Daerah

Yaspimu Gelar Workshop, Pengembangan Kurikulum & Penilaian Pembelajaran

Ahad, 22 Januari 2012 | 09:19 WIB

Pamekasan, NU Online
Sabtu (21/1), Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam Miftahul Ulum (Yaspimu), Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan menggelar workshop pengembangan kurikulum & penilaian pembelajaran sekecamatan.

Kegiatan yang ditempatkan di Aula Lantai II Yaspimu ini, diikuti oleh 80-an para praktisi pendidikan yang ada di kecamatan Kadur. Penyajinya ialah Kasi Kurikulum Dinas Pamekasan Salamet Gueistiantoko dan Pengawas Pendidikan SMP dan SMA Pamekasan, Abdurrahman.
<>
“Kegiatan ini diikuti oleh para kepala sekolah MI, SLTP, dan SLTA swasta di kecamatan Kadur. Semua guru dari tingkat PAUD sampai SMA serta para guru Madrasah Diniyah yang ada di lingkungan Yaspimu juga diikutsertakan,” ujar salah satu pengurus Yaspimu yang juga kepala SMA Islam Miftahul Ulum, Jam’an, M.Pd saat memandu kegiatan tersebut sekaligus sambutan mewakili ketua Yaspimu.

Perkembangan pendidikan, lanjutnya, harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Lebih dari itu, tambahnya, memanfaatkan media pembelajaran, melakukan penilaian pembelajaran secara baik, serta menyeriusi penanganan kurikulum merupakan kemestian yang tak dapat dielakkan oleh para praktisi pendidikan.

Jam’an juga menyinggung tentang peranan seorang guru.

“Dari 50 ribu lebih penduduk di kecamatan ini, kita termasuk manusia pilihan. Oleh karenanya, kita harus senang menjadi guru. Agar kita tidak bosan dan membosankan bagi anak didik kita. Dan menjadi guru merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Abdurrahman yang menjadi penyaji pertama menyatakan bahwa dirinya sedang mengemban mandat dari kepala dinas Pamekasan. Mandat tersebut selalu memantik spirit dirinya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di Pamekasan.

Di samping itu, dengan memanfaatkan LCD Proyektor milik Yaspimu, ia juga menjelaskan tentang 4 elemen hasil aktivitas pendidikan yang harus integral, yaitu output, outcome, impact, dan benefit (prestasi siswa).

“Dan keempat elemen tersebut harus didukung oleh 6 hal: manajemen, kurikulum, ketenagaan, sarana, dana, dan evaluasi,” paparnya tanpa senyuman, amat serius.

Abdurrahman juga menyinggung tentang pembelajaran dengan model PAKEM.

“PAKEM ini merupakan model pembelajaran yang akseleratif, kreatif, dan menyenangkan. Guru harus mampu menghadirkan model PAKEM ini ke dalam proses belajar mengajar di sekolah,” imbuhnya.

Selain itu, Abdurrahman menjelaskan tentang kegiatan unggul yang mesti mewarnai sekolah. Yakni: memiliki nilai pengembangan pribadi siswa, nilai guna dalam kehidupan sosial, dan nilai kompetitif.

Berkenaan dengan nilai kompetitif, Abdurrahman berbagi informasi bahwa hal itu menjadi ciri khas di SMA 1 Pamekasan.

“Di SMA 1 Pamekasan, kompetisi antar-siswa betul-betul digenjot oleh para guru,” katanya.

Selebihnya, Abdurrahman menitiktekankan penjelasannya pada jenis kegiatan yang penting digalakkan di sekolah beserta jenis orientasinya.

Sebagai penyaji kedua, Salamet Gueistiantoko tampil tak kalah menariknya. Dia mampu mencairkan forum yang cukup tegang dengan humor-humor menariknya.

Di awal penjelasan, Salamet Gueistiantoko menjelaskan tentang 10 ciri Guru Profesional. Pertama, selalu punya energi untuk siswanya. Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

Kedua, lanjut Salamet, punya tujuan jelas untuk pelajaran. “Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas”.

Ketiga, punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif. Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

Keempat, punya keterampilan manajemen kelas yang baik. Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

Kelima, bisa berkomunikasi dengan baik terhadap  orang tua siswa. Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.

Keenam, punya harapan yang tinggi pada siswanya. Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

Ketujuh, pengetahuan tentang kurikulum. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

Kedelapan, pengetahuan tentang subyek yang diajarkan. Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

Kesembilan, selalu memberikan yang terbaik  untuk Anak-anak dan proses pengajaran. Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan  mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.

“Dan kesepuluh, punya hubungan yang berkualitas dengan siswa. Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya,” tandasnya.

Pada aras itu, Salamet menekankan pada peserta workshop untuk betul-betul menyeriusi penguruasaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam pembelajaran. Dari sinilah Salamet mengajari peserta tentang mekanisme pengembangan Silabus.

Salamet juga memaparkan tentang 4 fungsi penilaian dalam pendidikan: mengukur keberhasilan siswa belajar,  mengukur tingkat keberhasilan guru mengajar (umpan balik), memperoleh data guna perbaikan kegiatan belajar-mengajar, dan untuk pelaporan/informasi efektifitas pendidikan.

Atas permohonan pihak Yaspimu, Salamet juga menjelaskan tentang media pembelajaran. Alat ukur/penilaian pun juga ia urai secara lugas dan gamblang.

“Satu hal yang perlu diperhatikan, media pembelelajaran itu hanyalah alat bantu, bukan pengganti guru. Atas segala hal, guru lah yang menjadi penentu utama kebaikan dunia pendidikan ini,” tandasnya.


 
Redaktur   : Mukafi Niam
Kontributor: Hairul Anam


Terkait