersebut, Gus Ajir mendorong santri memanfaatkan media digital untuk mengembangkan dakwah Islam yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Gus Ajir juga mengajak santri tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga kreator konten yang mampu menyampaikan pesan keislaman secara santun dan bertanggung jawab.
"Perkembangan teknologi membuka peluang bagi generasi muda pesantren untuk memperluas jangkauan dakwah melalui berbagai platform digital. Namun, pemanfaatan teknologi harus disertai pemahaman agama yang memadai agar konten yang dihasilkan tidak sekadar menarik, tetapi juga memiliki landasan keilmuan," ungkapnya.
Ia menilai santri memiliki modal penting berupa tradisi keilmuan, pemahaman agama, dan adab yang diperoleh selama menempuh pendidikan pesantren. Ketiga hal tersebut perlu dipadukan dengan keterampilan teknologi dan kemampuan mengemas pesan agar mudah dipahami masyarakat.
Baca Juga
Lima Pendekatan Dakwah Wali Songo
Menjaga Nalar Aswaja di Ruang Digital
Gus Ajir mengingatkan bahwa perkembangan media digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan dalam penyebaran informasi keagamaan. Kecepatan penyebaran informasi tidak selalu diikuti ketepatan isi dan kejelasan sumber.
Karena itu, santri perlu memiliki kemampuan memeriksa kebenaran informasi, menelusuri sumber, serta memahami persoalan agama secara utuh sebelum menyampaikan pendapat kepada publik.
Ia juga mengingatkan tiga hal yang perlu diwaspadai dalam tradisi keilmuan Islam, yakni tahrifal ghalin, penyimpangan yang dilakukan oleh pihak yang melampaui batas; intihalal mubtilin, upaya pihak yang batil mengaburkan atau memalsukan kebenaran; dan ta’wilal jahilin, penafsiran yang lahir dari ketidaktahuan.
“Ketiga hal tersebut menjadi pengingat bahwa pemahaman agama membutuhkan dasar keilmuan, kehati-hatian, dan bimbingan ulama. Santri tidak sepatutnya terburu-buru menyebarkan potongan ceramah, kutipan, atau pendapat keagamaan yang belum jelas konteks dan sumbernya,” jelasnya.
Selain itu, Gus Ajir menekankan pentingnya menerapkan prinsip al-hanifiyatus samhah, yakni ajaran Islam yang lurus dan penuh kelapangan, dalam aktivitas dakwah digital. Prinsip tersebut mengajarkan umat untuk menyampaikan kebenaran secara moderat dan santun tanpa meninggalkan keteguhan terhadap ajaran agama.
Santri Didorong Mengembangkan Konten Dakwah
Gus Ajir selanjutnya mendorong santri mengembangkan keterampilan produksi konten digital, mulai dari menulis, membuat video dakwah, menyusun materi edukasi Islam, hingga menguasai teknik penyuntingan.
Menurutnya, kemampuan mengemas pesan menjadi bagian penting agar dakwah dapat menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda.
“Penguasaan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan substansi keilmuan. Konten yang menarik secara visual belum tentu membawa manfaat apabila tidak didukung materi yang benar. Sebaliknya, pesan keagamaan yang baik perlu dikemas secara komunikatif agar dapat menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda,” paparnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun personal branding berdasarkan integritas dan kompetensi. Kehadiran santri di ruang digital, menurutnya, tidak semestinya hanya berorientasi pada jumlah pengikut, tanda suka, atau popularitas. Kepercayaan publik harus dibangun melalui konsistensi dalam menyampaikan ilmu, menjaga akhlak, dan memberikan manfaat.
Gus Ajir turut menekankan pentingnya ihtimam, yakni perhatian dan kepedulian terhadap dakwah. Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, santri diharapkan tetap menjaga semangat pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.
Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin, kesungguhan, dan kemauan untuk terus belajar. Prinsip alaikum anfusakum menjadi pengingat agar santri bertanggung jawab terhadap diri sendiri, termasuk dalam menjaga kualitas ilmu dan perilaku.
Abi MUDI Tekankan Dakwah Berlandaskan Ilmu dan Adab
Dalam kegiatan tersebut, Tgk. H. Zahrul Mubarak atau yang dikenal sebagai Abi MUDI, Mudir Tanfidzi sekaligus Mudir Ma’had Aly Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, turut memberikan sambutan mewakili pihak dayah.
Selain daurah ilmiyah, kegiatan tersebut juga diisi pelatihan khusus bagi santri senior untuk memperkuat keterampilan dan kesiapan mereka dalam mengembangkan dakwah digital.
Abi MUDI menekankan pentingnya menjadikan tradisi keilmuan dayah sebagai landasan dalam menghadapi perkembangan zaman. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus disertai pemahaman agama yang kuat agar santri mampu menyikapi informasi secara bijak dan menyampaikan ajaran Islam secara bertanggung jawab.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang berilmu dalam memberikan klarifikasi terhadap informasi keliru, fitnah, dan perdebatan keagamaan di media sosial. Penjelasan yang disampaikan harus didasarkan pada sumber yang jelas serta menggunakan bahasa yang tidak memperkeruh keadaan.
Menurut Abi MUDI, dakwah bukanlah perlombaan untuk memenangkan perdebatan. Tujuan utamanya adalah menyampaikan kebenaran, membuka ruang pemahaman, dan mengajak masyarakat kepada kebaikan. Karena itu, adab komunikasi harus tetap dijaga, termasuk ketika menghadapi perbedaan pandangan.
“Melalui Daurah Ilmiyah ‘Nalar Aswaja di Abad Digital’, santri diharapkan mampu memadukan tradisi keilmuan dayah dengan kecakapan digital. Dengan bekal ilmu, akhlak, dan kemampuan mengelola media, mereka dapat mengambil peran lebih luas dalam menyebarkan pesan Islam yang menyejukkan, memperkuat literasi keagamaan, serta menjaga tradisi Aswaja di tengah perubahan zaman,” ungkapnya.