Nasional

Jadi Waketum Bidang Lingkungan, Gus Rozin Prioritaskan Kesiapsiagaan Bencana bagi Nahdliyin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Jadi Waketum Bidang Lingkungan, Gus Rozin Prioritaskan Kesiapsiagaan Bencana bagi Nahdliyin

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan KH Abdul Ghaffar Rozin. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan KH Abdul Ghaffar Rozin memprioritaskan penguatan kesiapsiagaan bencana bagi warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) dalam program kerjanya setelah dikukuhkan secara resmi menjadi pengurus untuk masa khidmah 2026–2031.


Gus Rozin mengatakan, kesiapsiagaan bencana menjadi perhatian utama karena Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan ring of fire atau cincin api. Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki potensi bencana yang harus diantisipasi secara berkelanjutan.


"Tidak harus menunggu bencana datang, tetapi kesiapsiagaan bencana masyarakat dan terutama Nahdliyin, itu yang akan kita bangun,” ujarnya ditemui usai Pelantikan Pengurus PBNU di Ponpes Al Hamid Cilandak, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).


Menurutnya, upaya membangun kesiapsiagaan bencana membutuhkan sistem pendukung yang memadai, mulai dari jejaring, keterampilan masyarakat, hingga ketersediaan sumber daya.


Dalam menjalankan program tersebut, Gus Rozin menilai Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU memiliki peran strategis. Lembaga ini menangani persoalan perubahan iklim dan kebencanaan yang menjadi tantangan serius di Indonesia.


"Negara kita ada di ring of fire, yang artinya negara kita harus, di samping memang subur, tetapi juga bencana itu harus siap untuk datang terus-menerus,” katanya.


Perkuat LAZISNU dan restorasi lingkungan

Selain kesiapsiagaan bencana, Gus Rozin mendorong penguatan profesionalisme Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU). Menurutnya, LAZISNU memiliki peran penting dalam mendukung ketersediaan sumber daya untuk menjalankan berbagai program NU.


Ia menilai pengelolaan LAZISNU selama ini sudah cukup baik. Namun, potensi yang dimiliki NU masih belum tergarap secara optimal sehingga perlu diperkuat pada periode kepengurusan 2026–2031.


“Penguatan LAZISNU yang lebih profesional, sehingga setidak-tidaknya kita bisa menggarap 30 sampai 40 persen saja dari potensi yang kita miliki pada periode ini, itu sudah sangat luar biasa,” jelasnya.


Gus Rozin juga menegaskan perhatian PBNU terhadap kelestarian dan pemulihan lingkungan. Menurutnya, restorasi lingkungan membutuhkan pembahasan lebih lanjut karena melibatkan berbagai elemen, termasuk pemerintah sebagai pengambil kebijakan serta dinamika isu nasional dan internasional.


“PBNU mempunyai concern yang cukup kuat terhadap kelestarian lingkungan, restorasi lingkungan, yang nanti itu tentu perlu didiskusikan lebih jauh lagi,” ungkapnya.