Lima Bulan Pascabanjir, PWNU Aceh Desak Jembatan di Beutong Ateuh Segera Dibangun Permanen
Ahad, 19 April 2026 | 12:00 WIB
Banda Aceh, NU Online
Jalan nasional lintas Nagan Raya–Aceh Tengah di kawasan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, hingga kini masih mengandalkan jembatan darurat jenis Bailey.
Kondisi tersebut menuai perhatian masyarakat dan tokoh Nahdlatul Ulama di Aceh karena jalur itu merupakan salah satu akses vital yang menghubungkan wilayah Barat Selatan Aceh dengan kawasan tengah atau Tanah Gayo.
Wakil Ketua PWNU Aceh Tgk Iskandar Zulkarnaen menilai keberadaan jembatan darurat yang telah digunakan lebih dari lima bulan pascabencana alam menunjukkan perlunya langkah cepat dari pemerintah untuk menghadirkan infrastruktur yang lebih permanen dan aman bagi masyarakat.
Menurutnya, jembatan permanen sangat dibutuhkan agar mobilitas warga, distribusi barang, serta konektivitas antarwilayah tidak terus bergantung pada fasilitas darurat yang hanya bersifat sementara.
Sejumlah pengendara yang melintasi jalur tersebut juga menyampaikan harapan serupa. Mereka mengakui arus transportasi dari Nagan Raya menuju Takengon melalui Jalan Singgahmata selama ini masih berjalan lancar, tetapi kondisi jembatan Bailey dinilai belum menjawab kebutuhan jangka panjang masyarakat.
“Harapan kita jembatan Bailey bisa diganti dengan dibangun permanen seperti daerah lain yang kini sudah mulai dikerjakan,” kata Bukhari, seorang pengendara asal Nagan Raya, Sabtu (18/4/2026).
Bukhari mengatakan, masyarakat tidak mempersoalkan kelancaran lalu lintas semata, tetapi juga menginginkan jaminan keamanan dan kepastian pembangunan yang setara dengan daerah lain di Aceh.
“Daerah orang sudah mulai dibangun permanen. Kita minta daerah kita juga perlu dibangun permanen,” ujarnya.
Ia menambahkan, perhatian pemerintah pusat maupun Pemerintah Aceh perlu diberikan secara merata agar masyarakat di kawasan Beutong Ateuh tidak merasa terabaikan.
“Sehingga tidak terkesan anak tiri dan anak kandung oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Imran, pengendara lain yang rutin melintasi jalur Nagan Raya–Aceh Tengah. Ia menegaskan bahwa jalur Beutong Ateuh bukan sekadar akses biasa, melainkan penghubung strategis bagi masyarakat di wilayah Barat Selatan Aceh menuju kawasan tengah.
“Jalur Beutong Ateuh sebagai akses dari wilayah Barat Selatan Aceh ke wilayah tengah atau Tanah Gayo,” katanya.
Masyarakat berharap pemerintah segera menindaklanjuti kebutuhan tersebut dengan pembangunan jembatan permanen. Selain memperkuat konektivitas antarwilayah, kehadiran jembatan permanen juga dinilai penting untuk mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan sosial masyarakat yang selama ini bergantung pada jalur tersebut.