Mustasyar PBNU KH Wildan Salman Tekankan Pentingnya Niat, Ilmu Agama dan Akhlak bagi Santri
Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:00 WIB
KH Wildan Salman menyampaikan tausiyahnya pada peringatan Hari Santri se-Kalimantan Selatan di Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura Kabupaten Banjar Selasa (27/10/2026) (Foto : Ahmad Mursyidi)
Banjar, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Wildan Salman, menekankan pentingnya niat, pengamalan ilmu agama, dan pembentukan akhlak dalam kehidupan santri.
Pesan tersebut disampaikan dalam tausiah penutupan Hari Santri 2026 tingkat Kalimantan Selatan pada Selasa (27/10/2026) malam di Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
KH Wildan mengatakan, santri memiliki peran penting dalam menuntut ilmu agama dan kelak menjadi pemuka agama Islam di Nusantara. Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pengamalan ajaran Islam dan pembentukan akhlak.
“Karena yang namanya santri pasti mempunyai beberapa macam. Pertama, giat di dalam mempelajari agama, khususnya kitab kuning. Kedua, mereka dididik di pesantren bagaimana cara pengamalan agama Islam secara Ahlussunnah wal Jamaah. Ketiga, mereka digodok bagaimana seorang pelajar atau penuntut ilmu itu mempunyai kewajiban taat kepada guru-gurunya dan kepada orang tua,” kata KH Wildan, yang juga mengemban amanah Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Selatan.
Dalam tausiahnya, KH Wildan memaparkan empat hadis yang menurutnya dapat menjadi pedoman bagi umat Islam dalam mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran agama. Ia mengutip keterangan yang dinisbatkan kepada Abu Dawud mengenai empat hadis yang dinilai cukup sebagai pedoman dalam menjalankan agama.
“Abi Daud berkata, ‘Apabila orang mau benar dalam mendalami, mempelajari, mengamalkan dan melaksanakan agama, cukup dengan empat hadis,’” jelasnya.
Hadits pertama membahas pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw, innamal a‘malu binniyat wa innama likullimri’in ma nawa, yang berarti sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.
KH Wildan menjelaskan, niat menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan ibadah. Ia merujuk pada penjelasan Imam Syafi’i mengenai pentingnya niat dalam ibadah, seperti salat, puasa, haji, dan zakat. Menurutnya, niat juga menentukan nilai suatu amal di sisi Allah swt.
Ia kemudian mencontohkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah bersama para sahabat. Menurut KH Wildan, hijrah merupakan bentuk pengorbanan besar karena para sahabat rela meninggalkan kampung halaman, harta, dan keluarga demi mengikuti Rasulullah saw serta memperjuangkan agama Islam.
“Bagaimana kalau kita pikirkan, yang namanya hijrah itu adalah pengorbanan besar. Sahabat-sahabat yang ikut dengan Rasulullah hijrah itu meninggalkan tanah kampung, harta, keluarga demi mengikuti Nabi kita dan demi agama, mengeluarkan segalanya,” tuturnya.
KH Wildan menjelaskan, para sahabat yang berhijrah dari Makkah dikenal sebagai kaum Muhajirin, sedangkan penduduk Madinah yang menolong mereka disebut kaum Ansar. Menurutnya, pengorbanan tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya ketulusan niat dalam perjuangan.
Baca Juga
Sejarah Hari Santri
“Besar kecilnya pahala, imbalannya di akhirat tergantung niatnya. Apalagi perbuatan di bawah hijrah,” ujarnya.
Pesan tentang niat itu juga dikaitkan KH Wildan dengan penyelenggaraan Hari Santri Nasional. Ia mengingatkan agar kegiatan keagamaan dilandasi keinginan untuk memuliakan agama, bukan semata-mata mengejar kepentingan duniawi.
“Begitu kita mengadakan HSN dan sebagainya, bagaimana niatnya? Apabila niatnya dunia, maka yang akan ia dapatkan dunia. Apabila niatnya memuliakan agama, imbalannya akhirat,” katanya.
Hadits kedua yang dipaparkan KH Wildan berkaitan dengan tanda baiknya keislaman seseorang, yaitu meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya. Prinsip tersebut, menurut penjelasannya, mencakup urusan dunia maupun akhirat.
Adapun hadits ketiga membahas pentingnya mencintai sesama Muslim sebagaimana mencintai diri sendiri. “Tidak akan bisa sempurna seseorang keimanannya sampai ia menyenangi kepada saudaranya seperti ia menyenangi kepada dirinya,” jelasnya.
KH Wildan mengaitkan pesan tersebut dengan dampak pembakaran lahan yang menimbulkan asap dan mengganggu kesehatan masyarakat. Ia menyinggung praktik pembakaran lahan untuk kepentingan penanaman kelapa sawit dan kegiatan lainnya yang dapat merugikan orang lain.
Menurutnya, tindakan yang menimbulkan asap hingga mengganggu kesehatan masyarakat bertentangan dengan prinsip kepedulian terhadap sesama. Ia mengingatkan pentingnya mempertimbangkan dampak suatu tindakan terhadap orang lain dalam kehidupan bermasyarakat.