Dilantik Jadi Anggota Parlemen Inggris, Pengungsi Somalia Sagal Abdi Disumpah dengan Al-Qur’an
Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:00 WIB
Sagal Abdi-Wali dari Partai Buruh terpilih sebagai Anggota Parlemen untuk Holborn dan St Pancras dalam pemilihan sela (Foto: parliament.uk)
Jakarta, NU Online
Sagal Abdi-Wali, mantan pengungsi asal Somalia, terpilih menjadi anggota parlemen Inggris setelah memenangi pemilihan sela di daerah pemilihan Holborn dan St Pancras, London.
Abdi-Wali resmi dilantik sebagai anggota House of Commons atau Dewan Rakyat Inggris. Dalam prosesi pengambilan sumpah, ia meletakkan tangan di atas Al-Qur’an dan mengucapkan sumpah kesetiaan kepada Raja Charles III beserta para ahli waris dan penerusnya.
“Saya bersumpah demi Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa saya akan setia dan memberikan kesetiaan yang tulus kepada Yang Mulia Raja Charles, para ahli waris dan penerusnya, sesuai dengan hukum. Semoga Tuhan menolongku,” kata Abdi-Wali, dilansir dari TRT World, Rabu (14/10/2026).
Abdi-Wali mengungkapkan kegembiraannya setelah resmi menjadi anggota parlemen.
“Saya telah resmi dilantik! Hari yang luar biasa bisa bertemu dengan rekan-rekan baru saya, saya sangat antusias untuk mewakili warga Holborn dan St Pancras!” tulisnya melalui akun media sosial X.
Politikus Partai Buruh berusia 42 tahun itu mengalahkan pemimpin Partai Hijau, Zack Polanski, sekaligus merebut kursi yang sebelumnya diduduki mantan Perdana Menteri Keir Starmer. Berdasarkan hasil resmi pemilihan, Abdi-Wali meraih 12.292 suara, sedangkan Polanski memperoleh 8.928 suara.
Kemenangan itu mencatatkan dua sejarah sekaligus. Abdi-Wali menjadi perempuan pertama yang mewakili daerah pemilihan Holborn dan St Pancras sejak daerah tersebut dibentuk pada 1983. Ia juga menjadi warga Inggris keturunan Somalia pertama yang terpilih sebagai anggota House of Commons.
Karier politik Abdi-Wali berawal dari aktivisme masyarakat di London utara. Pada awal tahun ini, ia mencatatkan sejarah lain ketika menjadi perempuan kulit hitam pertama yang memimpin wilayah administratif Camden. Pengalaman tersebut memperkuat kiprahnya dalam politik lokal sebelum akhirnya melangkah ke parlemen nasional.
Dilansir dari Somalia Today, Abdi-Wali lahir di Somalia pada 1984. Ia meninggalkan negara itu bersama keluarganya pada awal 1990-an, ketika perang saudara dan runtuhnya tatanan negara memaksa banyak warga mengungsi ke luar negeri.
Ia tiba di London bersama ibunya dan empat saudara laki-lakinya sebelum menetap di Gospel Oak, kawasan di wilayah Camden, London utara. Saat itu, usianya baru tujuh tahun. Ayahnya menyusul mereka beberapa waktu kemudian.
Kepindahan tersebut menjadi awal kehidupan baru bagi Abdi-Wali di negara yang bahasa dan lingkungannya masih asing. Ketika pertama kali tiba di Inggris, ia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Namun, ia perlahan beradaptasi dan mulai menjalin pertemanan melalui sepak bola serta berbagai kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya.
Ibunya turut memberi pengaruh penting dalam perjalanan hidupnya. Perempuan itu memiliki latar belakang pendidikan hukum di Somalia dan aktif dalam kegiatan masyarakat setelah menetap di Inggris. Pengalaman ibunya dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat menjadi salah satu inspirasi yang membentuk pandangan politiknya.