Nasional

IIQ Jakarta Perlu Terus Perkuat Keunggulan dan Peran Perempuan Merawat Kehidupan

Selasa, 29 September 2026 | 07:00 WIB

IIQ Jakarta Perlu Terus Perkuat Keunggulan dan Peran Perempuan Merawat Kehidupan

Rektor IIQ Jakarta Prof Dr Nadjematul Faizah saat mewisuda 583 wisudawan/wisudawati IIQ pada Senin (27/9/2026). (Dok IIQ)

Jakarta, NU Online
Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta didorong untuk terus memperkuat kekhasan dan keunggulannya sebagai perguruan tinggi yang memiliki profesionalisme dalam kajian Al-Qur’an. Di tengah persaingan pendidikan tinggi dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), kekhasan tersebut perlu berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi.

 

Pesan itu disampaikan Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah I DKI Jakarta dan Banten, Prof. Asep Saepudin Jahar, dalam Wisuda Sarjana ke-27, Magister ke-20, dan Doktor ke-6 IIQ Jakarta, Senin (28/9/2026).

 

Menurut Asep, IIQ memiliki kekhususan yang perlu terus diperkuat sebagai identitas di tengah persaingan perguruan tinggi. “IIQ punya kekhususan, punya keunggulan. Maka teruslah cari keunggulan itu dan terus perkuat di wilayah itu. Kenapa? Karena persaingan membutuhkan keunikan dan keunggulan,” ujarnya.

 

Ia mengingatkan perguruan tinggi tidak harus mengikuti seluruh bidang yang dikembangkan kampus lain jika tidak memiliki profesionalisme yang kuat. Sebaliknya, IIQ telah memiliki fondasi profesionalisme yang jelas, yakni kajian Al-Qur’an.

 

“Kalau kita mengikuti apa yang sudah dilakukan orang lain, tetapi kita tidak atau kurang profesional di wilayah itu, jangan dicoba. Dan IIQ sudah punya profesionalisme, yaitu kajian Al-Qur’an,” tegasnya.

 

Al-Qur’an dan Tantangan AI
Asep menekankan bahwa mempertahankan kekhasan tidak berarti menutup diri dari perkembangan zaman. IIQ, menurut dia, perlu meningkatkan literasi teknologi, termasuk AI dan teknologi digital.

 

“Sebagai perguruan tinggi, apalagi dengan teknologi yang pesat, mari juga melek teknologi. AI misalnya, teknologi digital misalnya,” tutur Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

 

Ia mendorong agar teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat pengembangan kajian Al-Qur’an. Adaptasi tersebut, lanjut Asep, perlu melibatkan seluruh sivitas akademika, mulai dosen, tenaga kependidikan hingga guru besar.

 

“Lembaga penjaminan mutu, para wakil rektor, para tendik untuk terus ditingkatkan kemampuannya, kualifikasinya dan kompetensinya,” ujarnya.

 

Ia optimistis penguatan tersebut akan membawa IIQ semakin maju. “Insyaallah IIQ akan terdepan,” harap profesor sosiologi hukum Islam itu.

 

Di hadapan para wisudawan, Asep juga mengingatkan bahwa masa depan merupakan tantangan yang harus dihadapi, bukan dihindari. Ia menilai kekhasan IIQ dapat menjadi alasan calon mahasiswa memilih kampus tersebut. “Walaupun di depan UIN, tetap pilihan ke IIQ itu tidak salah tempat,” ujarnya.

 

Menurut Asep, pilihan itu bahkan dapat tumbuh sejak calon mahasiswa menentukan arah pendidikan tinggi. “Dari rumah para calon mahasiswa itu sudah terpikir, kuliahnya mau ke IIQ. Mau ke IIQ. Saya merasakan itu,” katanya.

 

“Masa depan kalian adalah tantangan yang harus dihadapi, bukan untuk dihindari,” pesannya.

