Daerah

Ziarah Kubur sebelum Silaturahim, Tradisi Lebaran Masyarakat Aceh

Sabtu, 21 Maret 2026 | 12:00 WIB

Ziarah Kubur sebelum Silaturahim, Tradisi Lebaran Masyarakat Aceh

Warga Blang Dalam, Pidie Jaya melakukan ziarah ke kuburan orang tua dan keluarganya pasca shalat idulfitri sebelum silaturahmi. (Helmi Abu Bakar/NU Online)

Banda Aceh, NU Online
Suasana pagi Idul Fitri di Aceh tidak hanya diwarnai gema takbir dan silaturahmi keluarga, tetapi juga tradisi ziarah kubur yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Usai melaksanakan Salat Id, Sabtu, (21/3/2026) warga berbondong-bondong mendatangi pemakaman untuk mendoakan keluarga yang telah wafat sebelum melanjutkan kunjungan ke rumah sanak saudara.


Di berbagai wilayah Aceh, seperti Banda Aceh, Bireuen, hingga Pidie Jaya dan daerah lainnya , aktivitas ziarah kubur tampak ramai sejak pagi hari. Warga datang bersama keluarga, membawa perlengkapan sederhana untuk membersihkan makam, seperti sapu dan air. Sejumlah peziarah terlihat membersihkan rumput liar, merapikan batu nisan, serta memanjatkan doa dengan khusyuk.

 

Bagi masyarakat Aceh, ziarah kubur bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari praktik keagamaan yang sarat makna spiritual. Tradisi ini menjadi momen untuk mengingat kematian sekaligus memperkuat hubungan batin dengan keluarga yang telah tiada.

 

Wakil Ketua PWNU Aceh  Tgk Iskandar Zulkarnaen, menegaskan bahwa tradisi ziarah kubur memiliki posisi penting dalam ajaran Islam dan budaya masyarakat Aceh. Menurutnya, praktik ini bukan hanya kebiasaan turun-temurun, tetapi bagian dari implementasi ajaran agama yang mengajarkan kesadaran akan kehidupan akhirat.


“Ziarah kubur mengajarkan manusia untuk mengingat akhirat, mendoakan yang telah wafat, serta memperkuat kesadaran bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara,” ujarnya, Sabtu,(21/3/2026). 


Dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe juga menambahkan bahwa dalam konteks Aceh, tradisi ziarah kubur memiliki dimensi sosial yang kuat. Masyarakat tidak hanya datang untuk berdoa, tetapi juga mempererat hubungan kekeluargaan melalui kebersamaan di makam.


“Di Aceh, ziarah kubur menjadi ruang pertemuan keluarga. Ini memperkuat ukhuwah, karena keluarga besar biasanya berkumpul dan saling mengingatkan akan pentingnya doa dan kebersamaan,” jelasnya.


Lebih lanjut, Tgk Iskandar Zulkarnaen menilai bahwa tradisi ziarah sebelum silaturahmi mencerminkan adab yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Mendahulukan doa kepada yang telah wafat menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus pengingat akan asal-usul keluarga.


“Ini adalah bentuk penghormatan kepada orang tua dan leluhur. Sebelum bersilaturahmi dengan yang hidup, masyarakat Aceh terlebih dahulu mendoakan yang telah wafat. Ini nilai yang sangat luhur,” tambahnya.

 

Sementara itu, intelektual Nahdlatul Ulama (NU) Aceh, Tgk Masrur—mantan Ketua GP Ansor Aceh menegaskan bahwa tradisi ini memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam, baik dari hadis maupun kitab klasik (turats).

 

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:

> "كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ"
 

 

“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena itu mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)


Selain itu, ia juga menyampaikan doa yang diajarkan Rasulullah saat ziarah:

 

"السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ..."
 

“Semoga keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim...”(HR. Muslim)


Alumni Dayah Darul Falah Lueng Teungoh, Pidie Jaya itu menambahkan dalam khazanah kitab klasik, lanjutnya, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebutkan:

 

"فَزِيَارَةُ الْقُبُورِ تُذَكِّرُ الْمَوْتَ وَتُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا"

 

“Ziarah kubur dapat mengingatkan kepada kematian dan menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia.”

 

Sementara Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan:

 

> "يُسْتَحَبُّ لِلرِّجَالِ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لِلتَّذَكُّرِ وَالِاعْتِبَارِ"

 

“Disunnahkan untuk berziarah kubur guna mengambil pelajaran dan peringatan.”


Menurut Tgk Masrur, ajaran dalam hadis dan kitab klasik tersebut kemudian membumi dalam tradisi masyarakat Aceh.

 

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari amalan Ahlussunnah wal Jamaah yang hidup dalam budaya masyarakat. Ada nilai doa, pengingat kematian, dan kepedulian sosial,” ujarnya.


Setelah ziarah kubur, masyarakat Aceh biasanya melanjutkan dengan silaturahmi ke rumah keluarga dan tetangga. Momentum ini menjadi ajang saling memaafkan serta memperkuat ukhuwah Islamiyah.

 

Di tengah arus modernisasi, menurut kandidat doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh menjelaskan bahwa tradisi ziarah kubur tetap bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Aceh. 


Suasana pemakaman pada hari pertama Lebaran kerap dipadati peziarah, menunjukkan kuatnya nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, ziarah kubur sebelum silaturahmi tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga refleksi dari ajaran Islam yang hidup dalam budaya masyarakat Aceh—menggabungkan dimensi ibadah, sosial, dan kultural dalam satu kesatuan yang utuh.