Daerah

SMA Islam Miftahul Ulum Terapkan Pengamalan Keislaman

Senin, 23 Januari 2012 | 05:36 WIB

Pamekasan, NU Online
Pengamalan ajaran Islam amat penting diterapkan dalam dunia pendidikan. Tanpanya, roda pendidikan bakal bergulir tidak karuan, menjaga jarak dengan nilai-nilai yang telah digariskan oleh Allah melalui Rasul-Nya. Bila itu terjadi, maka suasana pendidikan akan terasa kering nan hampa.

Setidaknya, itulah yang menjadi landasan pijak kepala SMA Islam Miftahul Ulum, Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan, Jam’an, M.Pd sehingga menerapkan aktivitas keislaman di sekolah yang sedang dinakhodainya.
<>
Aktivitas keislaman tersebut berupa shalat Dhuha berjama’ah tiap kali jam istirahat sekolah. Seusai siswa menjalani proses belajar mengajar pun tidak langsung pulang. Mereka masih shalat Dzuhur di masjid Baiturrahman yang berada di lingkungan SMA Islam Miftahul Ulum, sekolah berbasis Islam yang dinaungi oleh Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam Miftahul Ulum (Yaspimu).

Khusus Jumat pagi, sekitar pukul 05.45 WIB, para siswa-siswi SMA Islam Miftahul Ulum sudah berada di lingkungan sekolahnya. Seperempat menit kemudian, mereka berbondong-bondong dan serentak berkumpul di dalam masjid Baiturrahman, membaca surat Yasin bersama. Ada salah satu guru khusus yang menjadi pemandu pembacaan surat Yasin tersebut.

Tidak hanya itu. Tiap malam Jumat, bapak Jam’an juga menjadwalkan para anak didiknya agar pergi ke masjid Baiturrahman. Mereka membaca tahlil, yasin, dan shalat Magrib dan Isya bersama.

Lantunan shalawat nabi pun menggema di masjid Bairurrahman, saat malam Jumat. Adakalanya, bapak Jam’an yang memimpin pembacaan shalawat. Adakalanya pula seorang siswa atau siswi yang diberi kesempatan menggantikannya. Praktis, masjid Baiturrahman yang diapit oleh SMP dan SMA Islam Miftahul Ulum tidak sepi. Senandung shalawat nabi memecah kesunyian malam.

Lebih dari itu, materi-materi keislaman juga diberikan di sekolah. Sebut saja misalnya Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, Al-Qur’an dan Hadis, Nahwu-Sharraf, dan ilmu Fikih.

Menurut bapak Jam’an, upaya penerapan pengamalan keislaman tersebut telah berlangsung lama, lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

“Saat itu, saya coba menerapkan shalat jamaah Ashar bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum. Dan inilah yang menjadi cikal-bakal shalat jama’ah di lingkungan Yaspimu hingga sampai detik ini,” ujarnya.

Ketika itu, Yapimu hanya memiliki Madrasah Ibtidaiyah. Berkat perjuangan bapak Jam’an dan teman-temannya yang alumni pondok pesantren Annuqayah dan Raudhah Najiyah Sumenep, kini di Yaspimu sudah berdiri lembaga pendidikan dari PAUD sampai tingkat SMA. Tinggal menunggu waktu atas berdirinya Perguruan Tinggi.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Hairul Anam


Terkait