Gus Mus: Basirah atau Mata Hati Tuntun Manusia Merasakan Kedekatan Allah
Selasa, 3 Maret 2026 | 06:30 WIB
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan pentingnya menghidupkan basirah atau mata hati dalam kehidupan seorang Muslim. Menurutnya, basirah menjadi cahaya batin yang menuntun manusia untuk menyadari kedekatan Allah swt.
Baca Juga
Mata Hati Menurut Imam Al-Ghozali
Mengisi Pengajian Ramadhan ditayangkan di akun YouTube NU Online diakses Senin (2/3/2026), Gus Mus menjelaskan bahwa basirah berbeda dengan mata kepala.
“Mata kepala hanya mampu menangkap hal-hal yang kasat mata, sedangkan basirah memiliki ketajaman untuk memahami hakikat di balik realitas yang tampak,” ungkapnya.
Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan seseorang yang berada di dalam bus yang sedang berjalan. Penumpang akan melihat tiang listrik atau pepohonan seolah-olah bergerak berlawanan arah. Secara penglihatan fisik, hal itu tampak demikian. Namun secara pemahaman batin, yang bergerak sebenarnya adalah bus, bukan tiang atau pepohonan tersebut.
“Demikian pula dalam kehidupan. Mata kepala hanya mengetahui hal-hal yang tampak. Hal-hal gaib tidak dapat dijangkau olehnya. Yang mampu memahami adalah basirah,” ujarnya.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu, jika basirah seseorang masih sehat, ia dapat merasakan bahwa Allah swt begitu dekat. Sebaliknya, jika mata hati tertutup, kedekatan tersebut hanya berhenti pada pengakuan lisan tanpa kesadaran mendalam.
Gus Mus menegaskan, mata basirah memberikan kesaksian bahwa keberadaan manusia sepenuhnya bergantung pada wujud Allah. Manusia ada karena Allah ada. Tanpa Allah, manusia tidak memiliki keberadaan apa pun. Kesadaran semacam ini, kata dia, lahir dari mata hati, bukan sekadar dari penglihatan fisik.
Meski demikian, Gus Mus mengingatkan bahwa kesempurnaan basirah bukan berarti menafikan keberadaan diri secara lahiriah. Secara kasat mata, manusia tetap ada dengan wujud fisiknya. Namun seorang hamba yang memiliki basirah memahami bahwa keberadaannya bersumber dari keberadaan Allah swt.
Gus Mus juga menguraikan tentang keberadaan Allah yang tidak bermula dan tidak berubah. Ia mengutip prinsip akidah bahwa Allah sudah ada sebelum segala sesuatu ada, dan kini tetap sebagaimana adanya sejak semula.
“Makhluk mengalami perubahan. Dahulu tidak ada, lalu ada, kemudian suatu saat akan tiada. Sedangkan Allah tidak demikian,” tegasnya.
Ia menambahkan, kehidupan manusia memiliki awal dan akhir, sementara kehidupan Allah tidak bermula dan tidak berakhir. Hal ini sebagaimana firman Allah, laisa kamitslihi syai’un—tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
Karena itu, Gus Mus mengingatkan agar manusia tidak mengarahkan niat dan cita-citanya kepada selain Allah. Hati dan himmah atau tekad spiritual harus tertuju hanya kepada-Nya.
“Tujuan akhir hidup ini adalah Allah. Jangan berpindah-pindah tujuan. Jangan menggantungkan harapan kepada selain-Nya,” pesan Gus Mus dalam pengajian yang mengulas Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athailah itu.