Nasional

Data Hilal Awal Rabiul Akhir 1448 H, LF PBNU: Belum Penuhi Imkanur Rukyah

Kamis, 10 September 2026 | 16:00 WIB

Data Hilal Awal Rabiul Akhir 1448 H, LF PBNU: Belum Penuhi Imkanur Rukyah

Ilustrasi rukyatul hilal. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hisab hilal awal bulan Rabiul Akhir 1448 H. Berdasarkan perhitungan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, pada Jumat (11/9/2026), hilal sudah berada di atas ufuk, tetapi belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.


Data hisab tersebut merupakan hasil perhitungan untuk Jumat Legi, 29 Rabiul Awal 1448 H yang bertepatan dengan 11 September 2026 M. Perhitungan dilakukan pada titik Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, dengan koordinat 6º 11’ 25” LS dan 106º 50’ 50” BT.


Perhitungan menggunakan metode ilmu falak atau sistem hisab jama’i, yakni tahqiqy tadqiky ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.


Berdasarkan hasil hisab LF PBNU, tinggi hilal akhir Rabiul Awal 1448 H pada Jumat, 11 September 2026, mencapai 1 derajat 16 menit 42 detik. Adapun elongasi tercatat 4 derajat 24 menit 44 detik, dengan lama hilal berada di atas ufuk selama 8 menit 59 detik.


Sementara itu, ijtima atau konjungsi terjadi pada Jumat (11/9/2026) pukul 10.26.19 WIB.


Letak Matahari saat terbenam berada 4 derajat 23 menit 43 detik di utara titik barat. Sementara posisi hilal berada 1 derajat 40 menit 53 detik di utara titik barat.


Adapun kedudukan hilal berada 2 derajat 42 menit 50 detik di selatan Matahari dengan keadaan hilal miring ke selatan.


Data tersebut menunjukkan hilal sudah berada di atas ufuk, tetapi belum memenuhi kriteria imkanur rukyah. Tinggi hilal masih di bawah 3 derajat dan elongasi kurang dari 6,4 derajat.


Data Hilal BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis informasi perhitungan hilal untuk penentuan awal bulan Rabiul Akhir 1448 H.


Dalam Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 11 dan 12 September 2026 M (Penentu Awal Bulan Rabiul Akhir 1448 H), BMKG menyebutkan bahwa konjungsi terjadi pada Jumat (11/9/2026) pukul 03.26.49 UT.


Waktu tersebut setara dengan pukul 10.26.49 WIB, 11.26.49 WITA, dan 12.26.49 WIT. Konjungsi terjadi ketika nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama, yakni 168,43 derajat.


Di wilayah Indonesia, pada 11 September 2026, waktu Matahari terbenam paling awal terjadi pukul 17.35.47 WIT di Merauke, Papua, sedangkan waktu terbenam paling akhir terjadi pukul 18.40.33 WIB di Sabang, Aceh.


Pada 12 September 2026, Matahari terbenam paling awal pada pukul 17.35.39 WIT di Merauke dan paling akhir pukul 18.40.02 WIB di Sabang.


BMKG mencatat ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 11 September 2026 berkisar antara 0,56 derajat di Jayapura, Papua, hingga 1,73 derajat di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.


Sementara pada 12 September 2026, ketinggian hilal berkisar antara 10,86 derajat di Melonguane, Sulawesi Utara, hingga 13,19 derajat di Parigi, Jawa Barat.


Untuk elongasi geosentris, BMKG mencatat pada 11 September 2026 nilainya berkisar antara 3,34 derajat di Merauke hingga 4,83 derajat di Sabang.


Pada 12 September 2026, elongasi geosentris berkisar antara 15,56 derajat di Merauke hingga 17,14 derajat di Sabang.


Adapun umur Bulan saat Matahari terbenam pada 11 September 2026 berkisar antara 5,15 jam di Merauke hingga 8,23 jam di Sabang. Pada 12 September 2026, umur Bulan berkisar antara 29,15 jam di Merauke hingga 32,22 jam di Sabang.


Sementara lama hilal berada di atas ufuk pada 11 September 2026 berkisar antara 3,86 menit di Jayapura hingga 9,4 menit di Pelabuhan Ratu.


Pada 12 September 2026, lama hilal berkisar antara 48,19 menit di Melonguane hingga 58,45 menit di Baa, Nusa Tenggara Timur.


Data hisab tersebut menjadi salah satu informasi astronomis dalam proses penentuan awal bulan Rabiul Akhir 1448 H.