Daerah

Roadshow Matapena ke Pesantren Annuqayah

Ahad, 29 Januari 2012 | 02:26 WIB

Sumenep, NU Online
Kamis (25/1) sore, rombongan Komunitas Matapena yang tergabung dalam Roadshow Silaturrahmi ke Pondok Pesantren se-Jawa Timur tiba di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Malam harinya, sekitar 50 santri melakukan obrol santai bersama komunitas yang bertempat di Yogyakarta tersebut, di PP Annuqayah daerah Al Furqan.

Tampak hadir dari komunitas Matapena, Divisi Publikasi dan Multimidia Muhammad Mahrus, Divisi Pengembangan Komunitas dan Jaringan, Mas Pepi Jenggot, Rohim, Acing dan Wildan.
<>
Obrolan tersebut dipandu Edu Badrus Shaleh. Pada forum tersebut Edu', Panggilan Edu Badrus Shaleh, mempersilahkan komunitas Matapena untuk menyapa santri Annuqayah dengan obrolan seputar sastra pesantren.

Muhammad Mahrus yang diberi kesempatan pertama kali bicara merasa bingung dengan apa yang ia akan sampikan. "Saya liat alumni Annuqayah sudah pintar-pintar semua dalam menulis. Kira-kira apa yang sekarang kita ingin bicarakan? Saya jadi bingung," tanyanya pada santri yang hadir.

Lalu, salah seorang santri mengusulkan, perbincangan sebaiknya dimulai dari pemaparan profil komunitas Matapena. "Santri banyak yang belum tahu secara jelas apa komunitas Matapena, sebaiknya kita mulai dari penjelasan profil Matapena dulu. Karena yang kami ketahui hanya dalam bidang penerbitan," usul Faizi Roziqi.

Muhammad Mahrus kemudian mempersilhkan kepada bagian pengembangan Komunitas dan Jaringan untuk menyampaikan profil komunitasnya.

"Matapena berdiri pada tahun 2005 yang dicetuskan oleh enam orang. Pada awal berdirinya Matapena kesulitan naskah untuk menerbitkan novel bercirikan pesantren, namun sekarang sudah tidak lagi," tutur Pepi. "Dan saat ini telah terbentuk kurang lebih 1400 anggota di 40 rayon di Jawa," lanjutnya.

Lebih jauh ia memaparkan program acara komunitas Matapena. Sampai saat ini, katanya, komunitas yang didirikan sebagai wadah kepada santri yang suka menulis fiksi telah melakukan program; liburan sastra pesantren yang diformat dengan workshop kepenulisan dalam bentuk liburan, tahlilan sastra yang diadakan tiap bulan pada malam Jum'at akhir, ngobrol sastra, bedah calon novel, dan penerbitan karya.

Setelah pemaparan profil, lalu dilanjutkan bedah buku Mafia Three in One yang dibedah oleh penulis, Muhammad Mahrus. Hadirnya buku setebal 216 halaman itu berinjak dari pengamatan dan pengalaman penulis sebagai salah satu alumni pesantren di Malang atas kriminalitas yang terjadi di pesantren, seperti kasus pencurian, bolos sekolah dan keluar pondok pesantren yang hal itu, kata Mahrus, dimata umum tidak baik.

“Saya ingin menyampaikan, entah apakah pesannya sampai atau tidak, ada sesuatu yang dimata umum salah. Padahal mereka semangat melakukan pembaruan, perbaikan di dalam komunitas, tapi ada tujuan lain yang dapat dibenarkan,” paparnya kepada puluhan santri.

Melalui tiga tokoh santri (Sofi, Rohim dan Imran) yang menjadi perintis komunitas tersebut, sebagaimana dalam buku tersebut, ia terpaksa harus selalu membentur peraturan pesantren, yaitu larangan keluar malam untuk menebus kehausannya akan ilmu-ilmu yang tidak diajarkan di pesantren.

Tiap malam tiga santri tersebut memanjat pagar pesantren yang telah dikunci untuk menjumpai orang kampung yang punya keilmuan yang di dalam pesantren tidak difasilitasi.

Pelajaran yang ingin disampiakan, “Pesantren lebih baik jika bisa mengakomodir seluruh kebutuhan santri,” lanjutnya sebelum mengahiri pembicaraannya.

Roadshow pesantren dan bedah buku tersebut telah dilakukan ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur mulai 17 Januari lalu, dan Pesantren Annuqayah terakhir silaturrahmi ke berbaga pondok pesantren sebelum kembali lagi ke Yogyakarta.



Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: M. Kamil Akhyari


Terkait