Nasional

Berikut Panduan Shalat Idul Fitri: Mulai Niat hingga Khutbah

Kamis, 19 Maret 2026 | 10:00 WIB

Berikut Panduan Shalat Idul Fitri: Mulai Niat hingga Khutbah

Ilustrasi Idul Fitri. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Umat Islam akan merayakan Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H. Ada yang merayakannya pada Jumat (20/3/2026), ada pula yang mungkin memperingatinya pada Sabtu (21/3/2026) mengingat hilal belum memenuhi imkanur rukyah pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 H/19 Maret 2026.


Dalam merayakan Idul Fitri, umat Islam sangat dianjurkan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri atau shalat Id yang dikerjakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah. Shalat ini juga boleh dilaksanakan secara sendiri (munfarid). Namun, dilakukan dengan jamaah lebih baik dan shalat sendiri lebih baik daripada tidak sama sekali.


Ada satu perbedaan mendasar shalat id dari shalat lainnya, yakni ada tambahan 7 kali takbir pada rakaat pertama dan 5 kali takbir pada rakaat kedua. Di sela-sela takbir tersebut terdapat bacaan khusus. Meskipun demikian, hal tersebut bukanlah sebuah rukun dalam shalat id. Hukum takbir tambahan (lima kali pada pada rakaat kedua atau tujuh kali pada rakaat pertama) adalah sunnah, sehingga tidak sampai menggugurkan keabsahan shalat Id apabila terjadi kelupaan mengerjakannya. 


Ustadz Mahbib Khoiron menjelaskan secara rinci tata cara pelaksanaan shalat Idul Fitri lengkap dengan bacaannya dalam artikel berjudul Tata Cara Shalat Idul Fitri yang dikutip NU Online pada Kamis (19/3/2026).


Penjelasan shalat Idul Fitri ini secara merujuk pada kitab Fashalatan karya KHR Asnawi Kudus, salah satu muassis NU. Hal serupa juga dapat dijumpai dalam kitab-kitab lainnya, antara lain al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î (juz I) karya Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan 'Ali asy-Asyarbaji.


1. Niat shalat id

Hal pertama yang perlu dilakukan dalam shalat id adalah membaca niat. Kalau menjadi makmum ditambah lafal ma'muman, sedangkan saat menjadi imam ditambah bacaan imaaman.  


 أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَــالَى


Ushallî sunnatan li ‘îdil fithri rak'ataini (ma'mûman/imâman) lillahi ta'ala. 


"Aku niat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”


Sebagaimana diketahui, pelafalan niat dengan lisan adalah perkara sunnah. Sementara yang wajib yaitu ada maksud secara sadar dan sengaja dalam batin (hati) akan menunaikan shalat sunnah Idul Fitri. 


Sebelumnya shalat dimulai tanpa azan dan iqamah (karena tidak disunnahkan), melainkan cukup dengan menyeru "ash-shalâtu jâmi‘ah".


2. Takbiratul ihram

Sebagaimana shalat biasa, shalat Id juga terdapat takbiratul ihram. Usai membaca doa iftitah, disunnahkan takbir lagi hingga tujuh kali untuk rakaat pertama.


Di sela-sela tiap takbir itu dianjurkan membaca:


اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا 


Allahu akbar kabira, wal hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila


"Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang."


Atau membaca:  


سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ


Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar


"Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar."


3. Membaca Al-Fatihah

Setelah selesai membaca iftitah dan melakukan takbir sebanyak tujuh kali, wajib membaca surat Al-Fatihah. Lalu dianjurkan membaca surat Al-A'la. 


Berlanjut ke ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.


4. Rakaat kedua

Di dalam posisi berdiri kembali pada rakaat kedua, disunnahkan takbir lagi sebanyak lima kali seraya mengangkat tangan dan melafalkan allâhu akbar seperti rakaat sebelumnya.


Di antara takbir-takbir tersebut, dianjurkan untuk kembali melafalkan bacaan sebagaimana dijelaskan pada poin kedua. Kemudian baca Surat al-Fatihah, lalu Surat al-Ghâsyiyah. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam. 


5. Mendengar khutbah

Setelah shalat selesai dengan diakhiri gerakan salam, jamaah dianjurkan untuk menyimak khutbah Idul Fitri sampai selesai. Hal berbeda jika shalat id ditunaikan tidak secara berjamaah atau sendirian, tidak perlu ada khutbah.


Hal tersebut sebagaimana diungkapkan Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Syafi'i.


“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.”


Dalam khutbah id ini, khatib disunnahkan memulai khutbah pertama dengan takbir sembilan kali dan khutbah kedua dengan takbir tujuh kali.