Daerah

STAI An-Nawawi Bahas Sejarah Aswaja

Jumat, 24 Februari 2012 | 09:23 WIB

Purworejo, NU Online
Sekolah Tinggi Agama Islam An Nawawi Purworejo menyelenggarakan kegiatan stadium general dan bedah buku, yang kami ini mengambil tema sejarah Aswaja bekerjasama dengan penerbit Khalista Surabaya.

Kegiatan rutin tahunan ini diselenggarakan pada Kamis, 23 Februari 2012 di kampus I STAI An-Nawawi Jl. Ringroad Utara KM. 5 Berjan Purworejo Jawa Tengah. Menjadi narasumber  Dr KH Zuhrul Anam  (Pengasuh pesantren At-Taujieh Leler Banyumas) dan Ustadz Muhammad Idrus Ramli, penulis buku Pengantar Sejarah Ahlussunnah. Acara dibuka oleh KH Achmad Chalwani (Pengasuh Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo)
<>
Dalam release yang diterima NU Online, acara ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan keilmuan kepada segenap sivitas akademika STAI An-Nawawi Purworejo sesuai dengan salah satu misi STAI An-Nawawi Purworejo, yaitu menciptakan kader-kader bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, beriman dan bertakwa, memiliki daya kreasi dan apresiasi seni, berbudi luhur dan mampu berperan serta dalam pembangunan. Sekitar 200 mahasiswa hadir dalam acara ini.

Terkait dengan tema Sejarah Aswaja, ini merupakan langkah untuk membentengi dari gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam murni yang dengan mudahnya mengkafirkan amaliah-amaliah ahlussunah wal jamaah an Nahdliyah. Para mahasiswa diharapkan memacu diri mengkaji warisan ulama salaf shalihin yang beraliran ahlussunnah wal jamaah baik dari aspek akidah, sejarah, sosial, politik, ekonomi dan sebagainya.

Para pembicara menyampaikan Aswaja sesungguhnya bukanlah madzhab, tetapi sebuah manhaj al fikr (cara berpikir) tertentu yang digariskan oleh para sahabat dan muridnya, yaitu generasi tabi’in yang memiliki intelektualitas tinggi dan relatif netral dalam mensikapi situasi politik ketika itu.

Salah satu karakter Aswaja adalah selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi, oleh karena itu Aswaja tidaklah jumud, tidak kaku, tidak eksklusif, dan juga tidak elitis, apa lagi ekstrim. Sebaliknya Aswaja bisa berkembang dan sekaligus dimungkinkan bisa mendobrak kemapanan yang sudah kondusif. Tentunya perubahan tersebut harus tetap mengacu pada paradigma dan prinsip al-sholih wa al-ahslah.

Karena itu implementasi dari qaidah al-muhafadhoh ala qodim al-sholih wa al-akhdzu bi al jadid al-ashlah (Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik), adalah menyamakan langkah sesuai dengan kondisi yang berkembang pada masa kini dan masa yang akan datang dalam semua bidang kehidupan baik, aqidah, syariah, akhlaq, sosial budaya, ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya.

Dengan demikian, masih terbuka luas wacana pemikiran Islam yang transformatif, kreatif, dan inovatif, sehingga dapat mengakomodir nuansa perkembangan kemajuan budaya manusia. Atau selalu up to date dan tanggap terhadap perubahan zaman.


Redaktur: Mukafi Niam


Terkait