Kesehatan

Psikolog Ungkap Puasa Bangun Kebiasaan Positif, Jaga Mental, dan Tingkatkan Produktivitas

Selasa, 3 Maret 2026 | 15:30 WIB

Psikolog Ungkap Puasa Bangun Kebiasaan Positif, Jaga Mental, dan Tingkatkan Produktivitas

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Berpuasa di bulan Ramadhan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental dan produktivitas sehari-hari. Saat menahan lapar dan dahaga, kadar glukosa dalam tubuh menurun yang dapat memicu iritabilitas, seperti mudah marah dan sulit berkonsentrasi.


Psikolog dari Rumah Psikologi Daneer, Damalena Afiani, menjelaskan bahwa secara biologis otak mengalami kekurangan energi sementara sehingga toleransi terhadap stres menurun.


“Ketika stimulasi eksternal berkurang, seperti tidak makan dan minum saat berpuasa, kita menjadi lebih peka terhadap emosi yang biasanya tertutupi,” ujarnya kepada NU Online, Selasa (3/3/2026).


Ia menambahkan, hormon kortisol juga berperan dalam menjaga keseimbangan energi saat tubuh mengalami stres. Jika kadarnya meningkat berlebihan, seseorang bisa menjadi lebih sensitif, cemas, bahkan mudah tersinggung.


Menurut Damalena, puasa sekaligus menjadi sarana regulasi emosi dan latihan pengendalian diri (self control). Menahan lapar, haus, serta dorongan lainnya melibatkan kerja prefrontal cortex yang berfungsi mengendalikan emosi dan impuls dari amigdala.


“Artinya, puasa menjadi ajang latihan self-regulation alami jika dijalani secara sadar,” jelasnya.


Pengendalian diri, lanjutnya, merupakan indikator penting kesehatan mental. Seseorang yang sehat secara psikologis umumnya memiliki kontrol diri yang baik, sehingga lebih mampu terhindar dari gangguan kejiwaan, baik ringan maupun berat.


Dalam perspektif psikologi, pembatasan makan secara sadar juga dapat membantu meregulasi emosi, meningkatkan fungsi kognitif, serta menjaga keseimbangan mental.


Tips Menjaga Stabilitas Emosi Saat Puasa

Damalena membagikan sejumlah tips agar kondisi mental tetap stabil selama Ramadhan, di antaranya:

  • Tidur cukup, sekitar 6-7 jam per hari.
  • Mengonsumsi makanan bergizi saat sahur dan berbuka.
  • Mengurangi paparan konten negatif di media sosial.
  • Menghindari diskusi emosional saat energi sedang rendah.
  • Tetap melakukan aktivitas fisik ringan agar emosi tidak menumpuk.


“Kesehatan fisik sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Jika tubuh tidak diimbangi dengan aktivitas atau justru terlalu banyak tidur, emosi bisa menumpuk,” ujarnya.


Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mindfulness dalam menjalankan puasa. Kesadaran penuh terhadap niat dan tujuan berpuasa akan membantu seseorang menghubungkan ibadah dengan nilai kesabaran, keikhlasan, dan spiritualitas.


“Ritme hidup berubah saat Ramadhan, ada sahur, tarawih, aktivitas malam yang lebih panjang. Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa memicu stres. Namun rutinitas spiritual yang terstruktur justru dapat memperkuat fokus dan ketenangan batin,” paparnya.


Ia mencontohkan, pelaksanaan shalat yang dilakukan dengan khusyuk, mulai dari rukuk, sujud, hingga i’tidal, dapat menjadi latihan kesadaran diri yang berdampak positif pada kesehatan mental.


Dengan pengelolaan yang tepat, puasa bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga sarana membangun kebiasaan positif, menjaga kesehatan mental, dan meningkatkan produktivitas.