Nasional

Kajian Islam dan Jawa Dinilai Penting sebagai Fondasi Masa Depan Indonesia

Sabtu, 4 Juli 2026 | 11:30 WIB

Kajian Islam dan Jawa Dinilai Penting sebagai Fondasi Masa Depan Indonesia

Nur Khalik Ridwan (kanan) dan Pemimpin Redaksi NU Online Ivan Aulia Ahsan dalam tayangan Menjadi Indonesia di Youtube NU Online. (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online

Peneliti kebudayaan Islam Jawa, Nur Khalik Ridwan, menilai hubungan antara Islam dan Jawa bukan sekadar tema sejarah atau kebudayaan, melainkan memiliki arti penting bagi masa depan Indonesia. Menurutnya, memahami akar kebudayaan masyarakat merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan bangsa di tengah berbagai tantangan yang terus berkembang.


Pandangan tersebut disampaikan Nur Khalik saat menjelaskan alasan dirinya memusatkan perhatian pada kajian Islam dan Jawa. Ia mengaku kegelisahan terhadap arah perjalanan bangsa mendorongnya menelusuri kembali hubungan antara tradisi Islam, Nahdlatul Ulama (NU), dan kebudayaan Jawa.


"Ngomong Islam dan Jawa itu masa depan. Oh, kenapa saya ngomong masa depan? Saya melihat hari-hari ini ya dan juga kemarin-kemarin tentang kehidupan kebangsaan. Kita ingin semua keinginan kita curahkan untuk kelestarian Indonesia yang adil, makmur, dan yang lain-lain lah," ujarnya dalam program Menjadi Indonesia produksi NU Online.


Sebagai orang yang aktif di tengah masyarakat, ia mengaku kerap mempertanyakan bagaimana masa depan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Pertanyaan tersebut kemudian membawanya pada pencarian terhadap fondasi kebudayaan yang selama ini membentuk kehidupan masyarakat.


"Saya sering bertanya, 'Indonesia ini sampai kapan?' Kadang-kadang saya cari jawaban-jawaban itu. Keterpisahan kajian-kajian NU dengan Jawa itu saya merasakan ada irisan di situ yang kurang. Jadi ada keterpisahan, padahal saya menemukan bahwa ini masa depan ketika organisme itu ada tetap di Indonesia," katanya.


Nur Khalik menjelaskan, kajian mengenai Islam dan Jawa bukan dimaksudkan untuk mempertentangkan identitas kebangsaan ataupun mendorong lahirnya gagasan pemisahan dari Indonesia. Sebaliknya, penguatan fondasi kebudayaan diperlukan agar masyarakat tetap memiliki pijakan dalam menghadapi perubahan zaman.


"Saya enggak ngomong ini sebagai gerakan pemecahan atau apa. Enggak ya. Karena dalam konteks keindonesiaan dan ke-NU-an apa yang kita kaji ini tetap memiliki relevansi dan manfaatnya," katanya dalam program yang dipandu Pemimpin Redaksi NU Online, Ivan Aulia Ahsan.


Nur Khalik kemudian mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah bendungan yang harus memiliki saluran agar air tetap mengalir. Menurutnya, apabila keadilan sosial, cita-cita kemerdekaan, dan ruang-ruang kebudayaan tidak terus dirawat, bangsa ini berpotensi menghadapi persoalan yang lebih besar pada masa mendatang.


Karena itu, ia memandang generasi sekarang perlu kembali menggali fondasi kebudayaan masyarakatnya sendiri. Upaya tersebut dinilai penting agar pembangunan bangsa tidak tercerabut dari akar sejarah dan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat selama berabad-abad.


"Kalau ternyata Indonesia ini memuai, mengembang dan menyusut sebagai sebuah peradaban, kan begitu, kita menyiapkan proses kebudayaan dan dasar-dasar kebudayaan itu dengan tetap menggali dasar-dasar dari masyarakat kita," paparnya.


Bagi Nur Khalik, pembahasan mengenai Islam dan Jawa pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang masa lalu. Kajian tersebut merupakan ikhtiar menemukan fondasi kebudayaan yang dapat menjadi bekal bagi Indonesia dalam menghadapi perubahan sosial, politik, dan peradaban pada masa yang akan datang.