Nasional

Gus Kikin: Hubungan Indonesia-Palestina Terjalin Panjang Sejak Perjuangan KH Hasyim Asy’ari

Ahad, 27 September 2026 | 20:45 WIB

Gus Kikin: Hubungan Indonesia-Palestina Terjalin Panjang Sejak Perjuangan KH Hasyim Asy’ari

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz saat sambutan dalam acara Muhadhoroh ‘Ammah di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (27/9/2026). (Foto: tangkapan layar YouTube Tebuireng Official)

Jombang, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Palestina memiliki sejarah panjang yang berakar dari perjuangan para ulama, khususnya pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari.


Hal itu disampaikan Gus Kikin saat memberikan sambutan dalam acara Muhadhoroh ‘Ammah di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (27/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia HE Abdulfattah AK Al-Sattari, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Palestina HE Sheikh Mohammad AM Hussein, serta Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan HE Dr Mahmoud SA Al-Habbash.


Dalam sambutannya, Gus Kikin menyampaikan selamat datang kepada para tamu dari Palestina di Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1899 setelah menimba ilmu di Makkah.


“Beliau di dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama, beliau juga seorang pejuang-pejuang kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau memiliki hubungan yang sangat kuat di beberapa negara di tahun 1897. Beliau bersama para sahabatnya setelah ditinggal oleh seorang gurunya Syekh Nawawi Al-Bantani, beliau pergi ke depan multazam untuk berjuang bersama dengan sahabat-sahabatnya dari beberapa negara Islam untuk memerdekakan negaranya masing-masing. Salah satu adalah Malaysia kemudian Mesir kemudian dan juga di situ termasuk Palestina juga,” ujar Gus Kikin.


Ia menjelaskan, perjuangan KH Hasyim Asy’ari memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan umat Islam di berbagai negara, termasuk Palestina. Menurutnya, hubungan tersebut telah terbangun sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia.


“Indonesia akhirnya mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1945 atas perjuangan panjang KH Hasyim Asy’ari. Karena itu kita memiliki hubungan yang sangat panjang dengan Palestina,” katanya.


Gus Kikin mengungkapkan, KH Hasyim Asy’ari telah menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sejak 1938. Semangat kepedulian tersebut, lanjutnya, terus diwariskan hingga saat ini melalui doa-doa yang dipanjatkan oleh warga Tebuireng.


“Sekarang kita masih membacakan Qunut Nazilah yang dibaca setiap saat kita shalat berjamaah di Masjid Tebuireng. Ini dengan kita mendoakan Palestina, kemerdekaan Palestina, kesejahteraan Palestina itu dimulai diajarkan oleh Kyai Haji Hasyim Asy'ari sejak saat itu. Ini perjalanan yang hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina,” ungkapnya.


Menurut Gus Kikin, kehadiran para tokoh Palestina di Tebuireng menjadi momentum untuk mempererat hubungan dan meningkatkan ukhuwah antarnegara Islam.


“Alhamdulillah kehadiran, kedatangan Imam Masjid Al-Aqsa beserta Duta Besar ini kita sambut dengan gembira. Ini menambah keakraban, meningkatkan ukhuwah persatuan bagi kita semuanya, terutama negara-negara yang memeluk agama Islam dan Indonesia saat ini kurang lebih 87 persen beragam Islam, penduduk Indonesia beragama Islam dan itu kurang lebih mencapai 280 juta orang,” tuturnya.


Dalam kesempatan itu, Gus Kikin juga menyampaikan perkembangan Nahdlatul Ulama yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1926. Menurutnya, satu abad perjalanan NU telah menjadikan organisasi tersebut semakin besar dengan jumlah pengikut yang semakin banyak.


“KH Hasyim Asy'ari mendirikan Nahdlatul Ulama di tahun 1926, kemudian berkembang dan saat ini di tahun 2026 sudah berusia 100 tahun Nahdlatul Ulama semakin banyak pengikut-pengikutnya. Saat ini kurang lebih 140 juta pengikut Nahdlatul Ulama dan kita sangat-sangat baik dalam kita menjaga persatuan kebersamaan Nahdlatul Ulama dan Kebetulan saya satu bulan yang lalu di tanggal 31 Agustus, saya dipilih sebagai ketua umum pengurus besar,” jelasnya.


Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan membangun kerja sama, baik di dalam negeri maupun bersama negara-negara Islam lainnya, termasuk Palestina.


“Perlu juga kita membangun kebersamaan di Indonesia maupun di luar negeri bersama dengan negara-negara Islam yang lain termasuk juga dengan Palestina. Keakraban ini harus kita tingkatkan hubungan-hubungan pendidikan kemudian kerjasama-kerjasama di bidang-bidang yang lain kita harus saling mendukung saling tolong-menolong saling kita tingkatkan supaya kita sama-sama bisa berkembang bisa lebih maju di masa-masa yang akan datang,” katanya.


Gus Kikin juga memaparkan perkembangan Pesantren Tebuireng yang kini tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi telah memiliki berbagai lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.


“Saat ini sudah berkembang ada 14 lembaga pendidikan yang ada di Tebuireng, ini mulai dari tingkat dasar, sekolah menengah, kemudian tingkat perguruan tinggi. Ada dua perguruan tinggi, satu adalah Universitas Hasyim Asy’ari dan satu lagi adalah Ma’had Aly yang berfokus dengan hadis,” ujarnya.


Ia berharap kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Palestina dapat terus ditingkatkan untuk memperkuat keilmuan dan kemajuan umat Islam.


“Kita perlu meningkatkan keilmuan di pondok pesantren maupun di Indonesia bersama negara-negara Islam lainnya, terutama Palestina, sehingga bisa meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Gus Kikin.


“Ini kesempatan untuk berkenalan dengan saudara-saudara kita di Palestina. Silakan dimanfaatkan untuk berdialog, bertanya, dan mengambil pengalaman yang bisa diterapkan di Pesantren Tebuireng,” pungkasnya.