Nasional

Kemenag Buka Call for Papers Mutamad 2026, Simak Tema dan Ketentuannya

Jumat, 9 Oktober 2026 | 12:30 WIB

Kemenag Buka Call for Papers Mutamad 2026, Simak Tema dan Ketentuannya

Mahad Aly Lirboyo, tuan rumah Mutamad 2026 (MA Lirboyo)

Jakarta, NU Online

Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Pesantren membuka Call for Papers dalam Al-Multaqa Ad-Dawli Lid-Dirasah Al-Islamiyah Wal Insaniyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026.

 

Konferensi internasional tersebut mengusung tema Menuju Pesantren Transformatif dalam Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia.

 

Forum Mu’tamad merupakan ruang akademik untuk mendiseminasikan nilai-nilai Islam Wasathiyah yang menjadi ciri khas pesantren, merumuskan harmonisasi kurikulum dan standar mutu, mengembangkan peta jalan internasionalisasi pesantren, serta memperkuat kolaborasi konkret antara pesantren Indonesia dan lembaga pendidikan global.

 

Lewat ajang tersebut, Kementerian Agama mengundang para akademisi, peneliti, pimpinan pesantren, dosen Mahad Aly, mahasantri/mahasiswa, praktisi, pembuat kebijakan, serta perwakilan lembaga pendidikan untuk mengirimkan abstrak dan paper sesuai tema dan ketentuan yang telah ditetapkan.

 

Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, H Basnang Said engatakan Call for Papers tersebut menjadi bagian penting dalam membuka ruang pertukaran gagasan antara pesantren Indonesia dan komunitas akademik internasional.

 

“Pesantren memiliki tradisi keilmuan yang kuat dan pengalaman panjang dalam membangun pendidikan Islam yang berakar pada nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan. Melalui forum ini, kita ingin mempertemukan kekayaan tradisi tersebut dengan perkembangan pemikiran dan tantangan global,” kata Basnang di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

 

Menurut Basnang, konferensi internasional ini tidak sekadar menjadi forum untuk mempresentasikan karya ilmiah, tetapi juga diharapkan melahirkan gagasan dan jejaring kerja sama yang dapat ditindaklanjuti.

 

“Melalui Call for Papers ini, kami berharap para akademisi, peneliti, pesantren, dan berbagai pemangku kepentingan dapat memberikan kontribusi pemikiran yang memperkuat kolaborasi global dalam pengembangan pendidikan Islam. Yang kita bangun bukan hanya forum pertemuan, tetapi jejaring pengetahuan dan kerja sama yang dapat memberi dampak bagi masa depan pesantren,” ujarnya.

 

Basnang menambahkan, keterlibatan pesantren dalam ruang akademik global merupakan bagian dari transformasi pesantren agar mampu menjaga akar tradisinya sekaligus merespons perubahan zaman.

 

“Transformasi pesantren tidak berarti meninggalkan tradisi. Justru tradisi keilmuan pesantren menjadi modal penting untuk berdialog dengan dunia. Karena itu, tema-tema seperti internasionalisasi, digitalisasi, kurikulum, standar mutu, kemanusiaan, dan peradaban perlu dibicarakan dari perspektif pesantren,” katanya.

 

Mahad Aly Perlu Hadir dalam Percakapan Keilmuan Global

Sementara itu, Direktur Mahad Aly Kementerian Agama, Adib mengatakan konferensi internasional tersebut memiliki arti penting bagi penguatan posisi Mahad Aly sebagai bagian dari ekosistem pendidikan tinggi keagamaan yang memiliki karakteristik keilmuan pesantren.

 

Menurutnya, Mahad Aly memiliki kekayaan tradisi akademik yang dapat memberikan kontribusi dalam diskursus keislaman, kemanusiaan, dan peradaban dunia.

 

“Mahad Aly memiliki tradisi keilmuan yang khas, terutama dalam pengembangan kajian keislaman berbasis turats dan metodologi keilmuan pesantren. Forum internasional seperti ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan intelektual tersebut kepada komunitas akademik yang lebih luas sekaligus membuka ruang dialog dengan perkembangan keilmuan global,” ujar Adib.

 

Adib menilai Call for Papers juga penting untuk mendorong lahirnya karya akademik yang menempatkan pesantren bukan semata sebagai objek kajian, melainkan sebagai subjek yang memiliki pengalaman, tradisi keilmuan, dan gagasan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer.

 

“Pesantren bukan hanya objek kajian, tetapi juga memiliki tradisi keilmuan dan pengalaman yang dapat memberikan kontribusi terhadap diskursus Islam, kemanusiaan, dan peradaban dunia. Karena itu, kami berharap para penulis dapat menghadirkan gagasan yang memiliki kedalaman akademik sekaligus relevan dengan persoalan nyata,” katanya.

 

Ia juga mendorong keterlibatan dosen, kiai, mahasantri, mahasiswa, peneliti, serta akademisi dari dalam dan luar negeri.

 

“Kami ingin forum ini menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi keilmuan. Dari Indonesia, kita membawa pengalaman pesantren yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Dari komunitas global, kita belajar berbagai pendekatan dan perspektif baru. Pertemuan keduanya diharapkan menghasilkan gagasan yang lebih luas dan konstruktif,” tuturnya.

 

Mahad Aly Lirboyo Jadi Tuan Rumah

Mudir ‘Am Mahad Aly Lirboyo, KH Atho’illah Sholahuddin Anwar, menyambut baik penunjukan Mahad Aly Lirboyo sebagai tuan rumah Mu’tamad 2026.

 

Saat dikonfirmasi ia mengaku bersyukur atas kepercayaan tersebut sekaligus menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan konferensi.

 

“Kami tentu merasa senang dan bersyukur atas kehormatan yang diberikan kepada Mahad Aly Lirboyo sebagai tuan rumah. Kami mendukung dan mendoakan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar serta mampu menghasilkan rekomendasi-rekomendasi strategis, khususnya bagi penguatan posisi dan peran Mahad Aly dalam menjawab tantangan zaman,” ungkapnya di Kediri, Rabu (7/10/2026).

 

Kesiapan tersebut juga ditindaklanjuti pada aspek teknis penyelenggaraan. Mudir Mahad Aly Lirboyo, Agus M Aminulloh Mahin menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan kebutuhan teknis konferensi, termasuk kanal penerimaan abstrak dan paper peserta.

 

“Secara teknis, keluarga besar Mahad Aly Lirboyo sebagai tuan rumah telah siap mendukung pelaksanaan kegiatan ini. Abstrak peserta dapat dikirim melalui kanal yang telah disiapkan, termasuk melalui laman khusus yang telah kami siapkan untuk menampung paper dari para peserta,” ujar Gus Aminulloh yang juga Ketua Umum Mu’tamad 2026 di Kediri, Rabu (07/10/2026).

 

Delapan Subtema Call for Papers

Paper yang masuk dapat membahas berbagai isu mengenai transformasi pesantren, pendidikan Islam, jejaring keilmuan internasional, hingga pengembangan peradaban. Panitia membuka ruang pembahasan pada sejumlah subtema berikut, termasuk topik lain yang masih relevan dengan tema utama konferensi:

  1. Islam Wasathiyah dan Pendidikan Islam Moderat
  2. Pesantren Transformatif: Kurikulum, Pedagogi, dan Standar Mutu
  3. Internasionalisasi Pesantren dan Jaringan Keilmuan Global
  4. Menjaga Warisan dan Identitas Islam Indonesia dalam Diplomasi Budaya Global​​​​​​​
  5. Kajian Islam, Kajian Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia​​​​​​​
  6. Harmonisasi Kurikulum dan Akreditasi dalam Pendidikan Islam​​​​​​​
  7. Transformasi Digital, Inovasi, dan Pesantren​​​​​​​
  8. Topik lain yang relevan dengan tema konferensi
 

Kedelapan lingkup tersebut tercantum dalam panduan resmi Call for Papers. Panitia juga membuka ruang bagi pembahasan topik lain sepanjang masih relevan dengan tema utama konferensi.

 

Ketentuan Pengiriman Abstrak

Peserta yang berminat mengikuti Call for Papers harus mengirimkan abstrak sepanjang 250–300 kata dalam bahasa Arab, Inggris dan Indonesia.

 

Abstrak harus mencantumkan judul, nama penulis, afiliasi, alamat email, kata kunci, serta subtema yang dipilih. Berkas disiapkan dalam format Microsoft Word dan dapat dikirim melalui laman: https://multaqadawli2026.mahadalylirboyo.ac.id/

 

Jadwal Penting

Pengiriman abstrak dibuka pada 7-14 Okt 2026

Pengumuman abstrak yang diterima pada 18 Oktober 2026.

Pengiriman naskah full paper pada 18–23 Oktober 2026

Penetapan panelis pada 26 Oktober 2026.
Konferensi secara hybird pada 29–30 Oktober 2026 di Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, Indonesia.

 

Konferensi akan menghadirkan sesi pleno/keynote, sesi panel paralel, serta International Matchmaking. Bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Arab, Inggris dan Indonesia dengan fasilitas interpretasi yang tersedia sesuai kebutuhan.

 

Registrasi Gratis dan Peluang Publikasi

Peserta tidak dikenai biaya registrasi. Paper terpilih juga dapat dipertimbangkan untuk dipublikasikan dalam prosiding konferensi atau jurnal mitra, dengan detail dan mekanisme publikasi yang akan diinformasikan lebih lanjut.

 

Untuk informasi selengkapnya mengenai Call for Papers, peserta dapat mengakses laman multaqadawli2026.mahadalylirboyo.ac.id. 

 

Adapun selengkapnya terkait ketentuan dan panduan, silahkan klik tautan berikut bit.ly/JuknisCFPMutamad2026.