 

Memperkuat Perempuan Qur’ani
Rektor IIQ Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Nadjematul Faizah menyebut bahwa dorongan memperkuat keunggulan IIQ sejalan dengan tema wisuda tahun ini: Ekoteologi Qurani: Meneguhkan Peran Perempuan dalam Merawat Kehidupan.

 

Ia mengatakan tema tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab manusia tidak berhenti pada hubungan dengan Allah dan sesama, tetapi juga mencakup alam dan seluruh kehidupan yang diamanahkan Allah.

 

“Dalam konteks krisis ekologi, merawat kehidupan harus menjadi bagian dari kesadaran keagamaan kita,” ujar Najma, sapaan akrabnya.

 

Sebagai perguruan tinggi dengan kekhasan pendidikan Al-Qur’an bagi perempuan, IIQ memiliki posisi strategis dalam melahirkan perempuan berilmu yang mampu membaca teks sekaligus membaca zaman.

 

Para lulusan diharapkan tidak hanya memahami ayat-ayat qauliyah, tetapi juga peka terhadap ayat-ayat kauniyah serta mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.

 

Menurut Najma, perempuan memiliki peran penting dalam membangun keluarga, mengembangkan ilmu, menggerakkan perubahan sosial, menjaga lingkungan, dan ikut membentuk peradaban.

 

Semangat itu diwujudkan melalui Kuliah Kerja Lapangan nasional dan internasional yang diikuti 415 mahasiswa dengan tema “Peran Perempuan dalam Konservasi Lingkungan Perspektif Ekoteologi Al-Qur’an.”

 

“Dengan demikian, ekoteologi Qurani bagi IIQ bukan sekadar wacana akademik. Ia dibawa dari ruang kuliah menuju ruang pengabdian,” tegasnya.

 

Najma juga menitipkan tiga pesan kepada para lulusan: rawatlah ilmu, rawatlah nilai, dan rawatlah kehidupan. “Gunakan ilmu untuk menjaga martabat manusia, keluarga, masyarakat, lingkungan, dan masa depan generasi berikutnya,” pesannya.

 

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari jabatan, gelar, pendapatan, atau popularitas. “Nilai tertinggi dari ilmu bukan hanya pada apa yang kita ketahui. Akan tetapi, pada apa yang berubah menjadi lebih baik karena ilmu yang kita miliki,” tegasnya.

 

583 Lulusan
Ketua Umum Yayasan Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, Rully Chairul Azwar, mengatakan wisuda tahun ini diikuti 583 lulusan dari jenjang sarjana, magister, dan doktor, termasuk melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sebanyak 524 wisudawan mengikuti prosesi secara luring dan 59 lainnya secara daring.

 

Rully merinci, lulusan terdiri atas 416 sarjana, 155 magister, dan 12 doktor. Di antara mereka terdapat 10 penerima beasiswa Pemerintah Provinsi Riau dan dua penerima beasiswa Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

 

Kekhasan IIQ juga tercermin dari prestasi mahasiswa dan alumninya pada MTQ Nasional XXXI di Semarang, September 2026. Mahasiswi dan alumni IIQ Jakarta meraih 10 gelar kejuaraan pada berbagai cabang Al-Qur’an.

 

Dari sisi kelembagaan, seluruh institusi dan program studi IIQ telah terakreditasi, dengan 30 persen program studi meraih peringkat Unggul. Pada 2026, Program Studi S1 Hukum Ekonomi Syariah meraih peringkat Unggul, sementara S1 Pendidikan Agama Islam mempertahankan peringkat Unggul.

 

Upaya menuju rekognisi global ditandai dengan terpilihnya dua dosen IIQ mengikuti program Fellow Research di The Imam Bukhari International Scientific-Research Center, Samarkand, Uzbekistan.

 

Yayasan IIQ Jakarta juga berencana mendirikan Qur’anic Center sebagai pusat keunggulan kajian Al-Qur’an yang berfokus pada pendidikan, penelitian, pengkajian, dan pelatihan ilmu-ilmu Al-Qur’an.