Daerah

Perkuat Tradisi Hadits Dunia, Tebuireng Gelar MUTUN Ke-2 dan Undang Penulis Internasional

Senin, 5 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Perkuat Tradisi Hadits Dunia, Tebuireng Gelar MUTUN Ke-2 dan Undang Penulis Internasional

Pondok Pesantren Tebuireng melalui Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng menyelenggarakan Muktamar Dawli li al-Turats al-Nabawi (MUTUN) ke-2 pada 5–7 Oktober 2026. (Foto: Dok Ma'had Aly Tebuireng)

Jombang, NU Online

Pondok Pesantren Tebuireng melalui Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (MAHA) Tebuireng menyelenggarakan Muktamar Dawli li al-Turats al-Nabawi (MUTUN) ke-2 pada 5–7 Oktober 2026.


Kegiatan tersebut merupakan kerja sama MAHA Tebuireng dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). MUTUN menjadi ruang perjumpaan antara tradisi keilmuan pesantren dan perkembangan kajian hadis di dunia akademik.


Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz, dalam sambutan dan arahannya menegaskan bahwa tradisi hadis di Tebuireng telah hidup sejak Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dan terus dikembangkan hingga kini.


“Berdasarkan data registrasi sementara, MUTUN ke-2 melibatkan 137 penulis dari lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Maroko, Mesir, dan Gambia. Kegiatan ini juga diikuti 121 peserta dari 41 lembaga, yang terdiri atas perguruan tinggi, Ma’had Aly, dan pesantren,” katanya, Senin (5/10/2026).


Kiai Abdul Hakim menjelaskan, MUTUN ke-2 dirangkai dalam empat kegiatan, yakni Konferensi Internasional MUTUN–ASILHA 2026, Annual Meeting ASILHA 2026, Sambung Sanad, Khataman dan Ijazah Kitab, serta Bahtsul Masail al-Haditsiyah.


Konferensi menjadi ruang dialog ilmiah mengenai al-turats al-Nabawi dan tantangan kontemporer, sedangkan Annual Meeting ASILHA menjadi ruang konsolidasi para pengkaji ilmu hadis.


Adapun Sambung Sanad, Khataman dan Ijazah Kitab meneguhkan tradisi talaqqi melalui khataman Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan al-Muwaththa’.


“Sementara Bahtsul Masail al-Haditsiyah menghadirkan tradisi pesantren dalam mendialogkan khazanah hadis dengan persoalan kehidupan,” beber tokoh yang akrab disapa Gus Kikin tersebut.


Mempertemukan Sanad dan Riset

Menurut Gus Kikin, MUTUN terinspirasi dari tradisi keilmuan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang melampaui batas kelompok, daerah, dan negara.


Karya-karya Hadratussyaikh Hasyim juga menunjukkan bahwa khazanah pesantren Nusantara memiliki ruang untuk berkontribusi dalam perkembangan keilmuan Islam dunia.


“Dalam konteks tersebut, MUTUN menjadi ikhtiar untuk mempertemukan tradisi sanad dan turats pesantren dengan riset dan metodologi akademik. Ia berharap MAHA terus menjaga tradisi keilmuan Hadratussyaikh sekaligus memperluas manfaat warisan keilmuannya bagi umat dan dunia,” jelasnya.


Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, H Achmad Roziqi, menegaskan bahwa MUTUN merupakan bagian dari amanah tafaqquh fi al-din dalam menjaga tradisi sekaligus mengembangkan khazanah keislaman agar memiliki daya jawab terhadap perubahan zaman.


Menurutnya, pesantren dapat berinteraksi dengan dunia akademik global tanpa kehilangan identitasnya: berakar pada tradisi keislaman, tumbuh dalam keindonesiaan, dan bertumpu pada keilmuan yang bersanad.


“Turats bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber ilmu yang terus dapat dibaca, dikaji, dikembangkan, dan diaktualisasikan untuk menjawab kebutuhan masa kini serta menyiapkan masa depan,” ujarnya.


Hadis sebagai Identitas Tebuireng

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam syiir yang dibuat dan dibacakan oleh Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dalam rangkaian MUTUN ke-2:


تَبُوْئِرِيْنْجْ نُوْرُنَا وَبِمَشَايِخِهِ اقْتَدَيْنَا
وَالْحَدِيْثُ هُوِيَّتُنَا وَبِالنَّبِيِّ اهْتَدَيْنَا


Syiir tersebut bermakna:

Tebuireng cahaya kita,
dan kita mengikuti laku para masyayikhnya.
Hadis adalah identitas kita,
dan Nabi adalah jalan menuju hidayah-Nya.


“Syiir tersebut meneguhkan dua fondasi MUTUN: tradisi keilmuan Tebuireng yang diwariskan para masyayikh dan hadis Nabi Muhammad SAW sebagai identitas sekaligus sumber petunjuk,” tegasnya.


Kiai Roziqi berharap penyelenggaraan MUTUN ke-2 dapat memperkuat perjumpaan antara tradisi dan akademia, sanad dan penelitian, turats dan realitas, serta pesantren dan dunia keilmuan global.


“Dari turats, pesantren tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi membangun masa depan dan turut memberi warna bagi peradaban dunia,” tutupnya.