Nasional

Festival Sarung dan Peci Santri, Upaya Kenalkan Budaya Nusantara dan Ekonomi Kreatif

Ahad, 25 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Festival Sarung dan Peci Santri, Upaya Kenalkan Budaya Nusantara dan Ekonomi Kreatif

Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said (Kemenag)

Jakarta, NU Online

Kementerian Agama menggelar Festival Sarung dan Peci Santri 2026 untuk memperkenalkan budaya Nusantara sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif. Festival ini menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan beragam kreasi sarung dan peci yang tetap berakar pada tradisi pesantren.

 

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, sarung dan peci tidak hanya menjadi bagian dari busana sehari-hari masyarakat Indonesia, tetapi juga merepresentasikan kekayaan budaya Nusantara yang perlu terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman.

 

“Kalau perlu, mungkin juga ada modifikasi-modifikasi tertentu supaya sarung itu berkembang menurut zaman. Siapa tahu ada kreasi-kreasi baru model sarung yang khas, model peci yang khas,” ujar Nasaruddin saat menghadiri Festival Sarung dan Peci Santri 2026 di Kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026) malam.

 

Menurutnya, pengembangan desain sarung dan peci menjadi salah satu cara untuk menjaga agar tradisi tetap relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Inovasi tersebut juga berpeluang memperluas pemanfaatan produk budaya Nusantara dalam industri kreatif.

 

Nasaruddin menegaskan, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mewarisi tradisi yang sudah ada. Masyarakat juga perlu berperan aktif mengembangkan dan memperkenalkan budaya kepada generasi berikutnya.

 

“Jangan hanya kita dibesarkan oleh budaya, tapi kita pun juga harus membesarkan budaya itu sendiri. Budaya dan diri kita harus saling membesarkan satu sama lain,” katanya.

 

Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengatakan, festival tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan produk sarung dan peci sekaligus menunjukkan bahwa busana tradisi pesantren dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

 

“Melalui festival ini, kita membuktikan bahwa berbusana dengan sarung dan peci bukanlah sesuatu yang kuno. Berbusana tradisi pesantren adalah simbol kehormatan, keanggunan, dan keluwesan yang sangat siap menjawab dinamika dunia modern ini,” ujar Basnang.

 

Ia berharap festival tersebut dapat membuka ruang promosi yang lebih luas bagi produk sarung dan peci, termasuk hasil kreasi pelaku usaha yang mengembangkan produk berbasis budaya Nusantara.

 

Dengan demikian, sarung dan peci tidak hanya dipandang sebagai simbol tradisi pesantren, tetapi juga berpeluang berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang mampu mengikuti kebutuhan dan selera masyarakat.

 

Menag Dukung Gerakan Bersarung

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mendukung gagasan penggunaan sarung dan peci secara rutin di lingkungan Kementerian Agama. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan dan membiasakan penggunaan busana tradisional dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Festival sarung dan peci ini sebetulnya harus menjadi sebuah kegiatan rutin di Kementerian Agama. Saya setuju kalau seandainya teman-teman sepakat, sekali seminggu kita pakai sarung dan peci,” katanya.

 

Sementara itu, Basnang mengusulkan gerakan Selasa Bersarung di lingkungan Direktorat Jenderal Pesantren. Selasa dipilih karena penggunaan sarung dinilai dapat dipadukan dengan kemeja putih yang biasa dikenakan pegawai.

 

Usulan tersebut masih menunggu persetujuan Menteri Agama.

 

Festival Sarung dan Peci Santri 2026 menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026 yang mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama mendorong pelestarian tradisi pesantren sekaligus membuka peluang pengembangan produk budaya Nusantara.