Nasional

Haul Ke-23 Abu Teupin Raya Aceh, Penting Lanjutkan Keteladanan Ulama

Jumat, 5 Juni 2026 | 16:00 WIB

Haul Ke-23 Abu Teupin Raya Aceh, Penting Lanjutkan Keteladanan Ulama

Haul Ke-23 Abu Teupin Raya Aceh. (Foto: istimewa)

Pidie, NU Online

Ribuan jamaah dari berbagai daerah di Aceh memadati Masjid Baitul Istiqamah Teupin Raya, Kabupaten Pidie, Rabu (3 /6/2026). Mereka hadir untuk mengikuti Haul ke-23 Abu Muhammad Ali Alfalaki atau yang lebih dikenal dengan Abu Teupin Raya, ulama kharismatik Aceh yang dikenang sebagai ahli ilmu falak, lulusan Mesir, pendidik dayah, penulis kitab, dan rujukan Tarekat Syatariyah di Aceh.


Sejak selesai shalat Isya berjamaah, jamaah tampak memenuhi area masjid. Para ulama, teungku, alumni Dayah Darussa’adah, santri, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum duduk bersila mengikuti rangkaian zikir dan doa bersama. Suasana khidmat terasa ketika lantunan zikir dan doa dipimpin oleh Gurei Mahyeddi Tampui Trienggadeng, Pidie Jaya.


Peringatan haul tersebut bukan hanya menjadi agenda keagamaan tahunan. Lebih dari itu, haul menjadi ruang kolektif masyarakat Aceh untuk mengenang kembali jejak seorang ulama besar yang telah memberi warna penting dalam perkembangan pendidikan dayah, ilmu falak, literasi keislaman, dan pembinaan spiritual masyarakat.


Haul sebagai ruang merawat ingatan ulama

Ketua Panitia Haul Tgk Muhammad Usman mengatakan peringatan haul ke-23 Abu Teupin Raya menjadi momentum penting untuk mengenang jasa dan melanjutkan warisan keilmuan yang telah ditinggalkan. Menurutnya, kehadiran ribuan jamaah menunjukkan bahwa pengaruh Abu masih hidup kuat di tengah masyarakat Aceh.


“Beliau tidak hanya dikenal di Aceh, tetapi juga hingga luar negeri berkat kontribusinya dalam pengembangan ilmu falak dan pendidikan Islam. Haul ini menjadi cara kita mengenang jasa beliau, sekaligus menghidupkan kembali semangat keilmuan yang beliau wariskan,” ujar Tgk Muhammad Usman.


Ia menjelaskan, haul juga menjadi ruang silaturahim antara ulama, alumni, santri, dan masyarakat. Bagi keluarga besar Dayah Darussa’adah, mengenang Abu Teupin Raya tidak cukup hanya dengan menyebut namanya. Warisan itu harus dilanjutkan melalui penguatan lembaga pendidikan, pengajian, penulisan, dan pengabdian kepada umat.


“Yang paling penting dari haul ini adalah bagaimana kita melanjutkan perjuangan beliau. Abu telah memberi contoh bahwa ilmu harus diajarkan, ditulis, dan diamalkan untuk kemaslahatan umat,” kata Tgk Muhammad Usman.


Abu Teupin Raya memiliki nama lengkap Tgk Muhammad Ali bin Muhammad Irsyad. Ia lahir di Gampong Kayee Jatoe pada 17 Ramadhan 1339 H dari keluarga yang memiliki akar keulamaan dan perjuangan. Sejak kecil, ia memperoleh pendidikan agama dari keluarganya dan menunjukkan kemampuan dalam memahami kitab kuning, nahwu, sharaf, balaghah, serta ilmu-ilmu alat lainnya.


Ketika berusia sekitar 18 tahun, Abu Teupin Raya memperdalam ilmu agama di Gampong Uteun Bayu, Ulee Gle, Pidie Jaya, kepada Teungku Abdul Majid bin Abdurrahman selama delapan tahun. Setelah itu, perjalanan intelektualnya berlanjut ke Dayah Pulo Kiton, Bireuen. Di sana, Abu tidak hanya belajar, tetapi juga mulai banyak mengajar.


Dari ilmu falak hingga pembaruan dayah

Perjalanan keilmuan Abu Teupin Raya kemudian berlanjut ke Geurugok untuk berguru kepada Teungku Syeikh Usman Makam, ulama asal Gandapura yang dikenal ahli dalam ilmu falak setelah lama belajar di Mekkah. Di Geurugok inilah Abu mulai tertarik dan mendalami ilmu falak.


Kepakaran Abu dalam perhitungan waktu, kalender Hijriah, arah kiblat, dan penentuan waktu ibadah membuat masyarakat mengenalnya sebagai Al-Falaki. Gelar tersebut bukan sekadar sebutan, tetapi menjadi pengakuan atas kedalaman ilmu beliau dalam bidang falak, sebuah disiplin penting yang berkaitan langsung dengan praktik ibadah umat Islam.


Perjalanan pendidikan Abu Teupin Raya tidak berhenti di Aceh. Setelah melewati berbagai dinamika sosial-politik Aceh, ia mendapat kesempatan menempuh pendidikan ke Mesir, tepatnya di Universitas Al-Azhar. Di Mesir, ia memperluas wawasan keilmuan dan berguru kepada ulama yang memiliki kepakaran dalam ilmu falak. Dari pengembaraan ilmu itu, Abu membawa pulang gagasan pembaruan pendidikan dayah.


