RMI PBNU Dorong Pemanfaatan AI dengan Pendekatan Spiritual Pesantren
NU Online · Senin, 29 Juni 2026 | 19:00 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) KH Hodri Arief menegaskan, tidak menganggap kecerdasan buatan (AI) sebagai sesuatu yang bersifat sekunder. Menurutnya, AI dapat menjadi hal yang primer apabila didampingi dengan kecerdasan spiritual yang berkembang di lingkungan pesantren.
"Pesantren perlu mengimbangi pola belajar yang cepat ini dengan memberikan pola belajar yang juga berimbang," katanya dalam acara AI Teaching Power Impact Forum di Jakarta, pada Senin (29/6/2026).
Kiai Hodri menegaskan bahwa pesantren selama ini telah melakukan berbagai ikhtiar yang luar biasa dalam menghadapi perkembangan zaman. Baginya, para santri tidak boleh hanya mengandalkan AI, melainkan tetap menjaga relasi personal antara santri dan guru.
"Sehingga, di situ, ilmu tidak hanya sebatas transfer keilmuan, tetapi juga transfer emosional," jelasnya.
Ia menjelaskan, AI yang ada saat ini dapat berkembang sehingga tidak hanya berfungsi menjawab pertanyaan spontan para santri, melainkan juga dapat dikembangkan menyerupai forum bahtsul masail.
"Sehingga bisa digunakan untuk bertanya tentang masalah-masalah hukum agama. Bisa ditanya ke AI dan itu menjadi sumber alternatif dalam pembahasan hukum Islam," jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengakui bahwa masih banyak pesantren yang belum sepenuhnya membuka diri terhadap perangkat teknologi informasi. Baginya, hal tersebut disebabkan kehati-hatian para kiai dalam menerima arus informasi yang sangat deras.
"Pesantren masih sangat hati-hati dalam membuka diri. Banjir informasi yang tidak bisa dikelola dengan baik bisa memengaruhi para santri untuk berpikir tentang hal-hal yang belum pantas mereka pikirkan," katanya.
Ia juga mengingat bahwa pesantren memegang prinsip al muhafadhah 'ala al qadim as shalih wal akhdzu bil jadid al ashlah atau biasa diartikan sebagai bentuk dalam memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik.
"Menjaga warisan ilmu, amal, dan budaya yang baik, sekaligus menerima hal-hal baru yang lebih relevan dan bermanfaat bagi kemajuan pesantren," jelasnya.
Lebih lanjut, Kiai Hodrie menyebut merupakan perkembangan AI sangat menarik karena mampu memberikan kecepatan dalam belajar. Namun, ia menegaskan, pesantren juga mengenal konsep ma'rifah, yakni bukan sekadar mengetahui, melainkan juga merasakan.
"Artificial intelligence itu memberi tahu kita, tetapi mungkin tidak merasakan apa yang terjadi pada suasana batin kita," terangnya.
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
4
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
5
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua