Hari Santri 2026, Gus Kikin Ajak Generasi Penerus Bangsa Lanjutkan Perjuangan Ulama
Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:30 WIB
Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dalam sambutan pada puncak resepsi Hari Santri Nasional 2026 yang dirangkai dengan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina di halaman kantor PCNU Surabaya, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026) malam. (Foto: Dok NU Online)
Surabaya, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak boleh berhenti sebagai warisan sejarah. Kemerdekaan harus diisi dengan perjuangan nyata melalui persatuan, kebersamaan, dan kontribusi bagi masa depan bangsa.
Hal tersebut disampaikan Gus Kikin dalam sambutan pada puncak resepsi Hari Santri Nasional 2026 yang dirangkai dengan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina di halaman kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026) malam.
Melalui peringatan Hari Santri 2026, Gus Kikin mengajak generasi penerus untuk tidak sekadar mengenang pengorbanan para pendahulu, tetapi juga melanjutkan perjuangan melalui persatuan dan kerja nyata bagi bangsa.
“Inilah momentum yang sangat penting. Momentum di mana perjuangan untuk memperjuangkan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan itu menjadikan motivasi bagi kita semuanya. Apa yang harus kita lakukan? Kita sudah diwarisi satu negara, sebuah negara yang merdeka. Dan sekarang kita harus berpikir apa yang kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan,” tuturnya.
Ia mengatakan, perjuangan mengisi kemerdekaan membutuhkan persatuan dan ukhuwah. Modal tersebut perlu terus diperkuat agar Indonesia menjadi negara yang membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan dengan kebersamaan kita semuanya mendapat ridha dari Allah untuk menjadikan negara ini negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun),” ujarnya.
Resolusi Jihad dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Gus Kikin juga mengajak masyarakat mengenang Resolusi Jihad sebagai pengingat tentang pentingnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia menjelaskan, seruan jihad muncul ketika pasukan Inggris berupaya memasuki Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Kedatangan pasukan Inggris di Surabaya kemudian memicu pertempuran yang menimbulkan banyak korban jiwa.
Menurutnya, masyarakat Surabaya tidak tinggal diam menghadapi situasi tersebut. Mereka berupaya menghadang pasukan yang hendak memasuki kota.
“Tapi tidak ada yang mundur. Masyarakat Indonesia begitu melihat Inggris mau masuk ke Surabaya, (langsung) dihadang,” katanya.
Gus Kikin menyebut Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyampaikan fatwa jihad pada sore hari, 9 November 1945. Fatwa tersebut, jelasnya, mewajibkan umat Islam mempertahankan negara yang telah merdeka.
“Jadi fatwa jihad wajib bagi semua umat Islam untuk mempertahankan negaranya, mempertahankan negara yang sudah merdeka,” ucapnya.
Ia menegaskan, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia memang berlangsung di Jakarta, tetapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga diuji melalui perlawanan di Surabaya. Perjuangan masyarakat, termasuk arek-arek Suroboyo, menjadi bagian penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Kalau tidak, masyarakat Surabaya, arek-arek Suroboyo mau mempertahankan, niscaya kita tidak akan merdeka, kita kembali dijajah lagi,” ucapnya.