BMKG Prediksi El Nino Berlangsung hingga Setahun, Wilayah Selatan Berpotensi Dilanda Kekeringan
Rabu, 1 Juli 2026 | 15:00 WIB
Jakarta, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan. Kondisi ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan musim kemarau tahunan sehingga berpotensi memperparah penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan terbaru, El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Fenomena yang mulai berkembang sejak April atau Mei 2026 itu diperkirakan akan berakhir sekitar Mei 2027.
"El Nino ini berlangsung kurang lebih selama sembilan sampai 12 bulan, bisa lebih panjang atau lebih pendek tergantung berbagai kondisi. Karena mulai berkembang sekitar April atau Mei tahun ini, diperkirakan akan berakhir pada Mei tahun depan," katanya di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Faisal menjelaskan, dampak utama El Nino adalah meningkatnya risiko kekeringan di wilayah selatan garis khatulistiwa, mulai dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, pesisir Pulau Jawa, hingga Sumatra bagian selatan. Di kawasan tersebut, curah hujan diperkirakan menurun signifikan pada puncak musim kemarau.
"Fenomena El Nino umumnya memengaruhi wilayah di selatan garis khatulistiwa, mulai dari NTT, NTB, Bali, Jawa terutama wilayah pesisir, hingga Sumatra bagian selatan," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa El Nino tidak identik dengan musim kemarau yang berlangsung sepanjang tahun. Menurutnya, musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino adalah fenomena iklim periodik yang dapat memperkuat kondisi kering ketika terjadi bersamaan dengan musim kemarau.
Faisal menambahkan, hasil analisis BMKG menunjukkan anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menjadi faktor utama yang memicu penurunan curah hujan di wilayah terdampak.
"Peluang curah hujan rendah, yakni di bawah 50 milimeter per bulan, diperkirakan banyak terjadi di wilayah selatan, meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, serta sebagian wilayah Sulawesi dan Papua bagian selatan," jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa hal yang perlu diwaspadai bukan semata-mata lamanya El Nino, melainkan dampaknya ketika bertepatan dengan musim kemarau.
Menurut Faisal, kondisi kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan rata-rata dalam 30 tahun terakhir karena curah hujan bulanan diprediksi berada di bawah kondisi normal.
"Hujan pada tahun ini diperkirakan lebih rendah dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir. Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, melainkan ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," tegasnya.