Daerah

UNU Yogyakarta dan IPB University Kembangkan Lahan Wakaf Produktif MWCNU Pleret

Sabtu, 7 November 2026 | 15:00 WIB

UNU Yogyakarta dan IPB University Kembangkan Lahan Wakaf Produktif MWCNU Pleret

Suasana praktik cangkok batang di Pesantren Pemanahan MWCNU Pleret, Bantul, Sabtu (7/11/2026). (Lakpesdam NU DIY)

Bantul, NU Online

Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta bersama IPB University berkolaborasi mengembangkan lahan wakaf produktif milik MWCNU Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pemanfaatan Lahan Wakaf Produktif yang diikuti 30 petani penggarap di Joglo Pondok Pesantren Pemanahan NU, Jalan Pleret–Pathuk Nomor 4, Segoroyoso, Pleret, Bantul, Sabtu-Ahad, 7-8 November 2026.

 

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini merupakan bagian dari program Tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Lakpesdam PWNU DIY dan MWCNU Pleret serta mendapat dukungan dari UNU Yogyakarta.

 

Program ini diarahkan untuk mengembangkan tanah wakaf seluas sekitar 1,5 hektare menjadi kawasan pertanian produktif berupa kebun bibit dan demplot agroforestri. Melalui kegiatan tersebut, petani tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang budi daya tanaman, tetapi juga keterampilan memproduksi bibit unggul dan pupuk organik secara mandiri.

 

Ketua Tim Dospulkam IPB University, M. Shohibuddin, menjelaskan bahwa salah satu kendala dalam pengembangan lahan wakaf yang belum produktif adalah keterbatasan akses terhadap bibit berkualitas serta ketergantungan petani pada pupuk yang harus dibeli.

 

“Kendala lahan wakaf yang menganggur sering sederhana: bibit yang baik sulit dicari dan pupuk harus dibeli dengan harga pasar. Hari ini peserta belajar membuat keduanya sendiri dari bahan yang ada di sekitar pesantren,” jelasnya.

 

Karena itu, pelatihan dirancang dengan pendekatan praktik langsung. Sekitar tiga perempat waktu dalam setiap sesi dialokasikan untuk kegiatan praktik secara berkelompok. Sebanyak 30 petani dibagi menjadi kelompok kecil yang masing-masing terdiri atas lima hingga enam orang.

 

Pada sesi pagi, peserta mendapatkan materi sekaligus praktik pembuatan media tanam dan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Narasumber dari IPB University, Andi Sukendro, memperagakan pembuatan arang sekam sebagai salah satu bahan media tanam melalui teknik pembakaran menggunakan cerobong.

 

Selanjutnya, peserta mempraktikkan perbanyakan tanaman melalui teknik cangkok, sambung pucuk, dan setek. Dalam kegiatan tersebut, pencangkokan dilakukan pada cabang empat pohon induk durian, sedangkan teknik sambung pucuk diterapkan pada 20 bibit durian asal biji.

 

Peserta juga menyiapkan media tanam berupa campuran tanah, cocopeat, dan arang sekam. Galon air minum bekas dimanfaatkan sebagai sungkup untuk menjaga kelembapan bibit.

 

Teknik perbanyakan vegetatif dipilih karena memungkinkan tanaman mempertahankan karakter unggul pohon induknya. Selain itu, tanaman hasil perbanyakan vegetatif umumnya dapat memasuki masa berbuah lebih cepat dibandingkan tanaman yang dikembangkan dari biji.

 

Pada sesi siang, pelatihan dilanjutkan dengan praktik pembuatan pupuk organik cair dan ekoenzim. Peserta mengolah batang pisang yang telah dicacah dan dihaluskan dengan campuran gula merah, EM4, dan air. Sementara itu, pepaya dan pisang matang dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan ekoenzim melalui proses fermentasi.

 

Pupuk organik cair diperkirakan dapat digunakan sekitar dua minggu setelah proses pembuatan. Adapun ekoenzim membutuhkan waktu fermentasi lebih panjang dan diperkirakan matang pada Februari 2027.

 

Keterampilan tersebut diharapkan membantu petani memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sarana produksi pertanian dari luar.

 

Perkuat Sinergi Perguruan Tinggi dan NU

Ketua Lakpesdam PWNU DIY, Hairus Salam, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kemitraan antara IPB University, UNU Yogyakarta, dan MWCNU Pleret. Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi berlanjut melalui pendampingan dan pengembangan lahan wakaf.

 

Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi penting untuk menghadirkan pengetahuan, teknologi, dan pendampingan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat dalam mengelola aset wakaf.

 

Ketua PWNU DIY, KH A Zuhdi Muhdlor, yang turut hadir dalam pembukaan kegiatan, mengapresiasi inisiatif MWCNU Pleret menyediakan lahan wakaf seluas sekitar 1,5 hektare untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif.

 

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan aset wakaf tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Diperlukan penguatan kapasitas masyarakat agar mampu memproduksi bibit, mengolah pupuk organik, dan mengelola kebun secara mandiri.

 

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWCNU Pleret, Dr. Imam Muhsin, M.Ag., menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia berharap dukungan IPB University dan UNU Yogyakarta dapat berlanjut dalam bentuk pendampingan dan pemantauan setelah pelatihan selesai.

 

Menurutnya, peserta tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga diharapkan terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan lahan wakaf.

 

Pada hari kedua, pelatihan dijadwalkan berlanjut dengan agenda praktik penyiapan lahan kebun bibit di atas tanah wakaf MWCNU Pleret. Bibit yang dihasilkan dari pelatihan diharapkan menjadi modal awal pengembangan kebun bibit. Sementara itu, pupuk organik yang diproduksi peserta diproyeksikan mulai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan penanaman pada Februari 2027.

 

Melalui kolaborasi ini, IPB University dan UNU Yogyakarta diharapkan dapat menghadirkan model pengembangan aset wakaf berbasis ilmu pengetahuan, pemberdayaan petani, dan kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan demikian, tanah wakaf tidak hanya menjadi aset keagamaan, tetapi juga sumber manfaat ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi warga.