Pemerintah Somalia dan Dunia Kecam Pengakuan Israel atas Negara Somaliland
NU Online · Selasa, 30 Desember 2025 | 12:30 WIB
Husnul Khotimah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud secara terbuka mengecam pengakuan Israel atas kedaulatan Somaliland dan menyebutnya sebagai bentuk agresi politik terhadap negaranya.
"Agresi ilegal Perdana Menteri Netanyahu dalam mengakui sebagian wilayah Utara Somalia bertentangan dengan hukum internasional. Campur tangan dalam urusan dalam negeri Somalia bertentangan dengan aturan hukum dan diplomatik yang telah mapan," tulisnya dalam akun X miliknya.
Ia menegaskan bahwa Somalia dan rakyatnya adalah satu kesatuan dan tak dapat terpisahkan oleh perpecahan dari pihak manapun.
Melansir Al Jazeera, Mohamud juga menyebut tindakan Israel tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
“Keputusan Israel ini adalah invasi telanjang terhadap kedaulatan Somalia dan pelanggaran serius terhadap hukum internasional,” kata Mohamud dalam sebuah pidato kenegaraan.
Mohamud juga menyerukan persatuan nasional untuk menghadapi keputusan tersebut. “Saya menyerukan kepada seluruh rakyat Somalia untuk tetap bersatu dan mempertahankan integritas wilayah negara kita dari segala bentuk pelanggaran,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Negara Urusan Luar Negeri Somalia Ali Omar menegaskan bahwa Mogadishu, ibu kota Somalia, tidak akan pernah menerima keputusan tersebut.
“Pengakuan ini tidak akan pernah dapat diterima atau ditoleransi oleh pemerintah dan rakyat Somalia,” kata Ali Omar, dikutip dari Al Jazeera.
Pemerintah Somalia juga mengajukan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB, dengan menyebut langkah Israel sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan regional.
Kecaman tidak hanya datang dari Somalia. Liga Arab dan Gulf Cooperation Council (GCC) secara resmi menolak pengakuan Israel tersebut. Melaporkan dari Anadolu Agency, Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menyatakan bahwa langkah Israel merupakan campur tangan yang tidak dapat diterima.
“Pengakuan sepihak ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan kedaulatan Somalia,” ungkap Aboul Gheit dalam pernyataan resmi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal GCC Jasem Albudaiwi menambahkan bahwa keputusan Israel menciptakan preseden berbahaya.
“Langkah ini mengancam stabilitas kawasan dan melanggar prinsip dasar hubungan internasional,” ujarnya.
Turki turut mengecam keputusan sepihak Israel tersebut, Kepala Komunikasi Kepresidenan, Burhanettin Duran, menyampaikan penilaiannya mengenai pengakuan pemerintah Israel atas kemerdekaan wilayah Somaliland dalam sebuah unggahan di akun NSosyal miliknya.
"Langkah ini, yang sama artinya dengan campur tangan dalam urusan internal Somalia, menargetkan kedaulatan dan integritas wilayah negara tersebut dan semakin membuat keseimbangan yang rapuh di kawasan itu menjadi lebih rentan," tulisnya sebagaimana dikutip dari Web Resmi Direktorat Komunikasi Turki.
Ia menyebut bahwa sikap tersebut sebagai salah satu tindakan tidak bertanggung jawab dari pemerintahan Netanyahu, yang memiliki rekam jejak kelam yang ditandai dengan genosida dan pendudukan, dan yang merusak upaya perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.
"Saya percaya bahwa komunitas internasional harus mengambil sikap bersatu melawan inisiatif-inisiatif yang akan meningkatkan ketegangan dan meningkatkan risiko keamanan di Tanduk Afrika. Turki akan dengan tegas melanjutkan dukungannya terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Somalia yang bersaudara," pungkasnya.
Anadolu merilis berita bahwa sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Mesir, dan Palestina juga menyatakan dukungan penuh terhadap keutuhan wilayah Somalia dan menolak pengakuan Israel tersebut.
Berbeda dengan reaksi keras di Mogadishu dan dunia Arab, suasana di ibu kota Somaliland, Hargeisa, justru dipenuhi perayaan. Ribuan warga turun ke jalan mengibarkan bendera Somaliland dan Israel. Salah satunya, Jama Suleyman, yang menyebut hari itu sebagai hari bersejarah.
“Kami menyambut setiap negara yang mengakui keberadaan kami. Ini adalah hari bersejarah,” kata warga Hargeisa tersebut sebagaimana dikutip Al-Monitor.
Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi juga menyebut pengakuan Israel sebagai titik balik perjuangan diplomatik wilayahnya. “Pengakuan ini adalah validasi atas hak rakyat Somaliland untuk menentukan nasib sendiri,” ujarnya.
Meski disambut perayaan di Somaliland, keputusan Israel mengakui kedaulatan wilayah tersebut menuai penolakan luas di tingkat internasional. Hingga kini, mayoritas negara dunia dan organisasi internasional tetap mengakui Somaliland sebagai bagian dari Republik Federal Somalia. Pengakuan sepihak Israel dinilai berpotensi memperkeruh stabilitas geopolitik di kawasan Tanduk Afrika dan Timur Tengah.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa pengakuan tersebut merupakan bagian dari strategi diplomatik Israel.
“Hari ini saya mengumumkan pengakuan resmi Republik Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat. Pengakuan ini membuka babak baru dalam hubungan yang akan memajukan perdamaian dan kemakmuran bersama,” kata Netanyahu, sebagaimana dikutip NU Online dari Anadolu Agency, Selasa (30/12/2025).
Netanyahu menambahkan bahwa Israel akan membuka jalur kerja sama dengan Somaliland di bidang pertanian, teknologi, kesehatan, dan keamanan, sejalan dengan kerangka Abraham Accords. Hal tersebut menjadikan Israel sebagai negara pertama di dunia yang memberikan pengakuan diplomatik penuh kepada Somaliland.
Pernyataan itu juga dilaporkan The Guardian, bahwa langkah Israel tersebut merupakan keputusan paling kontroversial dalam kebijakan luar negeri Israel di Afrika Timur dalam beberapa dekade terakhir.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua