Daerah

Pertahankan Akidah, MWC NU Kadur Adakan Kolom Aswaja

Sabtu, 3 Maret 2012 | 07:37 WIB

Pamekasan, NU Online
Pengurus MWC NU Kadur Pamekasan mengadakan kegiatan bernama “Kolom Aswaja”, Jumat (2/3) siang, bertempat di kediaman A’wan Syuriyah MWC NU Kadur, K Abd Wafi. Kegiatan tersebut dihadiri oleh pengurus ranting, pengurus tanfidziyah, pengurus syuriyah, pengurus LP Ma’arif, pembina IPNU Kadur, dan pengurus IPNU Kadur. Para pengasuh pondok pesantren yang tersebar di kecamatan Kadur pun terlibat aktif di dalamnya.
<>
Kolom Aswaja merupakan salah satu bagian dari program kerja bulanan MWC Kadur yang dikemas dengan pertemuan rutin yang digelar tiap bulan. Tujuan utamanya ialah guna mempertahankan serta membentengi diri akidah (keyakinan) umat Islam agar tetap berpijak pada paham Aswaja.

Pertemuan yang sudah keempat kalinya tersebut diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah, ceramah agama, dan rapat koordinasi keorganisasian. Pembacaan surat Al-Fatihan dipandu oleh K Abdurrahman selaku Rois Syuriyah NU Pamoroh Kadur. Adapun ceramah agama disampaikan oleh pengasuh Pesantren Miftahul Anwar sekaligus Rais MWC NU Kadur, K Ihyauddin Yasin. Dan rapat koordinasi keorganisasian dipimpin ketua MWC NU Kadur, K Ach Baidawi Abshom.

Kolom bulanan MWC NU Kadur ditempatkan secara bergantian di rumah-rumah pengurus NU Kadur. Pertemuan pertama dibuka sekaligus ditempatkan di kediaman K Ihyauddin Yasin.

“Dan sekarang sudah yang keempat kalinya. Dalam kolom bulanan ini terbagi menjadi dua kolom: kolom Bahtsul Masail dan kolom Aswaja. Keduanya dilakukan secara bergantian. Sekarang kolom Aswaja, maka yang akan datang adalah kolom Bahtsul Masail,” tutur Kiai Baidawi, panggilan K Ach Baidawi Abshom.

Kepada hadirin, Kiai Baidawi menawarkan agar khusus pertemuan yang kelima ditempatkan di kantor MWC NU Kadur.

“Biar tak sepi dan tidak dimakan rayap,” katanya berkelakar.

Tawaran Kiai Baidawi tersebut diamini oleh semua hadirin.

Menyelamatkan Paham Aswaja

Paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) adakalanya dijadikan “paham pasaran”. Dengan kata lain, ia tak jarang dijadikan jargon oleh suatu organisasi yang mengatasnamakan dirinya berpaham Aswaja padahal tindakannya bertentangan dengan nilai-nilai Aswaja.

Pernyataan di atas dipertegas oleh Kiai Ihya’, panggilan K Ihyauddin Yasin, yang didengarkan dengan khidmat oleh peserta Kolom Aswaja di atas. Untuk hal itu, Donatur tetap IPNU-IPPNU Kadur tersebut memberikan gambaran dari organisasi yang bilang berpaham Aswaja tapi sepak terjangnya justru berhaluan terbalik dengan paham Aswaja.

“Di kecamatan ini pernah dibangun stasiun televisi yang bernama Aswaja. Sayangnya, justru yang diperdengarkan kepada masyarakat adalah hal-hal yang jauh dari ajaran Islam,” tegasnya. “Belum lagi tindakan keras yang sering dilakukan oleh organisasi bergaris keras.”

Pada kesempatan itu, Kiai Ihya’ juga menyinggung betapa Liga Arab yang menjadi kelahiran agama Islam kini tak lagi mencerminkan paham Aswaja. “Sikap anarkis menjadi alasan utamanya,” kata Kiai Ihya’.

Suatu waktu, Kiai Ihya’ memutar kaset ceramah agama yang disampaikan oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin. Dalam ceramah Kiai As’ad, ujar Kiai Ihya’, dipaparkan bahwa suatu waktu Kiai As’ad bermimpi berjumpa dengan Rasulullah di Mekkah.

“Kata Kiai As’ad, dalam mimpinya itu Rasulullah bersabda bahwa Liga Arab tak lagi mencerminkan akidah Aswaja karena sikap keberagamaan yang terlalu ekstrem. Dan Kiai As’ad menimpali dengan tambahan sabda nabi, bahwa Indonesia lah kini yang menjadi pusat paham Aswaja,” beber Kiai Ihya’, penuh keseriusan.

Itu hanya mimpi. Kendati demikian, kenyataan bahwa sikap beragama ekstrem di dunia Arab nyaris menggurita.

“Dan NU harus selalu berada di garda terdepan untuk mempertahankan akidah Aswaja ini,” tandasnya.



Redaktur     : Mukafi Niam
Kontributor: Hairul Anam


Terkait