Jakarta, NU Online
Umat Islam akan memasuki awal bulan Muharram sekaligus tahun baru 1448 Hijriah. Di bulan pertama Hijriah itu, umat Islam di seluruh dunia dianjurkan untuk menjalankan ibadah puasa.
"Hukum puasa Muharram adalah sunnah, bahkan lebih utama dari puasa bulan Sya’ban yang paling sering dipuasai oleh Nabi Muhammad saw," tulis Ustadz Ahmad Muntaha dalam artikel berjudul Panduan Puasa Muharram: Tata Cara, Hukum, dan Keutamaannya pada Senin (15/6/2026).
Baca Juga
Hadits-hadits tentang Puasa Muharram
Adapun niat puasa Muharram ini adalah sebagai berikut.
نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shaumal Muharrami lilâhi ta’âlâ.
Baca Juga
Sisi Keutamaan Bulan dan Puasa Muharram
Artinya, “Saya niat puasa Muharram karena Allah ta’âlâ.
Sementara itu, khusus untuk hari kesembilan (tasu’a) dan kesepuluh (‘asyura) bulan Muharram, ada niat khusus yang bisa dilafalkan, yakni sebagai berikut.
نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Baca Juga
12 Amalan dalam Bulan Muharram
Nawaitu shauma Tâsû’â-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya, “Saya niat puasa Tasu’a karena Allah ta’âlâ.”
Niat puasa Asyura secara lengkap:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Âsyûrâ-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya, “Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’âlâ.”
Niat ini dapat dilakukan pada malam hari saat esoknya berpuasa, yakni selepas Maghrib hingga menjelang fajar tiba. Bagi yang belum sempat niat pada malam hari, masih diperbolehkan berpuasa dengan membaca niat yang sama sampai waktu Dzuhur tiba di hari tersebut. Hal ini dengan syarat, selepas fajar sampai membaca niat belum makan, minum, atau melakukan hal lain yang membatalkan puasa.
Setidaknya, ada lima fadilah yang bisa diperoleh dengan berpuasa Muharram, sebagaimana dijelaskan Ustadz Ahmad Muntaha berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw. Pertama, puasa Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan. Kedua, termasuk dalam keutamaan berpuasa dalam bulan-bulan mulia atau al-asyhurul hurum, selain Rajab, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah. Ketiga, puasa sehari dalam bulan Muharrram pahalanya sama dengan puasa 30 hari.
Tidak hanya itu, khusus puasa hari Asyura, yakni pada tanggal 10 Muharram, maka akan menjadi pelebur dosa setahun yang telah lewat. Kelima, jika puasa Asyura dilengkapi dengan puasa Tasu’a pada 9 Muharram dan puasa 11 Muharram, menjadi pembeda umat Islam dengan umat Yahudi yang sama-sama berpuasa di hari Asyura.
Terpopuler
1
Sidang Pleno Muktamar NU Sepakati Ketum PBNU Dipilih melalui AHWA
2
KH Miftachul Akhyar Resmi Terpilih Menjadi Rais Aam PBNU Masa Khidmah 2026–2031
3
AHWA Tetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2026-2031
4
Terpilih, Ini Profil 9 Anggota AHWA Muktamar Ke-35 NU
5
Gus Yahya Minta Massa Pendukung Gus Yusuf Tenang: Potensi Besar Harus Tetap Diakomodasi untuk NU
6
Bakal Caketum PBNU Gus Kikin: Siapa Pun yang Terpilih Jadi Ketum, NU Harus Tetap Rukun
Terkini
Lihat Semua