LPBINU Mojokerto Perkuat Kesiapsiagaan Bencana melalui Program SPAB
Senin, 2 November 2026 | 08:00 WIB
Diskusi pelaksanaan ToT SPAB bagi relawan LPBINU di Desa Kramajetak, Pacet, Mojokerto, Jatim, Sabtu (31/10/2026) malam. (Foto: NOJ/ Yulia NH)
Mojokerto,, NU Online
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kabupaten Mojokerto memperkuat kapasitas relawan dalam mendukung pelaksanaan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Upaya tersebut dilakukan melalui diskusi persiapan Training of Trainer (ToT) SPAB bagi relawan LPBINU di Desa Kramajetak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (31/10/2026).
Sekretaris LPBINU Kabupaten Mojokerto, Ahmad Agus Ubaidillah, mengatakan program SPAB telah diterapkan di sejumlah satuan pendidikan di Mojokerto. Namun, pelaksanaannya belum optimal karena kegiatan masih terbatas pada edukasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan simulasi kebencanaan.
Melalui pelatihan berjenjang tersebut, LPBINU berharap kapasitas relawan dalam memfasilitasi program SPAB semakin meningkat. Dengan demikian, pendampingan kepada satuan pendidikan sasaran dapat berjalan lebih komprehensif.
Agus menjelaskan, program SPAB juga diintegrasikan dengan gerakan sedekah sampah. Satuan pendidikan yang telah menjalin kerja sama dengan LPBINU dalam program sedekah sampah mendapatkan prioritas untuk memperoleh pendampingan SPAB.
"Karena penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama, dan penanggulangan bencana bukan hanya soal tanggap darurat saat ada bencana saja, tetapi upaya prabencana juga harus menjadi prioritas kegiatan," ujarnya sebagaimana diberitakan NU Online Jatim.
Menurutnya, SPAB penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus mengurangi risiko bencana di sekolah, madrasah, dan pondok pesantren. Program tersebut bertujuan mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dari berbagai ancaman bencana.
"Pelaksanaannya tidak hanya berorientasi pada penanganan ketika bencana terjadi, tetapi juga mencakup upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan setelah bencana," tuturnya.
Ia menegaskan, pengembangan SPAB menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas pendidikan. Langkah ini sekaligus sejalan dengan peran Nahdlatul Ulama dalam memberikan pelayanan kemanusiaan dan melindungi masyarakat dari ancaman bencana.
Dalam pelaksanaannya, LPBINU dapat berperan sebagai edukator, fasilitator, pendamping, sekaligus penggerak program SPAB. Peran tersebut diwujudkan melalui pelatihan kebencanaan, pendampingan penyusunan peta risiko, pembentukan kader siaga bencana, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, dinas pendidikan, dan Kementerian Agama.
Agus menjelaskan, penerapan SPAB diawali dengan pemetaan satuan pendidikan yang berada di kawasan rawan bencana. Tahapan berikutnya meliputi kajian risiko, peningkatan kapasitas warga sekolah, pendampingan penerapan sistem kesiapsiagaan, serta monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.
"Pelaksanaannya diawali dengan pemetaan satuan pendidikan yang berada di kawasan rawan bencana. Selanjutnya, dilakukan kajian risiko, peningkatan kapasitas warga sekolah, pendampingan penerapan sistem kesiapsiagaan, serta monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan," jelasnya.
Melalui penguatan program SPAB, LPBINU Mojokerto berharap sekolah, madrasah, dan pesantren tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga mampu melindungi keselamatan seluruh warga pendidikan dan menjaga keberlangsungan pembelajaran saat terjadi bencana.