Mengendalikan Amarah ala Nabi, Gus Hilmy: Kekuatan Sejati Adalah Menaklukkan Diri Sendiri
Kamis, 26 Februari 2026 | 08:00 WIB
Pengasuh Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Yogyakarta, KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy) dalam pengajian Ramadhan Kitab Mabadi’ Khoiri Ummah yang tayang di akun Youtube Krapyak Official, Selasa (24/2/2026). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube Krapyak Official)
Jakarta, NU Online
Definisi kekuatan dalam pandangan Nabi Muhammad saw bukanlah tentang kemenangan fisik, melainkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya saat bergejolak amarah.
Hal tersebut disampaikan KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy), Pengasuh Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Yogyakarta, dalam pengajian Ramadhan Kitab Mabadi’ Khoiri Ummah yang tayang di akun Youtube Krapyak Official, Selasa (24/2/2026).
Ia mengatakan bahwa amarah sering kali menjadi pintu masuk bagi kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Mengacu pada hadis Rasulullah, Gus Hilmy menekankan bahwa pahlawan yang sebenarnya adalah mereka yang mampu tetap tenang saat badai emosi melanda.
“Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago berkelahi atau selalu menang dalam pergulatan fisik. Sebaliknya, orang yang kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya saat sedang marah," ucapnya.
Gus Hilmy menjelaskan bahwa pengendalian amarah berkaitan erat dengan keberanian moral atau asy-syaja’ah al-adabiyah.
“Menahan diri untuk tidak marah yang berlebihan sampai meledak saat merasa tersinggung memerlukan energi spiritual, energi kebatinan yang jauh lebih besar daripada sekadar membalas dengan kata-kata kasar atau kekerasan,” tuturnya.
Menurutnya, seorang mu'min harus memiliki prinsip insaf, yakni bersikap adil bahkan terhadap perasaan pribadinya. Amarah yang tidak terkendali sering kali menutupi objektivitas dan keadilan.
“Sering kali kita merasa berani saat berteriak atau memukul. Padahal, keberanian yang paling tinggi adalah saat kita mampu bersikap tenang dan tetap menyuarakan kebenaran tanpa harus kehilangan kendali atas diri kita sendiri,” ucap Gus Hilmy.
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga menyoroti fenomena masyarakat yang sering kali salah menempatkan amarah. Di satu sisi, banyak orang mudah marah untuk urusan pribadi yang sepele. Namun di sisi lain, mereka justru diam saat melihat kezaliman di depan mata.
“Kita jangan sampai menjadi umat yang penakut. Jika ada sesuatu yang salah dalam sistem atau masyarakat, kita harus berani menyampaikan pendapat. Namun, penyampaian itu harus berlandaskan pada keteguhan hati, bukan sekadar emosi yang meluap-luap,” kata Gus Hilmy.