Nasional

5 Ribu Titik Potensi Karhutla Imbas Musim Kemarau, Kalbar dan Riau Terbanyak

Jumat, 31 Juli 2026 | 08:00 WIB

5 Ribu Titik Potensi Karhutla Imbas Musim Kemarau, Kalbar dan Riau Terbanyak

Tangkapan layar Zoom Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan saat Konferensi Pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Jakarta, NU Online

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat seiring meluasnya musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 5.019 titik panas (hotspot) hingga akhir Juli 2026.


Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan bahwa peningkatan hotspot terjadi lebih cepat dibandingkan saat El Nino 2015, 2019, dan 2023. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya langkah pencegahan yang lebih kuat sebelum memasuki puncak musim kemarau.

 

“Kita berlanjut ke informasi mengenai potensi karhutla. Hingga Rabu malam monitoring jumlah titik api atau hotspot yang dilakukan oleh BMKG mencatat lebih dari 5.000 titik atau 5.019 titik, jumlah hotspot tersebut dari awal tahun yaitu Januari hingga bulan Juli 2026,” ujar Ardhasena saat Konferensi Pers di Jakarta pada Kamis (30/7/2026).

 

Dia mengatakan bahwa Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau menjadi tiga provinsi dengan kontribusi titik panas terbanyak. Wilayah-wilayah tersebut selama ini memang kerap menghadapi ancaman kebakaran saat curah hujan menurun drastis.

 

“Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau tercatat sebagai provinsi dengan kontribusi titik panas terbanyak,” ujarnya.

 

BMKG memperkirakan risiko karhutla akan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Pada periode tersebut, risiko tinggi diprediksi meluas terutama di Sumatra dan Kalimantan.

 

“Bagaimana risiko potensi karhutla berikutnya mulai dari Agustus hingga November tahun 2026? Puncak risiko meluas diprediksi pada bulan Agustus dan September, terutama di Sumatra dan Kalimantan,” katanya.

 

Ardhasena menyampaikan bahwa provinsi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan sebagai wilayah prioritas pengawasan. Risiko juga diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah Sulawesi pada September hingga Oktober.

 

“Risiko karhutla secara gradual mulai berkurang pada oktober hingga November 2026. Jadi bulan-bulan kritis adalah mulai saat ini bulan Juli hingga akhir bulan September tahun 2026,” ungkapnya.

 

Selain hotspot, BMKG turut memantau sebaran partikulat asap akibat karhutla. Kabut asap bahkan terpantau muncul di wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir.

 

“Intensifikasi pemantauan dan pengawasan di daerah-daerah rawan menjadi sangat krusial untuk mencegah eskalasi titik api dan dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas,” kata Ardhasena.