Elpiji Rp300 Ribu dan Kolam Wudhu 10 Sentimeter: Cara Dai NU Bertahan di Jemaja Timur Kepri
Jumat, 4 September 2026 | 22:00 WIB
Dai yang dikirim NU Online Institute bersama jamaah pengajian di Jemaja Timur, Kepri, awal Agustus 2026 (NU Online Institute)
Ada satu keterampilan yang belum diajarkan kepada Amirul Mahmud dan Muhammad Iqbal saat di pesantren yaitu menebang pohon dengan golok. Santri Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan dan Pesantren Dayah Darul Ma'arif Samuti Bireuen, Aceh ini adalah dai yang ditugaskan NU Online Institute melalui program Dai Penggerak 3T untuk mengabdi selama enam bulan di Desa Bukit Padi, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.
Menurut mereka, di desa mereka mengabdi ini, gas elpiji adalah barang mewah.
“Bagi orang Jawa, memasak menggunakan gas elpiji hijau tiga kilogram adalah hal paling lumrah. Di Jemaja ini, gas adalah barang super mewah. Tabung ukuran lima kilogram saja tidak ada, apalagi yang tiga kilo. Adanya cuma tabung besar ukuran 15 kilogram. Itu pun harga isinya saja bisa menembus 300 ribu rupiah. Ditambah lagi barangnya sangat langka, sering kosong di pasaran,” tutur Amirul yang memulai perjalanan dengan kapal laut ke tempat penugasan pada 19 Agustus 2026.
Untuk bertahan hidup dan terus mengepulkan asap dapur pesantren, para pendakwah dan guru ngaji ini harus memutar otak. Solusi yang paling strategis adalah kembali ke metode leluhur: memasak menggunakan kayu bakar. Setiap beberapa hari sekali, mereka bahu-membahu masuk ke dalam rimbunnya hutan perbukitan untuk berburu dahan atau pohon sebagai bahan bakar memasak.
Baca Juga
Wan Hasyim dan Gus Dakhlan
“Kayu-kayu besar berdiameter seukuran badan orang dewasa itu harus kami tebang dengan golok. Kami cicil memotongnya sedikit demi sedikit di tengah hutan, lalu dibuat untuk memasak,” cerita Amirul.
Elpiji hanyalah satu titik dari deretan harga yang menjadikan para dai menghitung ulang isi dompet. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Jemaja Timur adalah kecamatan dengan daratan terluas di Anambas, yakni 29,40 kilometer persegi, namun hanya memiliki kepadatan penduduk paling kecil: hanya berkisar 17 hingga 19 jiwa per kilometer persegi.
Sepinya daratan ini berbanding lurus dengan sulitnya akses logistik. Rantai pasok yang harus menyeberangi lautan membuat harga barang kebutuhan pokok melambung jauh di atas kebiasaan para dai dalam berbelanja saat di Jawa.
Muhammad Iqbal mengisahkan fenomena gegar harga ini dengan tawa getir. “Di Jawa, bawa uang lima belas ribu sudah bisa makan kenyang pakai lauk. Di sini? Bakso daging harganya 30 sampai 35 ribu rupiah per porsi. Mau minum es teh yang biasanya cuma tiga ribu, di sini tembus 8 sampai 10 ribu rupiah. Kemarin, Ustadz Amir cuma mau ngopi setengah gelas saja, harganya sepuluh ribu,” paparnya.
Penggerak roda ekonomi seperti bahan bakar minyak pun setali tiga uang. Bensin yang diecer dalam botol-botol kaca dihargai Rp15.000 hingga Rp18.000, bahkan di beberapa warung bisa menyentuh Rp20.000 per botol.
Namun keterbatasan yang paling menekan bukan soal dompet, melainkan air. Iklim panas Jemaja yang menguras keringat tidak dibarengi fasilitas air yang memadai. Sumber mata air berada cukup jauh dari kompleks pesantren dan hanya ditarik menggunakan pompa lawas berkapasitas sangat kecil.
“Air yang keluar cuma menetes kecil. Untuk mengisi satu bak tampungan, butuh jarak berjam-jam dari waktu shalat satu ke shalat berikutnya,” kata Amirul.
Kondisi serba terbatas ini memaksa seluruh penghuni pesantren menjalani laku tirakat fisik. “Seminggu ini, saya mandi sehari sekali, padahal cuaca sangat panas dan banyak debu beterbangan,” tambah Iqbal.
Sebagai sarjana pendidikan Islam dan santri pesantren, Amirul melihat masalah krisis air ini bukan sekadar keluhan, melainkan persoalan syariat. “Kolam wudhu di sini sangat kecil, tinggi debet air di kolah bahkan tidak sampai satu jengkal orang dewasa, paling sekitar 10 sentimeter. Sangat jauh dari syarat air dua qullah. Jika anak-anak berwudhu sembarangan, airnya akan menjadi musta’mal,” jelasnya.
Ia pun segera merumuskan program khusus. “Dalam enam bulan ke depan, saya akan adakan jam pelajaran Ubudiyah atau Fikih Praktis. Anak-anak ini harus diajari tata cara wudhu ightiraf. Bagaimana caranya sah berwudhu hanya dengan satu gayung air. Menyentuh kewajiban-kewajiban fardhunya saja, seperti mengusap wajah dan tangan secukupnya tanpa berlebihan. Fikih harus bisa menjawab keterbatasan alam di sini,” pungkas Amirul penuh tekad.
Catatan Redaksi: Penugasan Dai NU Online Institute di Pulau Jemaja, Anambas, merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah ke pulau-pulau terluar Indonesia.
Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App.
Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.