Internasional

Tiga Tahun Perang, Sistem Kesehatan Gaza Tertekan, Ribuan Pasien Kritis Menunggu Perawatan

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Tiga Tahun Perang, Sistem Kesehatan Gaza Tertekan, Ribuan Pasien Kritis Menunggu Perawatan

Korban genosida Israel di Gaza. (Foto: WAFA)

Gaza, NU Online

Tiga tahun perang telah membuat sistem kesehatan di Jalur Gaza berjuang untuk bertahan. Sejumlah rumah sakit rusak atau hanya beroperasi sebagian, persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis menipis, jumlah tenaga kesehatan berkurang, sementara ribuan pasien masih menunggu evakuasi untuk mendapatkan perawatan di luar negeri.


Kondisi ini memberikan tekanan besar terhadap pasien korban luka perang, penderita kanker, gagal ginjal, penyakit jantung, dan berbagai penyakit kronis lainnya. Perempuan hamil dan anak-anak juga menghadapi risiko kesehatan yang semakin tinggi di tengah memburuknya layanan medis dan situasi kemanusiaan.


Dikutip dari WAFA, Direktur Rumah Sakit Al-Tahrir di Kompleks Medis Nasser, Ahmad al-Farra, menjelaskan bahwa dari 38 rumah sakit yang beroperasi sebelum perang, hanya 22 yang masih berfungsi.


Kapasitas tempat tidur rumah sakit juga menurun dari sekitar 3.950 menjadi 2.637. Sementara itu, sebanyak 62 persen peralatan pencitraan diagnostik tidak dapat digunakan. Jumlah dokter berkurang 34,6 persen menjadi sekitar 1.363 orang.


Kekurangan obat-obatan semakin parah. Sebanyak 44 persen obat esensial penyelamat jiwa dilaporkan kosong sepenuhnya. Kelangkaan juga terjadi pada obat anestesi, insulin, cairan infus, obat kemoterapi, dan berbagai perlengkapan medis lainnya.


Sejumlah layanan penting, termasuk radioterapi dan operasi jantung terbuka, bahkan telah dihentikan.


Ribuan Pasien Menunggu Evakuasi Medis

Evakuasi medis menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi pasien di Gaza. Al-Farra menyebut sebanyak 2.027 pasien meninggal dunia saat menunggu persetujuan untuk bepergian demi mendapatkan perawatan.


Sementara itu, sekitar 21.000 pasien masih membutuhkan evakuasi medis, termasuk 5.803 anak-anak dan sekitar 2.800 pasien kanker.


Pasien kanker menghadapi keterbatasan peralatan diagnostik, obat kemoterapi, dan layanan perawatan lainnya. Adapun sekitar 700 pasien gagal ginjal membutuhkan layanan cuci darah tiga kali sepekan di tengah kekurangan perlengkapan medis esensial.


Layanan perawatan bayi baru lahir juga terdampak. Jumlah inkubator dilaporkan turun dari 162 menjadi 122 unit.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tidak ada rumah sakit di Gaza yang beroperasi dengan kapasitas penuh. Ribuan pasien membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di wilayah tersebut.


Sejak Oktober 2023, sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi untuk menjalani pengobatan di luar negeri. Namun, puluhan ribu pasien lainnya masih membutuhkan perawatan khusus.


Bulan Sabit Merah Palestina juga menyampaikan bahwa kerusakan fasilitas kesehatan, kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis, serta meningkatnya kebutuhan kemanusiaan terus membebani sektor kesehatan di Gaza.


Desakan Pembukaan Akses Bantuan Medis

Para pejabat kesehatan menyerukan pembukaan pintu perlintasan, masuknya obat-obatan dan perlengkapan medis tanpa pembatasan, serta perluasan evakuasi pasien untuk memperoleh perawatan di luar Gaza.


Mereka juga meminta agar tim medis spesialis dapat memasuki wilayah tersebut dan rumah sakit serta fasilitas kesehatan yang rusak segera dipulihkan.


Setelah tiga tahun perang, sistem kesehatan Gaza tidak hanya menghadapi kekurangan sumber daya, tetapi juga terancam kehilangan kemampuan untuk menyediakan layanan dasar bagi pasien yang membutuhkan pertolongan segera.