Nasional

Menemukan Cara Berdakwah dari Kehidupan Sehari-hari Masyarakat di Singkut Jambi

Ahad, 20 September 2026 | 06:00 WIB

Menemukan Cara Berdakwah dari Kehidupan Sehari-hari Masyarakat di Singkut Jambi

Dai Penggerak 3T mengisi pengajian di Singkut, September 2026 (NU Online Institute)

Sarolangun, NU Online

Menjajaki kehidupan di tempat baru membuat Rif’atus Syamsiyah seorang Dai 3T utusan NU Online Institute berhadapan dengan banyak hal yang berbeda dari kehidupan yang selama ini dikenalnya. Di Singkut, ia tidak hanya menemukan lingkungan yang berbeda, tetapi juga cara berbicara, kebiasaan, hingga cara masyarakat menjalani aktivitas sehari-hari.

 

Rif’atus bersama rekannya bertugas di PP Nurul Jadid Singkut, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Hari mereka tiba di lokasi dimulai dengan berkunjung ke rumah-rumah warga sekitar dan mengikuti pengajian rutin setiap Minggu bersama beberapa santri.

 

Bagi Rif’atus, proses mengenal lingkungan justru menjadi bagian penting dari pengabdiannya sebagai dai.

 

"Salah satu hal yang menarik ketika mulai beradaptasi dengan para santri di sini adalah melihat kebiasaan mereka menjalin aktivitas sehari-hari, cara pelafalan bahasa dan lainnya,” kata Rif’atus kepada NU Online, Sabtu (19/9/2026)

 

Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah cara berbicara masyarakat di sana yang selalu berakhiran “o”.

 

"Misalnya, kamu mau ke mana, ‘kau nak ke mano’, itu siapa, ‘itu siapo’,” ucap Rif’atus menirukan nada bicara orang Singkut.

 

Pengalaman itu membuat Rif’atus belajar untuk tidak buru-buru memberikan penilaian terhadap kebiasaan yang berbeda selama ia berada di pesantren.

 

Rifa bercerita ketika dirinya mengikuti kegiatan keagamaan masyarakat setempat. Ada kebiasaan yang cukup mengejutkannya ketika memanjatkan doa untuk menutup kegiatan.

 

Di daerah asal Rif’atus, suasana biasanya menjadi hening ketika doa dimulai. Namun, di tempat penugasannya, orang-orang yang hadir justru melafalkan “Aamiin ya Allah” secara bersama-sama mengikuti suara pembawa doa.

 

“Cukup mengejutkan bagi saya yang biasanya doa identik dengan keheningan, sekarang sedikit ditambah dengan senandung tersebut,” ujarnya.

 

Bagi Rif’atus, dakwah tidak selalu harus dimulai dengan ceramah panjang. Hadir dan melihat kebersamaan itu jauh lebih penting.

 

"Dakwah justru dimulai dari bagaimana kami bergaul, menghargai orang lain, ikut merasakan kehidupan mereka dan memberikan contoh yang baik melalui perilaku sehari-hari,” ujarnya.

 

Saat memasuki pesantren, ia melihat sumber air di pondok yang berwarna kuning. Rif’atus mengaku tidak mengetahui penyebabnya. Kondisi itu sempat membuatnya khawatir ketika pertama kali menggunakannya. Dengan nada bercanda, ia bertanya-tanya, “Bagaimana jika saya berubah menjadi manusia gold?”

 

Tantangan lain, jarak yang jauh dari pesantren membuat Rif’atus dan rekannya juga harus berjalan kaki menuju pasar yang berjarak sekitar dua kilometer. Lebih dari 4.000 langkah dilewati sebelum akhirnya bertemu ojek.

 

Mereka juga merasakan dampak kondisi lingkungan sekitar. Berita nasional mengenai kebakaran turut terasa di lokasi mereka meski kebakaran tidak berada tepat di sekitar tempat tinggal. Asapnya tetap dirasakan hingga anak-anak SD yang bersekolah di luar pondok harus mengikuti pembelajaran secara daring.

 

“Alhamdulillah sekarang sudah berangsur membaik, dan pembelajaran sudah berjalan normal,” ujarnya.

 

Bagi Rif’atus, semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses memahami tempat ia mengabdi.

 

“Karena bagi saya dan Mbak Putri, menjadi dai di daerah 3T bukan hanya tentang menyampaikan apa yang kita tahu, tapi juga tentang belajar dari masyarakat yang kami datangi. Kami datang membawa ilmu, tapi kami juga harus membawa sikap rendah hati,” katanya.

 

Ia menyadari akan selalu ada kebiasaan yang berbeda ketika seseorang datang ke lingkungan baru. Karena itu, menurutnya, tugas seorang dai bukan langsung mengubah semuanya, melainkan hadir dan membangun hubungan terlebih dahulu.

 

"Sebab dakwah yang baik menurut saya dan Mbak Putri bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa kamu sampaikan, tetapi juga tentang bagaimana kehadiran saya dan Mbak Putri bisa membuat santri merasa dihargai, diterima dan perlahan terdorong untuk menjadi lebih baik,” pungkasnya.

 

Di tempat yang jauh dari kota kelahirannya itu, Rif’atus menemukan bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar. Ia justru menemukannya dalam percakapan sehari-hari, kebiasaan masyarakat, perjalanan menuju pasar, pengajian, hingga kesediaan untuk memahami orang lain sebelum mengajarkan sesuatu kepada mereka.

 

Catatan Redaksi: Program Dai Penggerak 3T merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.

 

Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.