Nasional

Guru Besar UGM: Cuaca Kian Ekstrem Percepat Ancaman Bencana dan Krisis Pangan Global

NU Online  ·  Ahad, 28 Juni 2026 | 22:00 WIB

Guru Besar UGM: Cuaca Kian Ekstrem Percepat Ancaman Bencana dan Krisis Pangan Global

Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dwikorita Karnawati dalam Forum Pemikiran Bulaksumur bertajuk Krisis Iklim, Mitigasi Bencana, dan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan, Sabtu (27/6/2026). (tangkapan layar Zoom)

Jakarta, NU Online

 

Krisis iklim tidak lagi dipandang sebagai ancaman yang akan terjadi di masa mendatang. Dampaknya kini telah nyata dirasakan melalui meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan dunia.

 

Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan fenomena alam yang mengalami percepatan sejak Revolusi Industri akibat meningkatnya aktivitas manusia.

 

Menurutnya, kenaikan suhu global sekitar 1,55 derajat Celsius dalam kurun sekitar 170 tahun telah melampaui target yang sebelumnya diperkirakan baru akan tercapai menjelang tahun 2100.

 

“Kenaikan suhu bumi yang sangat cepat ini menyebabkan siklus hidrologi menjadi semakin ekstrem,” ujarnya dalam Forum Pemikiran Bulaksumur bertajuk Krisis Iklim, Mitigasi Bencana, dan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan, Sabtu (27/6/2026).

 

“Kita menyaksikan dalam satu kawasan terjadi banjir besar, sementara wilayah lain mengalami kekeringan. Fenomena ini oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan disebut sebagai climate boiling,” sambungnya.

 

Dia menilai percepatan perubahan iklim telah memperbesar risiko bencana geohidrometeorologi. Istilah yang diperkenalkannya itu mencakup berbagai bencana yang dipicu keterkaitan faktor geologi, hidrologi, dan meteorologi, mulai dari banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga terganggunya ketahanan pangan.

 

Menurutnya, ancaman tersebut tidak hanya berdampak pada meningkatnya jumlah bencana, tetapi juga berpotensi memicu krisis pangan global apabila perubahan iklim tidak segera dikendalikan.

 

Dwikorita memperingatkan bahwa dunia dapat menghadapi gagal panen secara bersamaan pada dekade 2050-an sehingga ketergantungan terhadap impor pangan tidak lagi menjadi solusi.

 

“Ketika hampir seluruh negara mengalami gagal panen, kita tidak bisa lagi bergantung pada impor pangan. Karena itu, akar persoalannya harus diselesaikan sejak sekarang, yaitu bagaimana manusia mengurangi penyebab perubahan iklim sekaligus memperkuat kemampuan adaptasi masyarakat,” katanya.

 

Selain menyoroti pentingnya pengurangan emisi penyebab perubahan iklim, Dwikorita juga menekankan perlunya strategi mitigasi bencana yang memadukan pemanfaatan teknologi tepat guna dengan kearifan lokal.

 

Menurutnya, pendekatan tersebut mampu memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memastikan kelompok rentan memperoleh perlindungan yang lebih baik.

 

“Ketika perguruan tinggi yang kali ini mahasiswa melakukan pemetaan wilayah rawan bencana bersama masyarakat, sekaligus mengidentifikasi kelompok rentan sebagai prioritas utama dalam sistem perlindungan masyarakat,” katanya.

 

Lebih lanjut, dia menilai penguatan kapasitas masyarakat juga harus dimulai dari dunia pendidikan.

 

Menurutnya, pendidikan masa depan perlu mengedepankan pendekatan problem-based learning sehingga mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga bekerja secara kolaboratif bersama masyarakat untuk menyelesaikan persoalan nyata, termasuk tantangan perubahan iklim dan mitigasi bencana.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang