Nasional

Karbon Biru yang Terlupakan: Potensi Besar Lamun Atasi Krisis Perubahan Iklim

Selasa, 3 Maret 2026 | 11:00 WIB

Karbon Biru yang Terlupakan: Potensi Besar Lamun Atasi Krisis Perubahan Iklim

Potret padang lamun. (Foto: NU Online/Freepik)

Jakarta, NU Online

 

Peneliti Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusmiana Rahayu menyampaikan bahwa potensi karbon biru dari ekosistem padang lamun Indonesia masih jauh dari perhatian arus utama kebijakan iklim nasional. Padahal, karbon yang diserap dapat membantu mengurangi krisis perubahan iklim yang kian ekstrem.

 

Yusmiana mengungkapkan bahwa ekosistem lamun memiliki kapasitas luar biasa dalam menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka panjang. Namun, ia menilai kesadaran publik dan arah kebijakan masih belum optimal dalam melindungi ekosistem pesisir tersebut.

 

“Padang lamun memiliki kemampuan menyerap karbon hingga 35 kali lebih besar dibandingkan hutan hujan tropis. Potensi ini harus dipandang sebagai bagian penting dari strategi mitigasi perubahan iklim nasional,” ujarnya dalam Webinar Menjaga Dalam Senyap: Padang Lamun, Sang Pelindung Pesisir dan Pengendali Iklim Global pada Senin (2/3/2026).

 

Menurutnya, karbon yang diserap oleh lamun tidak hanya tersimpan pada bagian daun, tetapi juga terakumulasi dalam sedimen di bawahnya selama ratusan hingga ribuan tahun. Hal ini menjadikan padang lamun sebagai salah satu penyerap karbon paling efektif di antara ekosistem pesisir.

 

“Karbon yang tersimpan di sedimen lamun relatif stabil selama tidak terjadi gangguan fisik seperti reklamasi, pengerukan, atau pencemaran. Ketika ekosistem ini rusak, karbon yang tersimpan dapat terlepas kembali ke atmosfer,” jelasnya.

 

Ia menyoroti bahwa kerusakan pesisir akibat pembangunan yang tidak terkendali justru berpotensi memperparah krisis iklim. Alih-alih menjadi solusi, ekosistem yang rusak dapat berubah menjadi sumber emisi baru.

 

“Kita sering berbicara tentang deforestasi di darat, tetapi lupa bahwa degradasi ekosistem pesisir juga berkontribusi terhadap pelepasan karbon. Padang lamun seharusnya mendapat perhatian setara dengan hutan tropis,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, Yusmiana mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tanggung jawab sekaligus peluang besar dalam pengembangan kebijakan karbon biru. Dengan luas wilayah pesisir yang signifikan, konservasi lamun dapat menjadi instrumen strategis dalam komitmen penurunan emisi.

 

“Indonesia memiliki potensi karbon biru yang sangat besar. Jika dikelola dengan baik, padang lamun tidak hanya membantu mitigasi perubahan iklim, tetapi juga mendukung ketahanan pesisir dan keberlanjutan ekonomi masyarakat,” katanya.

 

Ia menegaskan bahwa perlindungan lamun memerlukan pendekatan lintas sektor, mulai dari tata ruang pesisir, pengawasan aktivitas industri, hingga edukasi masyarakat.

 

“Krisis perubahan iklim membutuhkan solusi berbasis ekosistem. Padang lamun adalah salah satu jawabannya. Tapi tanpa perlindungan yang serius, kita berisiko kehilangan aset ekologis yang nilainya jauh melampaui manfaat jangka pendek pembangunan,” pungkas Yusmiana.