Daerah

Turats Ulama Banjar Kalsel Tersebar, Daurah Tahqiq Dorong Inventarisasi hingga Digitalisasi

Sabtu, 12 September 2026 | 20:00 WIB

Turats Ulama Banjar Kalsel Tersebar, Daurah Tahqiq Dorong Inventarisasi hingga Digitalisasi

Filolog dan sejarawan Islam Nusantara, Ginanjar Syaban (tebuireng.online)

Banjar, NU Online

Khazanah keilmuan ulama Banjar masih tersebar di berbagai wilayah sehingga membutuhkan inventarisasi, katalogisasi, dan digitalisasi. Upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Daurah Tahqiq Eksklusif Sesi 1 yang digelar Beit at-Turath al-Islami Kalimantan di Markaz Beit at-Turath al-Islami Kalimantan, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (11/9/2026).

 

Filolog dan sejarawan Islam Nusantara, Ginanjar Sya’ban, mengatakan turats ilmu Banjar tersimpan dalam berbagai bentuk, mulai dari manuskrip tulisan tangan hingga naskah cetakan tua. Khazanah tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu serta tersebar di sejumlah wilayah.

 

“Turats ilmu Banjar ini ada dalam dua bentuk. Pertama, masih berupa karya-karya dalam naskah kuno tulisan tangan (manuskrip) dan naskah cetakan tua,” jelasnya.

 

Menurut Ginanjar, karya ulama Banjar tidak hanya ditemukan di Kalimantan Selatan, tetapi juga tersebar di Sumatra, Jawa, Semenanjung Malaysia, Singapura, hingga Timur Tengah.

 

Ia menilai kekayaan tersebut belum sepenuhnya terdokumentasi karena khazanah intelektual ulama Banjar masih berserakan dan belum terhimpun secara sistematis.

 

“Meskipun kaya dan besar, narasi sedemikian agung, turats ini bersifat terserak, tercecer belum tersimpun. Kita diskusikan peta kerja bagaimana merevitalisasi turats dan khazanah intelektual serta warisan keilmuan Ulama Banjar ini,” ungkapnya.

 

Ginanjar menyebut langkah awal revitalisasi perlu dilakukan melalui inventarisasi karya-karya ulama Banjar yang tersebar. Setelah terdata, naskah tersebut perlu dikatalogisasi dan dilanjutkan dengan proses digitalisasi.

 

“Secara fisik mungkin sekarang bisa kita jumpai tetapi beberapa hal harus kita lakukan pencegahan,” jelasnya.

 

Ia mencontohkan pentingnya penyelamatan manuskrip melalui pengalaman berbagai negara dalam menjaga warisan intelektual. Menurutnya, Malaysia menjadi salah satu negara yang menyimpan manuskrip setelah turut mengambil langkah penyelamatan ketika terjadi perang di Bosnia.

 

“Jangka panjangnya adalah orang yang ingin melalukan penelitian dan riset manuskrip Balkan seperti Bosnia dan Harzegowina harusnya datang ke Malaysia karena mereka yang menyimpan,” ujarnya.

 

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU itu juga menyebut Jepang menyimpan ribuan karya ulama Asia Tenggara berbahasa Arab.

 

Selain inventarisasi manuskrip, Ginanjar mendorong penulisan biografi ulama Banjar secara sistematis. Setidaknya terdapat delapan unsur yang perlu dicatat, yakni nama lengkap, tanggal lahir, sanad keguruan, jaringan murid, karya tertulis, perjalanan hidup dan peran sosial kebangsaan serta keluarga, tanggal wafat dan tempat dimakamkan, serta referensi.

 

Dalam kegiatan yang sama, Ketua Prodi Magister Turats Islam Fakultas Islamic Studies UIII Depok H Muhammad Ilyas Marwal menegaskan bahwa turats Nusantara merupakan bagian dari khazanah Islam global.

 

“Kalimantan Selatan mempunyai tradisi keilmuan Islam yang kuat. Turath Nusantara merupakan bagian dari turath Islam global, bukan khazanah kelas dua,” ungkapnya.

 

Ia menilai tahqiq terhadap karya ulama Nusantara bukan hanya pekerjaan akademik, tetapi juga bagian dari upaya mengembalikan memori intelektual umat.