Nasional

BMKG Mulai Modifikasi Cuaca di Sejumlah Daerah, Antisipasi Karhutla saat Kemarau

Jumat, 31 Juli 2026 | 06:00 WIB

BMKG Mulai Modifikasi Cuaca di Sejumlah Daerah, Antisipasi Karhutla saat Kemarau

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai menggelar operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia sebagai upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meningkat pada musim kemarau 2026 akibat pengaruh El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga tahun depan.


Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan operasi modifikasi cuaca saat ini difokuskan di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla.


"Operasi modifikasi cuaca saat ini sedang dilakukan untuk mitigasi karhutla di beberapa tempat. Yang di Aceh baru selesai. Kemudian yang di Palembang sudah berlangsung sekitar sepekan dan kemungkinan hari ini juga selesai," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026).


Seto mengatakan operasi di Pekanbaru dan Palangka Raya dilakukan berdasarkan kebutuhan peningkatan curah hujan serta potensi awan yang tersedia di wilayah tersebut.


"Yang di Pekanbaru baru mulai hari ini kita lakukan. Sementara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga sedang kita laksanakan. Semua ini didasarkan pada kebutuhan peningkatan curah hujan untuk mitigasi karhutla dan disesuaikan dengan potensi awan yang tersedia," tuturnya.


Ia menjelaskan, teknologi modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemai awan potensial menggunakan bahan semai berupa garam atau natrium klorida. Teknologi tersebut tidak menciptakan awan baru, melainkan mengoptimalkan potensi awan yang telah terbentuk agar menghasilkan hujan.


"Kami tidak bisa menciptakan awan. Namun ketika ada awan yang memenuhi syarat, operasi modifikasi cuaca sangat efektif menghasilkan jutaan meter kubik air hujan yang diharapkan mampu mencegah terjadinya karhutla. Bahkan jika karhutla sudah terjadi, hujan yang dihasilkan diharapkan dapat membantu memadamkan api," jelasnya.


Hingga akhir Juli 2026, BMKG telah melaksanakan 17 operasi modifikasi cuaca dengan total durasi 169 hari. Selain untuk mitigasi karhutla, teknologi tersebut juga dimanfaatkan untuk menjaga ketersediaan air di wilayah-wilayah yang rentan mengalami kekeringan.


"Untuk pengisian danau atau waduk, modifikasi cuaca telah dilakukan di daerah tangkapan air Danau Toba serta Batam, Kepulauan Riau, karena kebutuhan air di wilayah tersebut cukup tinggi sementara sumber airnya terbatas," kata Seto.


Selain itu, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, guna menjaga pasokan air di waduk-waduk strategis.


"Kami juga telah melaksanakan operasi di Sulawesi Tengah untuk membantu menjaga ketersediaan air di Danau Poso. Semua ini dilakukan sebagai bagian dari mitigasi musim kemarau 2026," ujarnya.