Nasional

Kiai Cholil Nafis Sebut Ada Tiga Indikator Ketakwaan Selama Ramadhan

Selasa, 3 Maret 2026 | 21:04 WIB

Kiai Cholil Nafis Sebut Ada Tiga Indikator Ketakwaan Selama Ramadhan

KH Cholil Nafis saat menyampaikan ceramah Tarawih di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta. (Foto: dok. Masjid Sunda Kelapa)

Jakarta, NU Online

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Cholil Nafis menyebut ada tiga indikator keberhasilan latihan selama Ramadhan yang harus bermuara pada tiga ciri utama orang bertakwa.


Pertama, kemampuan untuk berbagi dalam segala kondisi. Kiai Cholil Nafis menekankan bahwa kedermawanan tidak boleh terhambat oleh kondisi ekonomi pribadi.


"Berbagi itu bukan hanya soal uang. Menyumbangkan waktu untuk teman yang tertimpa musibah atau sekadar berbagi pikiran dengan tetangga itu adalah infak nyata. Bahkan, senyummu di depan orang lain saat kamu sendiri sedang sedih adalah sedekah yang luar biasa," ujarnya saat menyampaikan ceramah Tarawih di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, dikutip NU Online pada Selasa (3/3/2026).


Kedua, pengelolaan emosi. Ia mengingatkan bahwa puasa seharusnya membentuk pribadi yang stabil, bukan pribadi yang gampang meledak amarahnya dengan dalih sedang lapar.


“Kadang ada orang apalagi di jam-jam 3 atau 4 mulai emosi karena lapar akut, justru puasa ini kita belajar menahan amarah,” katanya.


Ketiga, menjadi pemaaf. Kiai Cholil Nafis menyampaikan bahwa perlu merefleksikan kembali kualitas puasa mereka melalui cara pandang terhadap waktu.


"Jika ingin melihat indikator iman naik atau turun, lihatlah dari cara kita berpuasa. Orang yang imannya kuat akan merasa perjalanan waktu Ramadhan ini sangat nikmat dan singkat, tak terasa sudah satu minggu saja," tuturnya.


Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu menyampaikan bahwa hakikat puasa yang seharusnya melahirkan perubahan perilaku sosial, bukan sekadar ritual individu yang hampa.


Kiai Cholil Nafis menegaskan bahwa Ramadhan adalah madrasatun insaniyah atau latihan kemanusiaan.


Ia menyoroti fenomena puasa awam yang masih marak, yakni saat seseorang menahan diri dari makan, tetapi tetap melakukan dosa digital berupa fitnah dan ghibah secara digital.


"Banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan haus. Mengapa? Karena ghibah jalan terus, fitnah jalan terus. Sekarang fitnah dan ghibah sudah digital, dosanya bisa dilihat kapan saja di platform media sosial," tuturnya.