Nasional

Ketum PBNU Ceritakan Sejarah Penting NU di Pesantren Sukorejo

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Ketum PBNU Ceritakan Sejarah Penting NU di Pesantren Sukorejo

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) saat menghadiri acara Haul Majemuk Masyayikh dan Keluarga BesarPondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (28/10/2026). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube S3TV)

Situbondo, NU Online

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menceritakan sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Hal itu disampaikan saat menghadiri acara Haul Majememuk Masyayikh dan Keluarga Besar di Pesantren yang didirikan KHR Syamsul Arifin itu.


Tempat tersebut menjadi titik balik NU menjadi organisasi masyarakat keagamaan setelah masuk ke pusaran politik praktis melalui Muktamar ke-27 yang dilaksanakan pada tanggal 8-19 Desember 1984. Pada fase ini, NU kembali kepada garis organisasi yang telah dirumuskan muassis. 


"Ini merupakan titik balik sejarah bagi NU untuk kembali ke Khittah 1926, dan keluar dari politik praktis. Oleh karena itu, NU kembali berkhidmah untuk membina umat ini," katanya dalam kanal Youtube S3 TV, dikutip NU Online, Rabu (28/10/2026).


Gus Kikin mengatakan, penerimaan NU terhadap dasar negara Pancasila juga diputuskan para ulama melalui Muktamar ini. Ia menilai keputusan ini amat penting, sebab NU turut menegaskan bahwa hubungan agama dan negara tidak saling berlawanan.


"Kalau NU bertahan terus, tidak mau mengakui Pancasila niscaya Indonesia ini akan menjadi negara sekuler seperti Turki," ujar Gus Kikin.


Penerimaan ini, menurut Gus Kikin, adalah bagian dari perwujudan semangat trilogi ukhuwah atau persaudaraan yang digelindingkan KH Achmad Siddiq, Jember. Pemahaman tersebut berimbas kepada kerja sama yang melibatkan berbagai latar belakang sosial maupun paham keagamaan.


Gus Kikin menilai bahwa generasi saat ini berhadapan dengan tantangan yang semakin beragam dan rumit. Dengan demikian, ia mengajak para hadirin untuk mencari solusi dengan tetap memerhatikan spirit persaudaraan dan ketuhanan.


"Itulah maka kita harus mulai berpikir bagaimana kita membangun ukhuwah dan mencari ridha Allah. Karena dengan ridha Allah semua hal akan bisa kita capai," ajaknya.


Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang itu pun berharap kiprah para ulama NU pada zaman lampau dapat menginspirasi para santri untuk menjadi generasi yang melindungi umat dan memimpin negeri.


"Mudah-mudahan di Pondok yang sangat bersejarah bagi NU di tahun 1984 ini ke depannya muncul pemikiran-pemikiran, santri-santri yang akan menjadi tokoh di masa yang akan datang terutama di Indonesia," harapnya.


Untuk diketahui, keputusan mengenai penerimaan Pancasila sebagai Asas Tunggal, perumusan hubungan Pancasila dan Islam serta Deklarasi NU kembali ke Khittah 1926 dilakukan setelah dibahas di dalam Munas tahun 1983 di Situbondo. Di tahun berikutnya, digelar Muktamar yang menghasilkan pemimpin baru di tubuh NU, yakni KH Achmad Siddiq sebagai rais aam dan KH Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum.