Nasional

Inayah Wahid Sebut Pesantren Basis Perubahan Bangsa Tanamkan Integritas dan Adab

Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:00 WIB

Inayah Wahid Sebut Pesantren Basis Perubahan Bangsa Tanamkan Integritas dan Adab

Inayah Wulandari Wahid saat Dialog An-Nahdliyah di Masjid Hasyim Asy'ari, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (27/10/2026). (Foto: Asrofi)

Batang, NU Online

Dewan Penasihat Jaringan Gusdurian Inayah Wulandari Wahid menyebut pesantren memiliki peran strategis sebagai basis perubahan bangsa melalui pendidikan karakter yang menanamkan nilai integritas, kejujuran, kesabaran, dan adab kepada para santri.


Hal tersebut disampaikan Inayah dalam Dialog An-Nahdliyah bertema “Indonesia Darurat Krisis Sosial Ekologis” yang diselenggarakan oleh Lakpesdam PCNU Batang di Masjid Hasyim Asy'ari, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (27/10/2026).


Menurut Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini tidak cukup diselesaikan hanya melalui diskusi atau wacana, tetapi membutuhkan perubahan pola pikir dan gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten.


"Kita harus mengubah pola-pola yang dari kemarin hanya membawa kita kepada kondisi yang sama, bahkan semakin lama semakin buruk. Kita harus bisa mengambil keputusan untuk tidak mau lagi memakai pola yang lama," ujarnya.


Ia menegaskan, perubahan tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses panjang dan keterlibatan banyak pihak agar masyarakat mampu keluar dari berbagai persoalan yang semakin kompleks.


"Ini pekerjaan bersama-sama dan tidak bisa selesai sekali. Habis acara ini kemudian besok selesai, tidak mungkin. Tapi kita bisa memulai pola baru," katanya.


Dalam kesempatan tersebut, Inayah juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan dan berbagai persoalan sosial yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, masyarakat memiliki kekuatan untuk mendorong perubahan apabila mampu bergerak secara kolektif.


Ia mencontohkan, kekuatan masyarakat dapat muncul ketika memiliki kesadaran bersama untuk menentukan sikap terhadap berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan publik.


"Kalau kita tahu alirannya ke mana, kita sebenarnya punya kekuatan. Kita punya kekuatan untuk mematikan (hal-hal yang merugikan masyarakat), tetapi itu perlu dilakukan secara bersama-sama," jelasnya.


Lebih lanjut, Inayah menilai pesantren memiliki modal besar dalam membangun perubahan tersebut. Sebab, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter melalui nilai-nilai moral dan spiritual.


"Ketika kita ngomong basis kita yang paling kuat, apa yang paling kuat mengajarkan integritas, kesabaran, kejujuran, adab, kalau bukan pesantren," ungkapnya.


Menurutnya, bangsa membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga mempunyai karakter kuat dan berpegang pada nilai-nilai moral.


Karena itu, ia mendorong agar pesantren terus menjaga perannya dalam mencetak kader-kader bangsa yang berintegritas.


"Penting hari ini kita punya pemimpin-pemimpin yang munculnya dari pesantren. Tugas bapak ibu memastikan pesantren memang akan menciptakan kader-kader yang seperti itu," tegasnya.


Inayah menyadari bahwa tidak semua lulusan pesantren secara otomatis memiliki karakter ideal. Namun, menurutnya, semakin banyak pesantren melahirkan generasi dengan nilai integritas dan adab, maka semakin besar peluang bangsa memiliki pemimpin yang berkualitas.


"Semakin banyak kita memproduksi seperti itu, kalaupun ada yang rusak, yang kualitasnya bagus tetap lebih banyak. Dan kita yang punya kekuatan itu," pungkasnya.