Sepulang dari Mesir, Abu Teupin Raya tidak hanya kembali sebagai seorang alim, tetapi juga sebagai pembaru. Pada 1968, Dayah Darussa’adah Teupin Raya kembali diresmikan di bawah Yayasan Pendidikan Islam Darussa’adah. Prinsip dasar pendirian yayasan tersebut adalah keikhlasan dan pengabdian kepada umat. Darussa’adah tidak diposisikan sebagai milik pribadi, tetapi sebagai lembaga pendidikan milik umat.


Ketua PCNU Pidie Tgk Isafuddin menilai Abu Teupin Raya sebagai salah satu ulama besar Aceh yang berhasil memadukan tradisi dayah dengan semangat pembaruan pendidikan. Menurutnya, keistimewaan Abu terletak pada kemampuannya menjaga akar kitab kuning, fiqih Syafi’iyyah, tauhid Asy’ariyyah, dan tasawuf dengan tetap membuka ruang bagi sistem pendidikan yang lebih tertata dan menjawab kebutuhan zaman.


“Abu Teupin Raya adalah ulama besar yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membangun sistem. Beliau pulang dari pengembaraan ilmu dengan membawa semangat pembaruan, lalu menata Dayah Darussa’adah sebagai lembaga pendidikan umat. Inilah warisan besar yang harus dijaga,” kata Tgk Isafuddin.


Menurut Tgk Isafuddin, Abu memahami pendidikan sebagai proses panjang membentuk manusia. Pendidikan tidak boleh dilakukan secara instan, serampangan, dan tanpa arah. Pendidikan harus direncanakan, dilaksanakan, diawasi, dan dievaluasi secara serius agar mampu melahirkan generasi berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi masyarakat.


Dayah Darussa’adah Teupin Raya kemudian berkembang sebagai pusat kaderisasi ulama, guru dayah, dan pendidik Islam. Dari lembaga tersebut lahir banyak alumni yang kemudian mendirikan dan mengembangkan pendidikan Islam di berbagai daerah. Jaringan pengaruh Dayah Darussa’adah bahkan disebut telah melahirkan lebih dari 100 cabang dayah di Aceh dan luar negeri.


Penulis kitab dan rujukan Syatariyah

Selain mendidik, Abu Teupin Raya juga dikenal sebagai ulama produktif dalam menulis. Ia meninggalkan puluhan karya dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu falak, tauhid, fiqih, tasawuf, nahwu, sharaf, hingga sejarah Islam. Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa tradisi ulama dayah Aceh tidak hanya hidup melalui pengajian lisan, tetapi juga melalui budaya literasi yang kuat.


Di antara karya Abu Teupin Raya yang dikenal adalah Awaluddin Ma’rifatullah dalam bidang tauhid, Al-Qaidah dalam ilmu nahwu, Taqwimu al-Hijri dalam ilmu falak, serta Ad-da’watul Wahabiyah yang membahas gerakan dakwah Wahabi. Selain itu, karya penting lainnya adalah Faradis al-Jinan fi Tarjamah al-‘Awamil al-Jurjani, yaitu terjemahan ke dalam bahasa Aceh atas kitab al-‘Awamil karya Imam Abdul Qahir al-Jurjani, sebuah kitab dasar dalam ilmu tata bahasa Arab.


Tgk Isafuddin mengatakan, karya-karya tersebut menunjukkan keluasan ilmu Abu Teupin Raya. Menurutnya, Abu menulis bukan hanya untuk menunjukkan kedalaman pengetahuan, tetapi juga untuk membantu santri dan masyarakat memahami agama dengan lebih mudah.


“Karya Abu memperlihatkan keluasan ilmu beliau. Ada ilmu falak, tauhid, fiqih, nahwu, sharaf, bahkan respons terhadap persoalan keagamaan masyarakat. Ini membuktikan bahwa ulama dayah Aceh memiliki tradisi ilmiah yang kuat dan tidak terputus dari kebutuhan umat,” ujarnya.


Di sisi lain, Abu Teupin Raya juga memiliki kedudukan penting dalam tradisi tasawuf Aceh, khususnya Tarekat Syatariyah. Dalam jaringan tarekat tersebut, beliau bukan hanya dipandang sebagai pengamal, tetapi juga menjadi salah satu rujukan keilmuan dan amaliah Syattariyah di Aceh. Pengaruhnya tersebar ke berbagai daerah melalui murid, alumni, jaringan dayah, dan pengajian masyarakat.


Haul ke-23 tersebut turut dihadiri sejumlah ulama Aceh, di antaranya Abu Tanjong Bungong, Abiya Jeunieb, para teungku, alumni Dayah Darussa’adah, serta masyarakat dari berbagai daerah. Kehadiran ribuan jamaah menjadi tanda bahwa nama Abu Teupin Raya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Aceh.


Bagi jamaah yang hadir, haul ini bukan sekadar mengenang wafat seorang ulama, tetapi juga meneguhkan kembali pentingnya menjaga ilmu, adab, sanad keilmuan, pendidikan dayah, dan tradisi tasawuf yang membentuk akhlak umat. Dari Teupin Raya, warisan Abu Muhammad Ali Al-Falaki terus mengalir melalui kitab, lembaga pendidikan, murid, alumni, jaringan tarekat, dan masyarakat yang tetap mencintai perjuangannya.