Nasional

Gus Ipang Wahid: Rebranding Media dan Budaya Pop Kunci NU Dekati Anak Muda

Kamis, 1 Oktober 2026 | 07:30 WIB

Gus Ipang Wahid: Rebranding Media dan Budaya Pop Kunci NU Dekati Anak Muda

Wakil Ketua Umum PBNU Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi, H Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid saat berkunjung ke kantor Redaksi NU Online, Rabu (30/9/2026) malam. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Wakil Ketua Umum PBNU Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi, H Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid, menegaskan pentingnya peremajaan (rebranding) media dan pendekatan budaya pop (pop culture) untuk memperluas jangkauan dakwah dan syiar Nahdlatul Ulama (NU) di era digital, khususnya bagi generasi Z dan Alpha.


Pesan tersebut disampaikan Gus Ipang di kantor redaksi NU Online, lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (30/9/2026) malam, seusai pengumuman jajaran pengurus PBNU hasil Muktamar Tambakberas 2026.


Di hadapan awak redaksi NU Online dan TVNU, Gus Ipang menekankan pentingnya menyesuaikan cara berdakwah dan menyampaikan pesan kebaikan dengan pola konsumsi informasi masyarakat modern.


“Saya kepingin NU yang ke depan ini, NU yang kekinian, related sama zaman itu. Dakwah itu penting, tapi cara berdakwah itu enggak kalah penting bagi saya,” ujarnya.


Menurut Gus Ipang, selama ini ada anggapan bahwa NU kuat atau warga NU merasa organisasinya kuat. Namun, ia mempertanyakan apakah kekuatan tersebut masih relevan (relate) dengan perkembangan zaman.


“Kita ngomong sendiri dengan kebesaran NU, tapi kita tidak dilihat sama mereka. Ini bahaya menurut saya. Kalau kita kayak begini terus, lima tahun ke depan lebih parah lagi. Kelompok-kelompok yang lain makin memuda, kita malah makin menua,” jelasnya.


“Zaman ini berubah, bener-bener berubah. Kalau kita tidak mau ikut adaptif berubah, ini kacau,” imbuhnya.


Gus Ipang menilai lanskap komunikasi dan kebudayaan bergerak sangat cepat. Karena itu, lembaga-lembaga di bawah naungan NU, termasuk bidang kebudayaan seperti Lesbumi serta kanal media seperti NU Online dan TVNU, perlu dirancang berorientasi ke masa depan (forward-looking) dan mengedepankan pemikiran kreatif.


“Kita tuh harusnya udah ngomong gimana anak muda sekarang ke depannya punya fighting spirit, berpikir revolusioner. Nah, itu lah budaya kita yang baru,” ungkapnya.


Ia menambahkan, strategi kebudayaan tidak boleh hanya berfokus pada romantisme masa lalu, tetapi juga perlu membentuk tren baru yang dapat diterima anak muda.


“Budaya ini bukan ke belakang doang, budaya ini ke depan. Bagaimana kita nge-set budaya ke depan untuk anak-anak muda, creative thinking, strategic thinking, kekinian,” tambahnya.


Untuk memperluas jangkauan pesan kebaikan tersebut, PBNU membuka peluang kolaborasi dengan berbagai figur publik, tokoh populer, dan kreator konten yang memiliki basis pengikut besar di kalangan generasi muda. Selain itu, penyegaran tampilan dan arah media NU terus dimatangkan agar lebih menarik, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan informasi publik.


Gus Ipang menyatakan terbuka terhadap berbagai gagasan segar dan kolaborasi lintas lini untuk memperkuat ekosistem digital NU. Ia mengajak tim media menggelar lokakarya (workshop) secara rutin guna merumuskan langkah konkret dalam mengoptimalkan potensi media yang ada.


Pertemuan santai selama 35 menit tersebut menjadi ajang diskusi interaktif sekaligus ruang berbagi masukan antarpengelola media NU. Hadir dalam kesempatan tersebut Pemimpin Redaksi NU Online Ivan Aulia Ahsan, Redaktur Eksekutif NU Online Mahbib Khoiron, dan Redaktur Pelaksana NU Online Fathoni, serta Direktur TVNU Ayi Fahmi.