Nasional

Arsinu Perkuat SDM Dokter dan Nakes NU, Siap Layani Masyarakat Indonesia

Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Arsinu Perkuat SDM Dokter dan Nakes NU, Siap Layani Masyarakat Indonesia

Ketua Asosiasi Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (Arsinu) Zulfikar As’ad (Foto; NU Online)

Jakarta, NU Online

Asosiasi Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (Arsinu) terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Upaya tersebut dinilai penting mengingat besarnya potensi warga Nahdliyin yang berkiprah di berbagai profesi kesehatan, mulai dari dokter, dokter spesialis, perawat, bidan, apoteker, hingga pakar manajemen rumah sakit.

 

Ketua Arsinu, Zulfikar As’ad (Gus Ufik) menilai potensi SDM kesehatan NU sangat besar dan perlu dikelola secara lebih terstruktur agar mampu memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

 

“Saya melihat warga NU sebetulnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan siap maju, karena cukup banyak dari Nahdhiyin yang berprofesi sebagai dokter umum, dokter spesialis, Perawat, Bidan, Apoteker, pakar manajemen rumah sakit,” ujarnya kepada NU Online, Rabu (12/8/2026).

 

Ia menyampaikan bahwa kehadiran berbagai organisasi profesi kesehatan di lingkungan NU, seperti Perhimpunan Mahasiswa Kedokteran NU (NUMSA), Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama, dan Himpunan Perawat NU (HIPNU) menjadi modal utama dalam menggerakkan fasilitas pelayanan kesehatan guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

 

“Itu merupakan SDM utama yang dapat menggerakkan fasilitas layanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Semoga kedepan potensi tersebut betul dapat dikelola dengan lebih baik lagi,” ujarnya.

 

Saat ini, rumah sakit yang dikelola oleh jam’iyah maupun jamaah NU dan Muslimat Indonesia masih tergolong terbatas. Gus Ufik menyebut jumlah rumah sakit yang tergabung dalam jaringan tersebut baru mencapai 39 unit, sementara klinik sekitar 60 fasilitas yang tersebar di berbagai daerah.

 

Ia mengatakan bahwa keberadaan rumah sakit NU masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jakarta. “(Untuk daerah lain) masih dalam proses,” katanya.

 

Dalam upaya meningkatkan mutu layanan, Arsinu secara rutin menggelar pertemuan tahunan yang menjadi forum penataan organisasi sekaligus berbagi pengalaman antar-rumah sakit.

 

“Rumah sakit yang telah meraih berbagai prestasi di tingkat nasional maupun regional, ini kita tunjuk untuk berbagi praktik atau sharing dengan rumah sakit NU lainnya, termasuk persiapan akrediasi,” Gus Ufik

 

Gus Ufik juga menegaskan bahwa rumah sakit NU tidak boleh membatasi pelayanan hanya kepada kelompok tertentu. Menurutnya, prinsip pelayanan kesehatan harus menjangkau seluruh warga tanpa membedakan latar belakang agama maupun identitas lainnya.

 

“Soalnya kalau sudah namanya rumah sakit tidak boleh hanya melayani misalnya yang Islam saja, yang Hindu saja, atau kelompok-kelompok tertentu bisa. Mereka harus siap untuk melayani warga negara yang membutuhkan,” tegasnya.

 

“Apalagi kalau sudah menjadi bagian dari layanan BPJS misalnya. Maka disitu harus menerima siapapun yang sakit untuk dilayani dengan sebaik-baiknya,” lanjutnya.