Gus Kikin: JATMAN Berperan Penting dalam Pembangunan Hati dan Persatuan NU
Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:30 WIB
Ketum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz saat peringatan Harlah Ke-69 JATMAN di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (13/10/2026) malam. (NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan pentingnya peran Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dalam membangun kekuatan batin dan merawat persatuan warga Nahdlatul Ulama (NU). Kontribusi tersebut mungkin tidak terlihat secara fisik, tetapi berperan penting dalam menjaga keutuhan organisasi.
“Nampaknya kontribusinya di dalam pembangunan itu gak kelihatan. Tapi pembangunan hati ini yang paling canggih dari JATMAN ini. Mudah-mudahan ini mendapatkan rida dari Allah swt,” ujarnya dalam acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-69 JATMAN di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (13/10/2026) malam.
Gus Kikin mengungkapkan bahwa JATMAN menjadi salah satu unsur yang turut menjaga keberlangsungan NU.
“Inilah salah satu yang menjadikan NU itu selamat, termasuk salah satunya JATMAN. Mudah-mudahan ini selalu kita mendapatkan pembimbingan dan pertolongan dari Allah swt,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pemikiran Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang tertuang dalam kitab Al-Qanun Al-Asasi. Kitab tersebut menjadi salah satu pedoman penting dalam memahami prinsip dasar pendirian NU.
Ia menjelaskan, NU didirikan pada 1926 dan didaftarkan kepada pemerintah Belanda. Selanjutnya, KH Hasyim Asy’ari menyusun naskah-naskah yang menjadi tuntunan organisasi, termasuk Al-Qanun Al-Asasi yang disampaikan pada 1928.
Dalam pemikiran tersebut, NU mengajak berbagai kalangan untuk bergabung, baik orang kaya maupun miskin, orang lemah maupun kuat. Namun, kebersamaan itu harus dibangun dengan persatuan dan kasih sayang.
“NU itu didirikan itu mengajak semuanya, dari orang-orang fukara, fakir, miskin, kaya, lemah, kuat. Masuk ke dalam jamiyyah nahdlatul ulama ini. Tapi ada syaratnya, yaitu dengan penuh persatuan kemudian penuh kasih sayang,” ucapnya.
Gus Kikin juga menyampaikan bahwa NU tidak hanya menghimpun orang secara organisatoris, tetapi juga menghubungkan batin mereka. Ikatan tersebut, menurutnya, memungkinkan warga dengan perbedaan pemahaman tetap berada dalam satu jamaah.
Ia menekankan bahwa keterhubungan hati menjadi kunci untuk mencegah perselisihan, bahkan permusuhan, di lingkungan NU. Nilai-nilai yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari perlu terus dijalankan agar perbedaan tidak merusak persatuan.
“Kalau kita hati kita tersambung di NU itu tidak akan ada perselisian. Apalagi permusuhan,” tutur Gus Kikin.