Nasional

Jumadal Ula atau Jumadil Awal? Berikut Penjelasannya!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:00 WIB

Jumadal Ula atau Jumadil Awal? Berikut Penjelasannya!

Ilustrasi Jumadal Ula. (Foto: NU Online/Syakir NF)

Jakarta, NU Online

Bulan kelima Hijriah ini disebut dengan ragam nama. Ada yang menyebutnya Jumadal Ula, Jumadil Ula, Jumadal Awwal, atau Jumadil Awwal. Mana yang benar di antara keempat nama itu?


Penyebutan Jumadi dinilai tidak tepat mengingat kata dengan wazan fu'ali diakhiri dengan ha lazimah menjadi Jumadiyah sebagaimana dijelaskan Shalahuddin Khalil dalam Tashhih al-Tashif. Kata yang serupa dengan hal tersebut antara lain Qurasyiyah dan Shurahiyah.


"Banyak orang yang menyebutnya dengan Jumadil Ula, namun menurut morfologi Arab penyebutan itu dipandang lemah," tulis Ustadz Tatam Wijaya sebagaimana dikutip dari artikel berjudul Bulan Kelima: Jumadil Awwal, Jumadil Ula, atau Jumadal Ula? pada Rabu (5/11/2025).


Kemudian, Ustadz Tatam menjelaskan bahwa penyebutan Jumadal Awwal pun dinilai tidak tepat. Pasalnya, kata awwal yang berarti ‘pertama’ itu bersifat mudzakkar. Karenanya, secara otomatis, kata tersebut tidak bisa menyifati Jumada yang berkategori muannats.


"Hal ini diperkuat oleh al-Farra yang menyatakan, semua nama bulan Arab terkategori mudzakkar (maskulin) kecuali Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah," tulisnya mengutip Muhammad ibn al-Mustanir ibn Ahmad dalam kitabnya berjudul al-Azminah wa Talbiyatul Jahiliyyah.


"Sehingga bentuk kata sifat yang tepat untuk menyifati jumada bukan al-awwal, melainkan al-ula yang berbentuk muannats," lanjut Ustadz Tatam.


Lebih lanjut, Ustadz Tatam juga menjelaskan bahwa penamaan bulan Jumadal Ula juga, seperti dikatakan Abu Sa'id, dilatarbelakangi oleh musim yang terjadi pada bulan tersebut, yaitu musim dingin (syita). 


"Jumada sendiri berasal dari kata jamada, yang berarti ‘beku’ sesuai dengan keadaan air yang beku di musim dingin," tulisnya mengutip Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab dan al-Harawi dalam Tahdzib al-Lughah.


Jumadal Ula, kata Ibnu Duraid, memiliki sebutan lain di zaman Jahiliyah, yaitu al-Hanin, Rubba, Syaiban, dan Kanun al-Awwal. Sementara bulan Jumadal Akhirah disebut juga dengan nama Milhan dan Kanun al-Akhir.


"Kata syaiban dan milhan ini dapat ditelusuri dari kata syaib yang berarti ‘uban’, dan kata milh yang berarti ‘garam.’ Keduanya menggambarkan keadaan salju di musim dingin yang putih seperti uban atau garam dan terjadi di bulan Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah," terangnya mengutip Abu al-Hasan dalam al-Mukhashish.